Selasa, 02 Juni 2015

Tawasul : Kitab al is'adi fi jawazi tawasul

http://www.ebooks4islam.com/2015/05/blog-post_61.html

كتاب الاسعاد في جواز التوسل والاستمداد - عبد الهادي الخرسة

هام جدا : كل الكتب غير محمية بكلمة سر ولفتحها يرجى تحميل آخر اصدار برنامج
 من هنا Acrobat Reader
عنوان الكتاب : الاسعاد في جواز التوسل والاستمداد
المؤلف : عبد الهادي الخرسة
رابط التحميل : اضغط هنا


ddddddddddddddddddddddd
https://ia700505.us.archive.org/5/items/Rodoudach3ariya4/alis3ad.pdf

Lemari kitab pdf

1. http://ask2pdf.blogspot.com/2015/04/edaratrasool.html#.VW3jE1KdfRo

2/  http://www.ebooks4islam.com/search/label/%D9%83%D8%AA%D8%A8%20%D8%A7%D9%84%D8%B9%D9%82%D9%8A%D8%AF%D8%A9

Senin, 01 Juni 2015

Pemalsuan Kitab Minhajussunnah annabawiyah

Pemalsuan Kitab Minhajussunnah annabawiyah (Ibnu Taymiyah) yang menafikan arah bagi Allah


Lenyapnya Teks Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah
TIDAK HANYA AL-ASY’ARI, TEKS IBN TAIMIYYAH PUN LENYAP
Semoga kesalahan ini hanya kesalahan dipercetakan, bukan unsur kesengajaan. Dan semoga bermanfaat bagi ikhwah Salafi maupun ikhwah sarungan/tradisional dapat mengambil manfaat. Dan selalu memunculkan sikap kritis dan teliti dalam membaca Karya Para Ulama. Di bagian akhir catatan ini dicantumkan munaqasyah dengan perkataan Imam Abu Khanifah, Imam Sufyan Ibn ‘Uyainah, Imam Hammad Ibn Zaid, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hafizh al-Khithabi, Imam Abu Muhammad al-Muzni (guru Imam al-Hakim), al-Hafizh al-Baihaqi dan al-Hafizh Ibn al-Jawzi.
Bermula dari bolak-balik buku karya Ibn Taimiyyah di kamar asrama; Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, guna mencari bahan tugas akhir kuliah. Kejanggalan teks tiba-tiba terasa, pertama antara pembahasan sebelumnya agak terasa rancu dan tidak selaras dengan pembahasan setelahnya, kedua antara kata sebelum dengan sesudah terjadi jarak yang agak mencolok. Minhaj al-Sunnah ini adalah milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.
Rasa penasaran itu membawa hasrat untuk memastikan hal ini. Sorenya langsung berangkat ke Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Akhirnya kitab yang sama ditemukan, namun dengan cetakan berbeda. Cetakan yang dimiliki perpustakaan Darussunnah adalah Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah (sama dengan cetakan al-Ibanah yang kehilangan teks) 2 jilid font kecil, sementara yang dimiliki UIN adalah cetakan Mu’assasah Qurthubi 8 jilid font besar.
Sedikit rumit melakukan pencarian lantaran daftar isi tampil beda antara dua cetakan. Alhamdulillah hal yang dicari ditemukan. POSITIF, dengan perbandingan dua kitab, ternyata teks itu betul-betul hilang. Dengan analisa awal barangkali teks itu tidak banyak, namun fakta berkata lain.
Teks yang hilang (Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat -arah-) dalam kitab Minhâj al-Sunnah al-Nabawiyyah (dengan Hâmisy Bayân Muwâfaqah Sharîh al-Ma‘qûl li Shahîh al-Manqûl), cetakan Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz.1, hal.217, (teks yang benar-benar panjang untuk dilenyapkan mencapai 210 kata, 833 huruf), na‘ûdzu billah;
Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah. Milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.
Perhatikan Baris Ke Tiga Dari Atas (teks yang di dalam), dilingkari pensil. Di situlah posisi lenyapnya teks, antara kata عال عليهdan kata وإذا كان
Teksnya sebagai berikut;

ونفاة لفظ الجهة يذكرون من أدلتهم أن الجهات كلها مخلوقة وأنه كان قبل الجهة وأنه من قال إنه في جهة يلزمه القول بقدم شيء من العالم أو أنه كان مستغنيا عن الجهة ثم صار فيها وهذه الأقوال ونحوها إنما تدل على أنه ليس في شيء من المخلوقات سواء سمى جهة أو لم يسم وهذا حق، فإنه سبحانه منزه عن أن تحيط به المخلوقات أو أن يكون مفتقرا إلى شيء منها العرش أو غيره ومن ظن من الجهال أنه إذا نزل إلى سماء الدنيا كما جاء الحديث يكون العرش فوقه ويكون محصورا بين طبقتين من العالم فقوله مخالف لإجماع السلف مخالف للكتاب والسنة كما قد بسط في موضعه وكذلك توقف من توقف في نفى ذلك من أهل الحديث فإنما ذلك لضعف علمه بمعانى الكتاب والسنة وأقوال السلف، ومن نفى الجهة وأراد بالنفي كون المخلوقات محيطة به أو كونه مفتقرا إليها فهذا حق، لكن عامتهم لا يقتصرون على هذا بل ينفون أن يكون فوق العرش رب العالمين أو أن يكون محمد صلى الله عليه وسلم عرج به إلى الله أو أن يصعد إليه شيء وينزل منه شيء أو أن يكون مباينا للعالم بل تارة يجعلونه لا مباينا ولا محايثا فيصفونه بصفة المعدوم والممتنع وتارة يجعلونه حالا في كل موجود أو يجعلونه وجود كل موجود ونحو ذلك مما يقوله أهل التعطيل وأهل الحلول.

Teks ini terdapat dalam cetakan Mu’assasah Kordoba, cet.1, vol.1, hal.189.
Complete proof of The concept of “Bid’ah Hasanah and Bid’ah Dholalah” in the Classic Book [ 8 Scanned Kitab of Fathul bari (Ibn Hajar atsqalani) – Tahdib al asma wallughat – Syarah Muslim (Imam Nawawi) – Al nihayah (Ibn Athir) – al-Ahkam fi Usul al-Ahkam(Hazam al-Zahiri) -Qawa’idul Ahkam (Imam Izzudin) – Manaqib Imam Syafii (Imam Al baihaqi) – Muwafaqah (Ibn Taymiyah)


Complete proof of The concept of “Bid’ah Hasanah and Bid’ah Dholalah” in the Classic Book
Scanned Kitab of :
1.Fathul bari (Ibn Hajar atsqalani) : Hukum Bid’ah ada 5
2.  Tahdib al asma wallughat – Syarah Muslim (Imam Nawawi)
3. Al nihayah (Ibn Athir)
4.  al-Ahkam fi Usul al-Ahkam(Hazam al-Zahiri)
5. Qawa’idul Ahkam (Imam Izzudin)
6. Manaqib Imam Syafii (Imam Al baihaqi)
7.  Muwafaqah (Ibn Taymiyah)

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari

Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari, Published by Maktaba Dar ul Marifah, Beirut, Lebanon
Imam Ibn Hajar Asqalani (rah) said: The root meaning of innovation is what is produced without precedent. It is applied in the law in opposition to the Sunna and is therefore blameworthy. Strictly speaking, if it is part of what is classified as commendable by the law then it is a “Good innovation (hasana)”, while if it is part of what is classified as blameworthy by the law then it is blameworthy (mustaqbaha), otherwise it falls in the category of what is permitted indifferently (mubah). It can be divided into the known five categories.” “obligatory” (wajib), “forbidden” (haram), “recommended” (mandub), “disliked” (makruh), and “indifferently permitted” (mubah). [Fath ul Bari: Volume 004, Page No. 253]
Fath ul Bari Ba-Sharah Sahih al-Bukhari, Diterbitkan oleh Dar ul Maktaba Marifah, Beirut, Lebanon
Imam Ibnu Hajar Asqalani (rah) mengatakan: Akar kata dari bid’ah (inovasi) adalah apa yang diproduksi tanpa contoh/preseden. Hal ini diterapkan dalam hukum bertentangan dengan Sunnah dan karena itu tercela. Sebenarnya, jika itu adalah bagian dari apa yang diklasifikasikan sebagai terpuji/baik oleh hukum maka itu adalah sebuah “inovasi baik (Bid’ah Hasanah)”, sementara jika itu adalah bagian dari apa yang diklasifikasikan sebagai tercela oleh hukum maka “bid’ah dolalah/tercela (mustaqbaha), selain itu jatuh dalam kategori  “mubah”. Hal ini dapat dibagi ke dalam lima kategori dikenal “” wajib “(wajib),” terlarang “(haram).,” Direkomendasikan “(mandub),” menyukai “(makruh), dan” tak peduli diijinkan “(mubah). [Fath ul Bari: Volume 004, No 253 Halaman]
f45
f46

Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat, Imam Nawawi : Hukum Bid’ah ada 5

Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat, Imam Nawawi, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut/Lebanon
Shaykh al-Islam, Imam al-Nawawi said: al-Bid`ah in the Law is the innovating of what did not exist in the time of the Messenger of Allah and is divided into “excellent” and “bad” (wahya munqasimatun ila h.asana wa qabih.a). The Shaykh, the Imam on whose foremost leadership, greatness, standing, and brilliance in all kinds of Islamic sciences there is consensus, Abu Muh.ammad `Abd al-`Aziz ibn `Abd al-Salam – Allah have mercy on him and be well-pleased with him! – said toward the end of his book, al-Qawa`id [al-Kubra]: “Innovation is divided into ‘obligatory’ (wajiba), ‘forbidden’s (muh.arrama), ‘recommended’s (manduba), ‘offensive’s (makruha), and ‘indifferent’s (mubaha). The way [to discriminate] in this is that the innovation be examined in the light of the regulations of the Law (qawa`id al-shari`a).If it falls under the regulations of obligatoriness (ijab) then it is obligatory; under the regulations of prohibitiveness (tah.rim) then it is prohibited; recommendability, then recommended; offensiveness, then offensive; indifference, then indifferent.”
Imam Nawawi said Imam Bayhaqi Narrated with sound chain Imam Shafi’I said: Innovation is two types (al-bid`atu bid`atân): approved innovation (bid`a mah.mûda) and disapproved innovation (bid`a madhmûma). Whatever conforms to the Sunna is approved (mah.mûd) and whatever opposes it is abominable (madhmûm).’ He used as his proof the statement of `Umar ibn al-Khat.t.âb (ra) about the [congregational] supererogatory night prayers in the month of Ramad.ân: “What a fine innovation this is!” [Tahdhib al-Asma’ wa al-Lughat, Imam Nawawi, Volume 003, Page 23]
Abu al-Asma ‘wa al-Lughat, Imam Nawawi, Publish: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut / Lebanon
Syaikh al-Islam, Imam al-Nawawi mengatakan: al-Bid `ah dalam Hukum tersebut adalah inovasi dari apa yang tidak ada pada zaman Rasulullah dan dibagi menjadi” baik “dan” buruk “(Wahya munqasimatun ila h.asana wa qabih.a). Syaikh, Imam pada yang kepemimpinannya terpenting, kebesaran, berdiri, dan kecemerlangan di semua jenis ilmu Islam ada konsensus, Abu Muh.ammad `Abd al-` Aziz ibn `Abd al-Salam – Allah merahmatinya dan menjadi well-senang dengan dia! – Mengatakan menjelang akhir bukunya, al-Qawa `id [al-Kubra]:” Inovasi dibagi menjadi ‘wajib’ (wajiba), ‘(muh.arrama) terlarang itu,’ direkomendasikan ‘s (manduba),’ ofensif ‘s (makruha ), dan ‘s acuh tak acuh (mubaha). Cara [membedakan] dalam hal ini adalah bahwa inovasi akan diperiksa dalam terang peraturan Hukum (qawa `id al-shari` a) Jika jatuh di bawah peraturan obligatoriness (ijab) maka wajib.; di bawah peraturan prohibitiveness (tah.rim) maka dilarang; recommendability, kemudian direkomendasikan, offensiveness, kemudian ofensif;. ketidakpedulian, kemudian acuh tak acuh ”
Imam Nawawi mengatakan Imam Baihaqi Dikisahkan dengan rantai suara Imam Syafi’I mengatakan: Inovasi adalah dua jenis (al-`atu tawaran tawaran` Atan): inovasi disetujui (bid `a mah.mûda) dan inovasi ditolak (bid` a madhmûma). Apapun sesuai dengan Sunnah disetujui (mah.mûd) dan apa pun menentang itu keji (madhmûm). ‘Dia digunakan sebagai bukti nya pernyataan ‘Umar ibn al-Khat.t.âb (ra) tentang shalat malam [jemaat] sunnah di bulan Ramad.ân: “Betapa baiknya Bid’ah  ini” [Abu al-Asma ‘wa al-Lughat, Imam Nawawi, Volume 003, Page 23]
f42
f43f44

Sahih Muslim bi Sharah Imam al-Nawawi

Sahih Muslim bi Sharah Imam al-Nawawi, Publish: Beirut: Dar al-Fikr

f47
f48f49

Imam Ibn Athir, al-Nihayah fi Garib al-Hadith wa al-Athar

Imam Ibn Athir, al-Nihayah fi Garib al-Hadith wa al-Athar, Publish: Dar al-Ihyah al-Turath al-Arabi, Beirut, Lebanon
Imam Imam Ibn Athir said: “Bid`a is two kinds: the bid`a of guidance and the bid`a of misguidance (bid`atu hudâ wa-bid`atu d.alala). Whatever contravenes the command of Allah and His Messenger : that is within the sphere of blame and condemnation. And whatever enters into the generality of what Allah or His Prophet commended or stressed: that is within the sphere of praise. Whatever has no precedent such as extreme generosity or goodness – such are among the praiseworthy acts. It is impermissible that such be deemed to contravene the Law because the Prophet has stipulated that such would carry reward when he said: “Whoever institutes a good practice in Islâm (man sanna fil-islami sunnatan h.asana) has its reward and the reward of all those who practice it.” And he said, conversely, “whoever institutes a bad practice in Islam (waman sanna fil-islami sunnatan sayyi’atan) bears its onus and the onus of all those who practice it.” [Narrated from Jarir Ibn Abd Allah al-Bajali by Muslim] Such is when the act goes against what Allah and His Messenger commanded…. It is in this sense that the hadith “every innovation is misguidance” [Bukhari, Muslim] is understood: he means, whatever contravenes the bases of the Law and does not concur with the Sunna.” [Imam Ibn Athir, al-Nihayah fi Garib al-Hadith wa al-Athar, Volume 001, Page 106-7]

Imam Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Garib al-Hadits wa al-Athar, Publish: Dar al-Ihyah al-Turath al-Arabi, Beirut, Lebanon
Imam Imam Ibn Atsir mengatakan: “Bid` adalah dua macam: tawaran `a bimbingan dan tawaran` a dari kesesatan (bid `atu huda wa-bid` atu d.alala). Apapun bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya: yang berada dalam lingkup menyalahkan dan kutukan. Dan segala sesuatu yang masuk ke dalam umum dari apa yang Allah atau Nabi-Nya memuji atau stres: yang berada dalam lingkup pujian. Apapun tidak memiliki preseden seperti kedermawanan ekstrim atau kebaikan – seperti antara tindakan terpuji. Tidak diizinkan bahwa seperti dianggap bertentangan dengan syariat karena Nabi telah menetapkan bahwa seperti akan membawa hadiah ketika ia berkata: “Barangsiapa lembaga praktik yang baik dalam Islam (man sanna fil-islami sunnatan h.asana) memiliki pahala dan pahala dari semua orang yang melakukannya “dan dia berkata, sebaliknya,”. siapapun lembaga praktek yang buruk dalam Islam (waman sanna fil-islami sunnatan sayyi’atan) beruang tanggung jawab dan tanggung jawab dari semua orang yang melakukannya. “[Diriwayatkan dari Jarir Ibn Abd Allah al-Bajali Muslim] tersebut adalah ketika tindakan tersebut bertentangan dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya memerintahkan …. Hal ini dalam arti bahwa hadits “setiap inovasi adalah sesat” [Bukhari, Muslim] dipahami:. Ia berarti, apapun yang bertentangan dengan dasar hukum dan tidak setuju dengan Sunnah “[Imam Ibnu Atsir, al-Nihayah fi Garib al-Hadits wa al-Athar, Volume 001, Halaman 106-7]
f50
f51f52

al-Ahkam fi Usul al-Ahkam, By Ibn Hazam al-Zahiri

al-Ahkam fi Usul al-Ahkam, By Ibn Hazam al-Zahiri, Publish, Dar al Hadith, Beirut/Lebanon
Ibn Hazam al-Zahiri on Bidah He Said: Bid`ah in the Religion is everything that did not come to us in the Qur’an nor from the Messenger of Allah , except that one is rewarded for some of it and those who do this are excused if they have good intentions. Of it is the rewardable and excellent (hasan), namely, what is originally permitted (ma kana as.luhu al-ibah.a) as was narrated from `Umar (ra): “What a fine bid`ah this is!” Such refers to all good deeds which the texts stipulated in general terms of desirability even if its practice was not fixed in the text. And of it is the blameworthy for which there is no excuse such as what has proofs against its invalidity. [al=Ahkam fi Usul al-Ahkam, Volume 001, Page No. 47]
al-Ahkam fi Ushul al-Ahkam, Oleh Ibnu Hazam al-Zahiri, Publish, Dar al Hadits, Beirut / Lebanon
Ibn Hazam al-Zahiri on bidah Dia Said: Bid `ah dalam Agama adalah segala sesuatu yang tidak datang kepada kita dalam Al-Qur’an maupun dari Rasulullah, kecuali bahwa seseorang dihargai untuk sebagian dan mereka yang melakukan hal ini yang dimaafkan jika mereka memiliki niat yang baik. Dari itu adalah pahala dan sangat baik (hasan), yaitu, apa yang awalnya diizinkan (ma kana as.luhu al-ibah.a) seperti yang diriwayatkan dari Umar (ra): “betapa baiknya bidah ini! “tersebut mengacu pada semua perbuatan baik yang teks diatur dalam syarat-syarat umum keinginan bahkan jika praktiknya tidak tetap dalam teks. Dan itu adalah tercela yang tidak ada alasan seperti apa yang memiliki bukti terhadap ketidakabsahannya. [al Ahkam fi Ushul = al-Ahkam, Volume 001, No 47 Halaman]
f36
f37

PEMBAGIAN BID’AH MENURUT IMAM ‘IZZUDDIN BIN ABDUS SALAM (Kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam”)

 

Di dalam kitab “Qawa’idul Ahkam fi Mashalihul Anam” karya Imam ‘Izzuddin bin Abdussalam (wafat 660 H/ 1262 M) cetakan “Al-Maktabah Al-Husainiyah” Mesir tahun 1353 H / 1934 M juz 2 halaman 195 diterangkan sebagai berikut:Artinya: “Bid’ah adalah suatu pekerjaan yang tidak dikenal di zaman Rasulullah saw”.
Bid’ah terbagi ke dalam 5 bagian, yaitu: 1. Bid’ah Wajib, 2. Bid’ah Haram, 3. Bid’ah Sunnah, 4. Bid’ah Makruh, dan 5. Bid’ah Mubah.
Adapun cara untuk mengetahui kelima bid’ah tersebut adalah engkau harus menjelaskan tentang bid’ah berdasarkan atas kaedah-kaedah hukum syara’.
Maka seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang kewajiban bid’ah, maka disebut bid’ah wajib. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah tentang keharaman bid’ah, maka disebut bid’ah haram. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kesunnahan bid’ah, maka disebut bid’ah sunnah. Seandainya engkau masuk di dalam kaedah-kaedah kebolehan bid’ah, maka disebut bid’ah mubah.
I. Contoh Bid’ah Wajib:
1.  Sibuk belajar ilmu nahwu untuk tujuan memahami Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Bid’ah tersebut hukumnya wajib, karena memelihara syari’at juga hukumnya wajib. Tidak mudah memelihara syari’at terkecuali harus mengetahui ilmu nahwu. Kata kaedah ushul fiqih: “Maa laa yatimmul waajibu illa bihi fahuwa wajibun”. Artinya: “Sesuatu yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya wajib”.
2. Memelihara bahasa Al-Qur’an dan Hadits yang memiliki arti yang asing (perlu penjelasan yang tepat dan benar).
3. Pembukuan Ilmu Ushul Fiqih.
4. Al-Kalam fil Jarhi wat Ta’dil (kalam seorang perawi hadits yang menyebabkan periwayatan haditsnya ditolak atau dilemahkan terhadap suatu hadits) dengan tujuan untuk membedakan hadits yang shahih dari yang tidak shahih.
Sesungguhnya kaedah-kaedah syari’at Islam menunjukkan bahwa memelihara syari’at itu hukumnya fardhu kifayah di dalam sesuatu yang berlebih atas kadar yang ditentukan.
Tidaklah mudah memeliharta syari’at  terkecuali dengan sesuatu yang diceritakan di atas.
II. Contoh Bid’ah Haram.
Di antaranya: Golongan Qadariyah, Jabariyah, Murji’ah, dan Mujassimah. Menolak terhadap mereka termasuk bid’ah yang wajib.
III. Contoh Bid’ah Sunnah.
Di antaranya: Memperbaharui pesantren dan madrasah, membangun jembatan, mengerjakan perbuatan bagus yang tidak ada di masa permulaan Islam,  mengerjakan shalat tarawih (berjama’ah), ucapan tasawuf yang mengandung pengertian yang dalam, dan ucapan di dalam perdebatan untuk mencari dalil dalam menghimpun masalah-masalah hukum dengan tujuan mencari ridha Allah swt.
IV. Contoh Bid’ah Makruh.
Di antaranya menghiasi masjid, dan menghiasi mashaf. Adapun membaca Al-Qur’an secara “Lahn (keliru dalam bacaan I’rabnya)” sekira-kira berubah lafadz-lafadznya, maka menurut pendapat ulama yang benar adalah termasuk bid’ah haram.
Contoh Bid’ah Mubah.
Di antaranya: Bersalam-salaman sesudah shalat shubuh dan ‘ashar, meluaskan yang enak-enak seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, memakai pakaian panjang, dan meluaskan lengan baju.
Sebagian bid’ah mubah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama menjadikannya bid’ah makruh, dan sebagian yang lain menjadikannya sunnah-sunnah yang dilakukan di masa Rasulullah saw dan sesudah masa beliau, seperti membaca “Isti’adzhah  
(أعوذ بالله من الشيطان الرجيم)”   di dalam shalat dan basmalah.

SCAN KITAB ASLI MANAQIB IMAM SYAFII ‘ALA IMAM BAIHAQI DAN KITAB IBNU TAYMIYAH : IMAM SYAFII BAGI 2 BID’AH (BID’AH HASANAH DAN BID’AH DLOLALAH)

Bagaimana pandangan Al-Imam asy-Syafi’i tentang Bid’ah Hasanah ?
Imam Syafi’i Rahimahullah berkata :
الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ :
أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ،
وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ
Perkara-perkara baru itu terbagi menjadi dua macam :
Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar, perkara baru semacam ini adalah bid’ah yang sesat (Bid’ah Dholalah).
Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan tidak menyalahi satu pun dari al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka perkara baru seperti ini tidak tercela (Bid’ah Hasanah).
(Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i –Jilid 1- Halaman 469).
Lihat Scan Kitab Manaqib asy-Syafi’i di bawah ini


Bukti Ibnu Taymiyah membagi Bid’ah menjadi 2 : Bid’ah hasanah dan bid’ah dlolalah (mengakui pendapat imam Syafii dan ijma ulama sunni)

Kitab : “Muwafaqah Sharih al-MMa’qul Li Shahih al-Manqul”
Penulis : Ibnu taymiyah
Halaman : 144 – 145
Tarjamah :  ” Berkata Imam Syafi’i ra. : Bidah terbagi menjadi dua, (1) bidah yang menyalahi perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah dlolalah. (2)  sedangkan Bid’ah yang bidah yang tidak menyalahi (sesuai) dengan perkara yang wajib atau sunnah atu ijma atau atsar sebagian para sahabat maka  ini disebut Bid’ah hasanah.

Reference:
http://www.islamieducation.com/en/bidah/al-ahkam-fi-usul-al-ahkam-by-ibn-hazam-al-zahiri.html
http://syeikhnawawial-bantani.blogspot.com/2011/12/pembagian-bidah-menurut-imam-izzuddin.html

Paham paham Yang Wajib Di Revisi

Paham paham Yang Wajib Di Revisi

PAHAM-PAHAM YANG HARUS DILURUSKAN


[KITAB MAFAHIM YUJIB AN TUSHOHHAH]


[Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani]

 

مفاهيم يجب أن تصحح

 

لسليل بيت العلم والتقى الدكتور محمد علوي المالكي الحسني

 

خادم العلم الشريف بالبلد الحرام

 

الناشر: دار جوامع الكلم – الدراسة – القاهرة

 

موقف الشيخ محمد بن عبد الوهاب

 

وقد وقف الشيخ محمد بن عبد الوهاب رحمه الله في هذا الميدان موقفاً عظيماً ، قد يستنكره كثير ممن يدعي أنه منسوب إليه ومحسوب عليه ، ثم يكيل الحكم بالتكفير جزافاً لكل من خالف طريقته ونبذ فكرته ، وها هو الشيخ محمد ابن عبد الوهاب ينكر كل ما ينسب إليه من هذه التفاهات والسفاهات والافتراءات فيقول ضمن عقيدته في رسالته الموجهة لأهل القصيم قال : ثم  لا يخفى عليكم أنه بلغني أن رسالة سليمان بن سحيم قد وصلت إليكم وأنه قبلها وصدقها بعض المنتمين للعلم في جهتكم ، والله يعلم أن الرجل افترى عليَّ أموراً لم أقلها ولم يأت أكثرها على بالي .

 

فمنها : قوله : إني مبطل كتب المذاهب الأربعة ، وإني أقول : إن الناس من ستمائة سنة ليسوا على شيء ، وإني أدعي الاجتهاد ، وإني خارج عن التقليد ، وإني أقول : إن اختلاف العلماء نقمة ، وإني أكفر من توسل بالصالحين ، وإني أكفر      البوصيري لقوله : يا أكرم الخلق ، وإني أقول : لو أقدر على هدم قبة رسول الله     لهدمتها ، ولو أقدر على الكعبة لأخذت ميزابها وجعلت لها ميزاباً من خشب ، وإني أحرم زيارة قبر النبي  ، وإني أنكر زيارة قبر الوالدين وغيرهما ، وإني أكفر   من حلف بغير الله ، وإني أكفر ابن الفارض وابن عربي ، وإني أحرق دلائل الخيرات وروض الرياحين ، وأسميه روض الشياطين .

 

جوابي عن هذه المسائل : أن أقول :  سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ  ، وقبله من بهت محمداً صلى الله عليه وسلم أنه يسب عيسى بن مريم ، ويسب الصالحين ، فتشابهت قلوبهم بافتراء الكذب ، وقول زور . قال تعالى :  إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ  الآية ، بهتوه صلى الله عليه وسلم بأنه يقول : إن الملائكـة وعيسى وعزيراً في النار ، فأنزل الله في ذلك :  إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ   .

 

أنظر الرسالة الأولى من الرسائل الشخصية ضمن مجموعة مؤلفات الشيخ الإمام محمد بن عبد الوهاب المنشورة باهتمام جامعة الإمام محمد بن سعود الإسلامية .


SIKAP SYAIKH MUHAMMAD IBN ‘ABDUL WAHHAB MENYANGKUT


PENGKAFIRAN


Syaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab Rahimahullah memiliki sikap mulia dalam hal


pengkafiran. Sebuah sikap yang dipandang aneh oleh mereka yang mengklaim sebagai pendukungnya kemudian memvonis kafir secara serampangan terhadap siapapun yang berbeda jalan dan menolak pemikiran mereka. Padahal Syaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab sendiri menolak semua pandangan-pandangan tak berharga yang dialamatkan kepadanya. Dalam sebuah risalah yang dikirimkannya kepada penduduk Qashim pada bahasan tentang aqidah ia menulis sebagai berikut:

 

“Telah jelas bagi kalian bahwa telah sampai kepadaku berita mengenai risalah Sulaiman ibn Suhaim yang telah sampai kepada kalian dan bahwa sebagian ulama di daerah kalian menerima dan membenarkan isi risalah tersebut. Allah mengetahui bahwa Sulaiman ibn Suhaim mengada-ada atas nama saya ucapan-ucapan yang tidak pernah aku katakan dan kebanyakan tidak terlintas sama sekali di hatiku”.


“Diantaranya ucapan Sulaiman bahwa saya menganggap sesat semua kitab madzhab empat Bahwa manusia semenjak 600 tahun yang silam tidak menganut agama yang benar. Saya mengklaim mampu berijtihad dan lepas dari taqlid. Perbedaan para ulama adalah malapetaka dan saya mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orangorang shalih, dan saya mengkafirkan Imam Al-Bushoiri karena ucapannya: “Wahai Makhluk paling mulia”. “Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam maka saya akan melakukannya dan jika mampu mengambil talang Ka’bah yang terbuat dari emas maka saya akan menggantinya dengan talang kayu. Saya mengharamkan ziarah ke makam Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, mengingkari ziarah ke makam kedua orang tua dan makam orang lain, saya mengkafirkan orang yang bersumpah dengan selain Allah, mengkafirkan Ibnu Faridl dan Ibnu ‘Araby, dan bahwasanya saya membakar kitab Dalailul Khairaat dan Raudlul Rayaahin yang kemudian saya namakan Raudlul Syayaathiin”.


”Jawaban saya atas tuduhan telah mengucapkan perkataan-perkataan di atas adalah firman allah :

 

سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ


Artinya : “Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.”

(Q.S. An-Nuur : 16)


Sebelum apa yang saya alami terjadi, peristiwa mirip pernah dialami Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam. Beliau dituduh telah memaki Isa ibn Maryam dan orang-orang shalih. Hati mereka yang melakukan perbuatan terkutuk ini sama persis sebab menciptakan kebohongan dan ucapan palsu. Allah berfirman :

 

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللّهِ

 

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah.” (Q.S. An-Nahl : 105)


Kafir Quraisy melontarkan tuduhan palsu bahwa Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam mengatakan bahwa Malaikat, Isa dan ‘Uzair berada di neraka. Lalu Allah menurunkan firman-Nya :

 

إِنَّ الَّذِينَ سَبَقَتْ لَهُم مِّنَّا الْحُسْنَى أُوْلَئِكَ عَنْهَا مُبْعَدُونَ


“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, Mereka itu dijauhkan dari neraka.”(Q.S. Al-Anbiyaa` : 101)

 

رسالة مهمة أخرى للشيخ في الموضع

 

هذه رسالة أرسلها الشيخ محمد بن عبد الوهاب إلى السويدي عالم من أهل العراق ، وكان قد أرسل له كتاباً وسأله عما يقول الناس فيه ، فأجابه بهذه الرسالة : قال فيها :

 

إن إشاعة البهتان بما يستحي العاقل أن يحكيه فضلاً عن أن يفتريه مما قلتم : أنني أكفر جميع الناس إلا من اتبعني ، ويا عجباً كيف يدخل هذا في عقل عاقل ، وهل يقول هذا مسلم ؟  وما قلتم : لو أنني أقدر على هدم قبة النبي صلى الله عليه وسلم لهدمتها ، وفي دلائل الخيرات وحرمته ، وأنهى عن الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم بأي النظم كان ، فهذا من البهتان ، والمسلم لا يظن من قلبه أجلّ من كتاب الله .

 

وفي صحيفة 64 من نفس الكتاب قال رحمه الله : وما قلتم : أنني أكفر من توسل بالصالحين ، وأكفر البوصيري لقوله : يا أكرم الخلق ، وأنكر زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، وأنكر زيارة قبور الوالدين وغيرهم ، وأكفر من حلف بغير الله .

 

جوابي على ذلك أقول : سبحانك هذا بهتان عظيم .

 

أنظر القسم الخامس – الرسائل الشخصية ص37 من مجموعة مؤلفات الشيخ -.

 

RISALAH PENTING LAIN KARYA SYAIKH MUHAMMAD IBN ABDUL WAHHAB DALAM MASALAH PENGKAFIRAN


Risalah ini dikirimkan kepada As-Suwaidi, seorang ulama Iraq. Sebelumnya As-Suwaidi mengirimkan buku dan menanyakan mengenai apa yang diperbincangkan masyarakat. Kemudian Syaikh menjawab dalam risalahnya:


”Tersebarnya kebohongan adalah hal yang membuat orang yang berakal merasa malu untuk menceritakannya apalagi untuk membuat-buat hal-hal yang tidak ada faktanya. Sebagian dari apa yang kalian katakan adalah bahwasanya saya mengkafirkan semua orang kecuali mereka yang mengikutiku. Sungguh aneh, bagaimana mungkin kebohongan ini masuk ke akal orang yang berakal? Dan bagaimana mungkin seorang muslim akan melontarkan ucapan demikian?” “Dan apa yang kalian katakan : Seandainya saya mampu meruntuhkan kubah Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, niscaya saya akan merealisasikannya, membakar dalailul khairaat jika mampu dan melarang bersholawat kepada Nabi dengan ungkapan sholawat apapun. Perkataan-perkataan ini dikategorikan kebohongan. Dalam hati seorang muslim tidak terbesit dalam hatinya sesuatu yang lebih agung melebihi Al-Qur’an.”

 

Pada halaman 64 dari kitab yang sama Syaikh berkata : “Apa yang kalian katakan bahwa saya telah mengkafirkan orang yang melakukan tawassul dengan orang-orang shalih, mengkafirkan Bushiri karena ungkapannya : Wahai makhluk paling mulia, mengingkari diperkenankannya ziarah kubur Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, kuburan kedua orang tua dan kuburan-kuburan orang lain serta mengkafirkan orang yang bersumpah menggunakan nama selain Allah, maka jawaban saya atas semua tuduhan ini adalah Firman Allah:

 

سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ


“Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.”(Q.S. An-Nuur : 16)


[Lihat: Bagian kelima Ar-Rosail Asy-Syakhshiyah hal. 37 dari ensiklopedi kitab karangan Muhammad bin Abdul Wahhab]

 

سباب المسلم فسوق وقتاله كفر

 

إعلم أنّ كراهة المسلمين ومقاطعتهم ومدابرتهم محرّمة وكان سباب المسلم فسوقاً وقتاله كفراً إذا استحل .

 

وكفى رادعاً في هذا الباب حديث خالد بن الوليد رضي الله عنه في سريته إلى بني جذيمة يدعوهم إلى الإسلام ، فلما انتهى إليهم تلقوه ، فقال لهم : أسلموا ، فقالوا : نحن قوم مسلمون ، قال : فألقوا سلاحكم وانزلوا ، قالوا : لا والله ما بعد وضع السلاح إلا القتل ما نحن بآمنين لك ولا لمن معك ، قال خالد فلا أمان لكم إلا أن تنزلوا فنزلت فرقة منهم وتفرقت بقية القوم

 

وفي رواية انتهى خالد إلى القوم فتلقوه ، فقال لهم ما أنتم أي : أمسلمون ؟ أم كفار ؟ قالوا : مسلمون قد صلينا وصدقنا بمحمد صلى الله عليه وسلم وبنينا المساجد في ساحتنا وأذنا فيها ، وفي لفظه لم يحسنوا أن يقولوا : أسلمنا ، فقالوا: صبأنا صبأنا ، قال فما بال السلاح عليكم ؟ قالوا : إن بيننا وبين قوم من العرب عداوة فخفنا أن تكونوا هم فأخذنا السلاح ، قال : فضعوا السلاح فوضعوا، فقال : استأسروا فأمر بعضهم فكتف بعضاً وفرقهم في أصحابه فلما كان السحر نادى منادي خالد : من كان معه أسير فليقتله ، فقتل بنو سليم من كان معهم  وامتنع المهاجرون والأنصار رضي الله عنهم ، وأرسلوا أسراهم فلما بلغ النبي صلى الله عليه وسلم ما فعل خالد ، قال : اللهم إني أبرأ إليك مما صنع خالد ، قال ذلك مرتين .

 

وقد يقال أن خالداً فهم أنهم قالوا ذلك على سبيل الأنفة وعدم الانقياد إلى الإسلام وإنما أنكر عليه صلى الله عليه وآله وسلم العجلة وعدم التثبت في أمرهم قبل أن يعلم المراد من قولهم صبأنا ، وقد قال عليه الصلاة والسلام نعم عبد الله أخو العشيرة خالد بن الوليد سيف من سيوف الله سله الله على الكافرين والمنافقين .

 

وكذلك قصة أسامة بن زيد حب رسول الله وابن حبه فيما رواه عنه البخاري عن أبي ظبيان قال : سمعت أسامة بن زيد يقول : بعثنا رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى الحرقة ، فصبحنا القوم فهزمناهم ولحقت أنا ورجل من الأنصار رجلاً منهم ، فلما غشيناه قال : لا إله إلا الله ، فكف الأنصاري عنه وطعنته  برمحي حتى قتلته ، فلما قدمنا بلغ النبي صلى الله عليه وآله وسلم  ، فقال :  يا أسامة ! أقتلته بعدما قال : لا إله إلا الله ، قلت : كان متعوذاً ، فما زال يكررها حتى تمنيت أني لم أكن أسلمت ذلك اليوم ، وفي رواية أخرى أن رسول     الله صلى الله عليه وسلم قال له : ألا شققت على قلبه ، فتعلم أصادق أم كاذب  قال أسامة : لا أقاتل أحداً يشهد أن لا إله إلا الله .

 

وقد سئل علي – رضي الله عنه – عن المخالفين له من الفرق أكفار هم ؟  قال : لا ، إنهم من الكفر فروا ، فقيل : أمنافقون هم ؟ فقال : لا ، إن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلاً ، وهؤلاء يذكرون الله كثيراً ، فقيل : أي شيء هم ؟  قال : قوم أصابتهم الفتنة فعموا وصمُّوا .

 

MEMAKI ORANG ISLAM ADALAH TINDAKAN FASIQ DAN MEMERANGINYA ADALAH TINDAKAN KUFUR


Ketahuilah bahwa membenci, memboikot dan berseberangan dengan kaum muslimin adalah haram, memaki orang Islam adalah tindakan fasiq dan memeranginya adalah tindakan kufur jika menilai tindakan tersebut adalah halal.


Kisah mengenai Khalid ibn Walid bersama pasukannya ketika menuju Bani Jadzimah untuk mengajak mereka masuk Islam cukup digunakan untuk menolak pemahaman harfiah (literal) dari judul di atas. Saat Khalid tiba di tempat mereka, mereka menyambutnya. Lalu Khalid mengeluarkan instruksi, “Peluklah agama Islam!”. “ Kami adalah kaum muslimin,” Jawab mereka. “ Letakkan senjata kalian dan turunlah.” Lanjut Khalid. “Tidak, demi Allah. Karena setelah senjata diletakkan pasti ada pembunuhan. Kami tidak bisa mempercayai kamu dan orang-orang yang bersama kamu.” Jawab mereka kembali. “Tidak ada perlindungan buat kalian kecuali jika kalian mau turun,” Kata Khalid. Akhirnya sebagian kaum menuruti perintah Khalid dan sisanya tercerai-berai.


Dalam riwayat lain redaksinya sebagai berikut : Ketika Khalid tiba bertemu mereka, mereka menyambutnya. Lalu Khalid bertanya, “Siapakah kalian? Apakah kaum muslimin atau kaum kafir?”. “Kami adalah kaum muslimin yang menjalankan sholat, membenarkan Muhammad, membangun masjid di tanah lapang kami dan mengumandangkan adzan di dalamnya.” Jawab mereka. Dalam lafadz hadits, mereka tidak bisa mengucapkan Aslamnaa (Kami berserah diri), akhirnya mereka mengatakan Shoba’naa. Shoba’naa. “ Buat apa senjata yang kalian bawa?, tanya Khalid. “Ada permusuhan antara kami dan sebuah kaum Arab. Oleh karena itu kami khawatir kalian adalah mereka hingga kami pun membawa senjata.” Jawab mereka. “ Letakkan senjata kalian!” Perintah Khalid. Mereka pun mengikuti perintah Khalid untuk meletakkan senjata. “Menyerahlah kalian semua sebagai tawanan!” Lanjut Khalid. Kemudian Khalid menyuruh sebagian dari kaum untuk mengikat sebagian yang lain dan membagikan mereka kepada pasukannya.


Ketika tiba waktu pagi, juru bicara Khalid berteriak : “Siapapun yang memiliki tawanan bunuhlah ia!”. Maka Banu Sulaim membunuh tawanan mereka. Namun kaum Muhajirin dan Anshor menolak perintah ini. Mereka malah melepaskan para tawanan. Ketika tindakan Khalid ini sampai kepada Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata, “ Ya Allah, saya tidak bertanggung jawab atas tindakan Khalid.” Beliau mengulang ucapan ini dua kali.


Ada pendapat yang menyatakan bahwa Khalid mengira mereka mengatakan Shoba’naa dengan angkuh dan menolak tunduk kepada Islam. Hanya saja yang disesalkan Rasulullah adalah ketergesa-gesaan dan ketidak hati-hatiannya dalam menangani kasus ini sebelum mengetahui terlebih dulu apa yang dimaksud dengan  Shoba’naa. Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah mengatakan :


 “Sebaik-baik hamba Allah adalah saudara kabilah Quraisy ; Khalid ibn Walid, salah satu pedang Allah yang terhunus untuk menghancurkan orang-orang kafir dan munafik”.


Persis seperti apa yang dialami Khalid adalah peristiwa yang menimpa Usamah ibn Zaid kekasih dan putra kekasih Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam berdasarkan hadits yang diriwayatkan Al-Bukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata, “Saya mendengar Usamah ibn Zaid berkata, “Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam mengirim kami ke desa Al-Huraqah. Kemudian kami menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshar mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.


Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata, “La Ilaaha illallah”. Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshor mengurungkan niat untuk membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di Madinah, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya lakukan. Beliau pun berkata, “ Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengatakan Laa Ilaaha illallah?!” “Dia hanya berpura-pura,” Jawabku. Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk Islam pada hari tersebut.


Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Usamah, “Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-sungguh atau berpura-pura?”. “Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Kata Usamah.


Sayyidina Ali ra. pernah ditanya mengenai kelompok-kelompok yang menentangnya, “Apakah mereka kafir ?”, “Tidak,” jawab Ali, “Mereka adalah orang-orang yang menjauhi kekufuran”. “Apakah mereka kaum munafik?”. “Bukan, orang-orang munafik hanya sekelebat mengingat Allah sedang mereka banyak mengingat Allah”. “Terus siapakah mereka?” Ali kembali ditanya. “Mereka adalah kaum yang terkena fitnah yang mengakibatkan mereka buta dan tuli”, jawab Ali. Wallohu a’lam bish-Showab


–

Artikel ini terkirim via form kontak http://warkopmbahlalar.com/antar-kopi/ dari Warkoper

Lenyapnya Teks Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah


Home › Ngaji › Lenyapnya Teks Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah
Lenyapnya Teks Ibnu Taymiyyah Yang Menafikan Arah Bagi Allah
TIDAK HANYA AL-ASY’ARI, TEKS IBN TAIMIYYAH PUN LENYAP
Semoga kesalahan ini hanya kesalahan dipercetakan, bukan unsur kesengajaan. Dan semoga bermanfaat bagi ikhwah Salafi maupun ikhwah sarungan/tradisional dapat mengambil manfaat. Dan selalu memunculkan sikap kritis dan teliti dalam membaca Karya Para Ulama. Di bagian akhir catatan ini dicantumkan munaqasyah dengan perkataan Imam Abu Khanifah, Imam Sufyan Ibn ‘Uyainah, Imam Hammad Ibn Zaid, al-Hafizh Abu Ja’far al-Thahawi, al-Hafizh al-Khithabi, Imam Abu Muhammad al-Muzni (guru Imam al-Hakim), al-Hafizh al-Baihaqi dan al-Hafizh Ibn al-Jawzi.
Bermula dari bolak-balik buku karya Ibn Taimiyyah di kamar asrama; Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah, guna mencari bahan tugas akhir kuliah. Kejanggalan teks tiba-tiba terasa, pertama antara pembahasan sebelumnya agak terasa rancu dan tidak selaras dengan pembahasan setelahnya, kedua antara kata sebelum dengan sesudah terjadi jarak yang agak mencolok. Minhaj al-Sunnah ini adalah milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.
Rasa penasaran itu membawa hasrat untuk memastikan hal ini. Sorenya langsung berangkat ke Perpustakaan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. Akhirnya kitab yang sama ditemukan, namun dengan cetakan berbeda. Cetakan yang dimiliki perpustakaan Darussunnah adalah Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah (sama dengan cetakan al-Ibanah yang kehilangan teks) 2 jilid font kecil, sementara yang dimiliki UIN adalah cetakan Mu’assasah Qurthubi 8 jilid font besar.
Sedikit rumit melakukan pencarian lantaran daftar isi tampil beda antara dua cetakan. Alhamdulillah hal yang dicari ditemukan. POSITIF, dengan perbandingan dua kitab, ternyata teks itu betul-betul hilang. Dengan analisa awal barangkali teks itu tidak banyak, namun fakta berkata lain.
Teks yang hilang (Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat -arah-) dalam kitab Minhâj al-Sunnah al-Nabawiyyah (dengan Hâmisy Bayân Muwâfaqah Sharîh al-Ma‘qûl li Shahîh al-Manqûl), cetakan Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, juz.1, hal.217, (teks yang benar-benar panjang untuk dilenyapkan mencapai 210 kata, 833 huruf), na‘ûdzu billah;
Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Milik Perpustakaan Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darussunnah.
Perhatikan Baris Ke Tiga Dari Atas (teks yang di dalam), dilingkari pensil. Di situlah posisi lenyapnya teks, antara kata عال عليهdan kata وإذا كان
Teksnya sebagai berikut;

ونفاة لفظ الجهة يذكرون من أدلتهم أن الجهات كلها مخلوقة وأنه كان قبل الجهة وأنه من قال إنه في جهة يلزمه القول بقدم شيء من العالم أو أنه كان مستغنيا عن الجهة ثم صار فيها وهذه الأقوال ونحوها إنما تدل على أنه ليس في شيء من المخلوقات سواء سمى جهة أو لم يسم وهذا حق، فإنه سبحانه منزه عن أن تحيط به المخلوقات أو أن يكون مفتقرا إلى شيء منها العرش أو غيره ومن ظن من الجهال أنه إذا نزل إلى سماء الدنيا كما جاء الحديث يكون العرش فوقه ويكون محصورا بين طبقتين من العالم فقوله مخالف لإجماع السلف مخالف للكتاب والسنة كما قد بسط في موضعه وكذلك توقف من توقف في نفى ذلك من أهل الحديث فإنما ذلك لضعف علمه بمعانى الكتاب والسنة وأقوال السلف، ومن نفى الجهة وأراد بالنفي كون المخلوقات محيطة به أو كونه مفتقرا إليها فهذا حق، لكن عامتهم لا يقتصرون على هذا بل ينفون أن يكون فوق العرش رب العالمين أو أن يكون محمد صلى الله عليه وسلم عرج به إلى الله أو أن يصعد إليه شيء وينزل منه شيء أو أن يكون مباينا للعالم بل تارة يجعلونه لا مباينا ولا محايثا فيصفونه بصفة المعدوم والممتنع وتارة يجعلونه حالا في كل موجود أو يجعلونه وجود كل موجود ونحو ذلك مما يقوله أهل التعطيل وأهل الحلول.

Teks ini terdapat dalam cetakan Mu’assasah Kordoba, cet.1, vol.1, hal.189.
Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah Cetakan Mu’assasah Qurthubi
Teks yang diberi garis adalah teks yang lenyap
 

Teks yang diberi garis adalah teks yang hilang…

“Kalangan yang menafikan lafaz al-Jihah (arah penjuru) menyebutkan -berdasarkan dalil-dalil mereka- bahwa semua al-Jihât (arah penjuru) adalah makhluk, sementara Allah telah ada sebelum adanya al-Jihah. Dan orang yang mengatakan bahwa Allah berada pada Jihat, sama artinya bahwa bagian dari alam ini ada sesuatu yang Qadîm (karena Jihat adalah Makhluk/Hâdits), atau pada sisi lain dia mengatakan bahwa Allah sebelumnya tidak butuh Jihat yang kemudian Dia berjihat (hal ini sama dengan mengatakan Allah akan eksis bila ada Jihat, tentunya ini Bathil). Ungkapan-ungkapan ini dan lain sebagainya mengindikasikan bahwa Allah tidak berada pada sesuatupun (ليس في شيئ) daripada makhluk-Nya, baik dengan menyebutkan Jihat atau tidak, INI BENAR. Karena Allah subhanahu wa ta‘ala tidak diliputi oleh makhluk dan tidak membutuhkannya seumpama ‘Arasy atau selainnya (seperti langit, kursi). Jika ada kalangan tak terdidik mengira bahwa apabila Allah Nuzûl ke langit dunia -sebagaimana terdapat dalam hadis- lalu ‘Arasy berada di atas-Nya dan Dia berada di antara dua komponen alam (di antara langit dan ‘arasy, atau di antara bumi dan ‘arasy), maka dia telah menyelisihi konsensus kalangan salaf, al-Qur’an dan al-Sunnah, sebagaimana telah tertera di tempat (pembahasannya). Begitu juga sebagian ahli hadis ada yang bersikap tawaqquf dalam menafikan Jihat, hanyasaja hal itu lantaran tidak begitu mengetahui makna-makna al-Qur’an, al-Sunnah, dan statemen-statemen kalangan salaf (Allâhu A‘lam apa yang dimaksudkan oleh Ibn Taimiyyah dengan statemen ini bahwa ahli hadis tidak mengetahui). Dan orang yang menafikan Jihat dan bermaksud menafikan Allah diliputi oleh makhluk atau menafikan bahwa Allah membutuhkannya, MAKA INI ADALAH BENAR. Namun ada kalangan yang menafikan Jihat, tidak mencukupkan sampai disini (seperti Mu‘atthilah Mu‘tazilah), bahkan (secara muthlak) mereka menafikan fawqiyyah Tuhan semesta alam atas ‘Arasy, menafikan mi‘rajnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada-Nya, atau naik atau turunnya sesuatu dari-Nya (seperti turunnya rahmat), atau di antara mereka ada yang menafikan keberadaan Allah Mubâyinan terhadap alam, bahkan terkadang mereka menjadikan Allah tidak Mubâyin/Muhâyits (Mufâriq -al-Mu‘jam al-Wasîth- atau Muqâbil *berhadapan), sehingga mereka mensifatinya dengan sifat ketiadaan dan kemustahilan. Dan terkadang ada yang menjadikan-Nya menempati segala yang mawjûd (seperti al-Murji’ah), atau mereka menjadikan Allah sebagai wujud dari segala wujud (seperti al-Muttahidah) dan lain sebagainya dari ungkapan-ungkapan Ahl al-Ta‘thîl dan Ahl al-Hulûl”.
*Begitulah bagaimana Ibn Taimiyyah membenarkan penafian Jihat dari Allah, karena konsekuensi Jihat adalah keberadaan Allah diliputi oleh alam, karena jika Allah berjihat, sementara jihat adalah makhluk ciptaannya, maka ini adalah hulul, yaitu Allah berada pada jihat. Atau dengan ungkapan agak menipu logika seperti pada Azali Allah tidak berjihat, lalu setelah Dia menciptakan makhluk maka Dia berjihat. Benarlah apa yang diungkapkan Abu Ja‘far al-Thahawi;
لا تحويه الجهات الست
(Allah tidak diliputi enam penjuru; atas, bawah, depan, belakang, kanan dan kiri).
Manakala Allah bersifat Baqâ’ (kekal), maka segala sifat-Nya pun turut kekal tanpa berubah Min Bidâyatin Lâ Awwala Lahâ ilâ Nihâyatin Lâ Âkhira Lahâ. Sementara ada kalangan yang menganggap hal ini tidak logis dan sama saja mengatakan Allah itu tiada, karena semua wujud pasti ada jihat. Ungkapan ini adalah penganalogian Allah dengan makhluk, karena yang terbayang dalam benak mereka adalah keberadaan diri mereka berada pada jihat, dan mereka juga ingin mengatakan Allah berjihat seperti wujud mereka, konsekuensi hal ini adalah keberadaan hadd (batas) bagi Allah, maka cukuplah perkataan Imam ‘Ali
من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود
(siapa yang beranggapan bahwa Allah berbatas dimensi, dia tidak mengenal Allah sang pencipta yang maha disembah)ز
juga ungkapan Abu Ja‘far al-Thahawi
وتعالى عن الحدود والغايات
(Allah maha suci dari batas dan batas akhir -dzat maupun sifat-).
*Ibn Taimiyyah menafikan konsekuensi nuzul yang berakibat keberadaan-Nya ada pada dua komponen alam yaitu ‘Arasy dan Langit ke 2,3,4,5,6 dan 7, karena langit dunia adalah langit pertama. Maka tidak sah jika nuzûl Allah aadalah Nuzûl berpindah dari atas ke bawah, akan tetapi Nuzûl sebagaimana layaknya bagi Dzat Allah ta‘âlâ. Jika turun cara makhluk adalah dari atas ke bawah, maka Nuzûl Allah tidak sebagaimana turunnya makhluk, karena turun dari atas ke bawah adalah ciri khas makhluk. Oleh karena itu Abu Ja‘far al-Thahawi berkata
من وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر
(siapa yang menyifati Allah dengan sebuah makna atau ciri dari ciri-ciri makhluk, maka dia telah ingkar/fasiq).
Begitu juga al-Hâfizh al-Khithâbî (guru al-Hâfizh al-Hâkim) berkata bahwa Allah tidak disifati dengan bergerak, perpindah karena dua hal ini adalah ciri-ciri makhluk (Lihat al-Asma’ wa al-Shifat Baihaqi, cet.Darul Hadis, hal.446), al-Hafizh al-Baihaqi pun menegaskan bahwa turun dari atas ke bawah adalah ciri khas makhluk, karena bentuk ini adalah sebuah kayfiyyah, dan Allah maha suci dari segala kayfiyyah (al-Asma’ wa al-Shifat,hal.466). Abu Hanifah ketika ditanya tentang Nuzûl, maka beliau jawab ينزل بلا كيف (Allah nuzul tanpa Kayf, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Karena segala bentuk gerak adalah Kayf. Lebih dari itu Imam Hammad Ibn Zaid berkata نزوله إقباله (al-Iqbâl, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Imam Abu Muhammad al-Muzni, juga guru Imam Hakim berkata
المجيئ والنزول صفتان منفيتان عن الله تعالى من طريق الحركة والانتقال من حال إلى حال، بل هما صفتان من صفات الله تعالى بلا تشبيه، جل الله تعالى عما يقول المعطلة لصفاته والمشبهة بها علوا كبيرا
(datang dan turun adalah dua sifat yang ternafi dari Allah ta‘ala -jika dipahami- dengan bergerak dan berpindah dari suatu keadaan ke keadaan lain, akan tetapi keduanya adalah dua sifat dari sifat-sifat Allah ta‘ala tanpa Antropomorphism, maha suci Allah dari anggapan Mu‘atthilah (yang menafikan nuzul) dan dari anggapan Musyabbihah (yang mengatakan nuzul dengan bergerak dan berpindah, lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.447). Inilah pendapat salaf yang telah dikuatkan oleh al-Baihaqi.
Munaqasyah;
Fawqiyyah
Al-Hafizh Ibn al-Jawzi menegaskan bahwa Fawqiyyah Allah ta‘ala adalah Fawqiyyah yang bukan Fawqiyyah Hissiyyah (fawqiyyah fisik/inderawi), karena al-Fawq dan al-‘Uluw pada Dzat Allah adalah ‘Uluw al-Martabah (al-Hâfizh Ibn al-Jawzî, Daf‘u Syubhah al-Tasybîh bi Akuff al-Tanzîh bi man Yantahilu Madzhab al-Imâm Ahmad, al-Maktabah al-Tawfîqiyyah, hal.41). Fawqiiyah Hissiyyah adalah sebuah Hadd, Jihât, potensi Tahayyuz, Allah maha suci dari ciri khas makhluk.
Naiknya amalan shaleh
Al-Hafizh al-Baihaqi telah menuturkan, bahwa naiknya amal kebaikan adalah sebagai ibarat/istilah amalan itu diterima oleh Allah dengan baik. Sementara naiknya malaikat adalah ke tempat mereka di langit, kerena langit adalah tempat mereka. (lihat al-Asma’ wa al-Shifat, hal.425).
Mubâyin/Mujâwir
Al-Hafizh Ibn al-Jawzi menegaskan bahwa Mubâyin & Mujâwir (berhadapan antara Allah dan makhluk dengan Jihat dan Masâfah) mustahil bagi Zat Allah, karena dari sana Allah akan berbatas dan berjihat. (Lihat Daf‘u Syubhah al-Tasybîh bi Akuff al-Tanzîh bi man Yantahilu Madzhab al-Imâm Ahmad, hal.41).
———————
*Dapat disimpulkan, jika Allah tidak diliputi oleh Jihât, Masafah, Hadd, maka benarlah sikap Salafusshaleh; ketika muncul ayat Istiwâ’, mereka tidak memaknainnya dengan duduk, Julus atau Istiqrar, namun Istiwâ’ yang layak bagi keagungan Allah. Allah nuzul, tanpa menyerupai makhluk yang harus berpindah dari atas ke bawah, namun Allah nuzul sebagaimana yang tertera dalam nash. Dia tidak butuh bergerak. Maka jika ada nash2 mutasyabihat, hal yang harus dipahami oleh seorang muslim adalah ungkapan Sufyan Ibn ‘Uyaynah; تفسيره تلاوته/قراءته (tafsirnya adalah bacaan itu sendiri),
tidak perlu dibuat ungkapan-ungkapan “dari atas ke bawah, duduk, bersemayam, dll”. Maka madzhab yang lebih benar adalah Madzhab Salaf, yaitu Tafwîdh, dan dengan tafwidh ini semua syubhat-syubhat Karramiyyah, Hisyamiyyah, Mujassimah, Musyabbihah, Hasyawiyyah akan terbantahkan. Namun jika ada sebagian kalangan yang mengingkari Tafwîdz, adakalanya mereka adalah Musyabbihah, adakalanya Mu‘atthilah.
Rasulullah bersabda; وأنت الظاهر فليس فوقك شيئ، وأنت الباطن فليس دونك شيئ
(Engkau maha Zhahir, maka tiada sesuatu pun di atas-Mu, Engkau maha Bathin, maka tiada sesuatu pun di bawah-Mu).
Al-Hafizh al-Baihaqi menjelaskan hadis ini; jika di atas maupun di bawah-Nya tiada sesuatu pun maka Allah tidaklah bertempat (al-Asma’ wa al-Shifat, hal.406). Seperti Istiwâ’, tidak boleh dipahami dengan Istiqrâr atau menempati ‘Arasy.
Wajar Syeikh al-Albani membantah Syeikh Abu Zahrah ketika mengatakan bahwa Ibn Taimiyyah mengatakan bahwa Allah Istiwâ’ dengan makna Istiqrâr, kata beliau;
فأين رأيت ابن تيمية يقول بالاستقرار على العرش علما بأنه أمر زائد على العلو وهو مما لم يرد به الشرع ولذلك رأينا مؤلفنا الحافظ الذهبي قد أنكر على بعض القائلين بصفة العلو التعبير عنها بالاستقرار.
Perhatikan bagaimana Syeikh al-Albani tidak menyetujui Istiqrâr, lihat (Muhammad Nâshiruddîn al-Albani, Mukhtashar al-‘Uluw, Beirut: al-Maktab al-Islamî, cet.1, 1401H, hal.41).
“Tipuan logika musyabbihah; mengatakan Allah tiada berjihat sama saja mengatakan Allah tidak ada. Al-Hâfizh Ibn al-Jawzi menjawab; Jika sebuah wujud dapat disifati dengan al-ittishâl dan al-Infishâl, maka engkau benar. Namun jika sebuah wujud tidak disifati dengan keduanya, maka tidak mesti sesuatu wujud itu menjadi tidak ada (Lihat Daf‘u Syubhah al-Tasybîh bi Akuff al-Tanzîh bi man Yantahilu Madzhab al-Imâm Ahmad, hal.43). Dapat kita contohkan tentang Ittishal dan Infishalnya dua sifat yang memang tidak dimiliki oleh sebuah wujud, seperti sebuah BATU. Kita katakan bahwa batu tidak dapat melihat, di lain sisi batu ini juga tidak buta. Apakah hal ini kita katakan sebuah kontradiksi sehingga batu itu menjadi mustahil adanya? Jawabannya tidak, kerena persoalan melihat dan kebutaan bukan sifat batu. Begitu juga jika dikatakan Allah tidak di luar maupun di dalam alam, karena luar dan dalam bukan dimensi dan sifat Allah. Lalu apakah ini sebuah kontradiksi? Jawabannya iya jika hal ini dinisbatkan kepada makhluk. Karena makhluk tidak terlepas dari dua dimensi ini atau pun salah satunya, karena pada hakikatnya makhluk adalah alam”.
*Sebelum Allah menciptakan alam, tidak ada istilah luar dan dalam karena Rasulullah bersabda:
كان الله ولم شيئ قبله/غيره
(Allah ada sejak azali, tiada sesuatupun sebelum-Nya/selain-Nya)
‘Ali ibn Abi Thalib berkata:
كان الله ولا مكان
(Allah ada sejak azali tanpa tempat).
Setelah Allah menciptakan alam, Dia tetap sebagaimana ada-Nya, sebagaimana ‘Ali bin Abi Thalib berkata:
وهو الآن على ما عليه كان
(Dia sekarang ada sebagaimana adanya -pada azali-).
Mari kita pahami, dan kita bedakan istilah بالنسبة إلى الله dan بالنسبة إلى المخلوق.  Tidak adanya dimensi luar dan dalam sangat mustahil Bi al-Nisbah ilâ al-Makhlûk. Namun ketiadaan keduanya tidak mustahil Bi al-Nisbah ilâ Allah subhânahû wa ta‘âlâ, karena jika Allah tidak menghendaki adanya makhluk maka Allah akan tetap sebagaimana adanya, begitupun jika Allah menghendaki untuk melenyapkan alam, Dia akan tetap sebagaimana adanya tanpa Jihat, Ruang dan Waktu. Dimensi luar dan dalam mengikut kepada makhluk, maka jika makhluk atau alam dilenyapkan oleh Allah, dua dimensi ini pun akan lenyap. Untuk pendekaan memahami ini, dalam Fiqh ada sebuah kaedah kulliyyah yang tidak menyentuh hal-hal juz’iyyah, yaitu kaedah ke empat yang berbunyi التابع تابع (sesuatu yang mengikut, pasti mengikuti-yang diikuti-, lihat al-Mawâhib al-Saniyyah), dalam hal ini dimensi luar maupun dalam adalah al-Tâbi‘u, sedangkan status keduanya adalah sebagai Tâbi‘un kepada alam. Dari sini dapat kita pahami perbedaan antara Khalik dengan Makhluk.
Ibnu ‘Abbas berkata, ليس في الدنيا مما في الجنة إلا الأسماء, dan nash lainلا يشبه شيءٌ مما في الجنة ما في الدنيا إلاألأسماء
(tiada sesuatu pun perserupaan antara apa yang ada di dunia dengan apa yang ada di surga melaikan hanya nama).
Manakala antara sesama makhluk hanya ada perserupaan nama saja, maka antara khalik dan makhluk lebih utama untuk itu. Begitulah Istiwâ’, Nuzûl, Wajah, Yad, ‘Ain. Jangan kita bersikap ghuluw dalam Itsbat, metode salaf adalah paling baik, yaitu menyerahkan maksudnya kepada Allah sembari mengimani, tanpa Takyîf. Maka janganlah hendaknya kita mengharapkan agar Ahwâl Allah serupa dengan kita, harus berjihat, berdimensi ruang dan waktu, Allah maha suci dari ini semua. Jangan kita mengkhianati Lisan yang berkata:
بلا كيف, بلا تكييف, وكيف عنه مرفوع
namun pemahaman kita tetap memberikan Kaifiyyah kepada Allah meski tidak kita sadari. Apalagi jika Lisan kita sering mengucapkan firman Allah ليس كمثله شيئ, namun pada prakteknya pemahaman kita tetap memberikan Tasybiih kepada Allah meski tidak kita sadari. Sudah cukup kiranya kefasihan al-Qur’an yang menampilkan penafian perserupaan dengan menggunakan dua adat Tasybîh dalam ayat itu, yaitu الكاف dan مثل, Semoga kita dapat diberi pemahaman oleh Allah subhanahu wa ta‘ala. Amin
مهما تصورت ببالك فالله بخلاف ذلك
Allahu A’lam

Gudang kitab

مكتبة الإخوة الغماريين

by matnawi

SHOW MORE


1- أريج الاس في إبطال فتوى عالم فاس
2- الأدلة الراجحة على فرضية قراءة الفاتحة
3- مفتاح الترتيب لأحاديث تاريخ الخطيب
4- الأحاديث المنتقاة في فضل سيدنا رسول الله صلى الله عليه وسلم
5- الأجوبة الصارفة لإشكال حديث الطائفة - ويليها إظهار ماكان خفيا بنكارة حديث لوكان المعلم بالثريا
6- الأربعين الغمارية في شكر النعم
7- الباحث عن علل الطعن في الحارث
8- الرد على الألباني المسمى بيان نكث الناكث المتعدي بتضعيف حديث الحارث
9- بدع التفاسير
10- علي ابن ابي طالب إمام العارفين - البرهان الجلي في تحقيق إنتساب الصوفية إلى علي
11- شوارق الأنوار المنيقة بظهور النواجذ الشريفة
12- ذوق الحلاوة ببيان امتناع نسخ التلاوة
13- الفتاوى والرسائل الصغرى - در الغمام الرقيق برسائل الشيخ السيد أحمد الصديق
14- فتح الملك العلي بصحة حيث باب مدينة الملك علي
15- فتح المعين بنقد كتاب الأربعين
16- حسن البيان في ليلة النصف من شعبان
17- حسن التفهم والدرك لمسألة الترك
18- حصول التفريج باصول التخريج - أو كيف تصير محدثا
19- إعلام المسلمين بما في كلام التجاني من الكذب الظاهر والكفر المبين
20- إبراز الوهم المكنون من كلام ابن خلدون
21- كتاب الإهلال بدليل مراعاة إختلاف مطالع الأهلة في الأقطار
22- إحياء المقبور من أدلة استحباب بناء المساجد والقباب على القبور
23- إمامة المبتدع والمتجاهر بالفسق وبيان حكمها
24- الإنتصار لطريق الصوفية الأخيار
25- إقامة البرعان على نزول عيسى في آخر الزمان
26- الإقناع بصحة صلاة الجمعة في المنزل خلف المذياع
27- إستعاذة والبسملة من صحيح حديث البسملة
28- الاستنفار لغزو التشبه بالكفار
29- الاستقصاء لأدلة تحريم الاستمناء
30- إتحاف الأذكياء بجواز التوسل بالأنبياء والأولياء
31- إتحاف ذوي الهمم العالية بشرح العشماوية
32- إتقان الصنعة في تحقيق معنى البدعة
33- إزالة الخطر عمن جمع بين الصلاتين في الحضر
34- الجواب المفيد للسائل المستفيد
35- مسالك الدلالة في شرح مسائل الرسالة
36- المثنوي والبتار في نحر العنيد المعثار الطاعن فيما صح من السنن والآثار
37- منحة الرؤف المعطي ببيان ضعف وقوف الشيخ الهبطي
38- مصباح الزجاجة قي فوائد صلاة الحاجة
39- المعجم الوجيز للمستجيز
40- بيان تلبيس المفتري
41- المغير على الأحاديث الموضوعة في الجامع الصغير
42- ملخص كتاب كشف أنواع الجهل فيما قيل لنصرة السدل
43- المسهم في بيان حال حديث طلب العلم فريضة على كل مسلم
44- نماذج من أوهام النقاد المشارقة في الرواة المغاربة
45- نهاية الآمال في صحة وشرح حديث عرض الأعمال
46- قطع العروق الوردية من صاحب البروق النجدية
47- القول الأسد في بيان حال حديث رأيت ربي في صورة شاب أمرد
48- الرد المحكم المتين عي كتاب القول المبين
49- رفع شان المنصف السالك وقطع لسان المتعصب الهالك باثبات سنية القبض في الصلاة
على مذهب الإمام مالك
50- ثلاث رسائل حديثية للغماري
51- رتب الحفظ عند المحدثين
52- السيف البتار لمن سب النبي المختار
53- التأنيس بشرح منظمة الذهبي في أهل التدليس
54- تبيين المدارك لرجحان سنية تحية المسجد وقت خطبة الجمعة في مذهب مالك
55- التحذير من أخطاء النابلسي في تبير رؤيا فاطمة والحسن والحسين
56- تحقيق الآمال في إخراج زكاة الفطر بالمال
57- إقامة الدليل على حرمة التمثيل
58- تنزيه الرسول عن إفتراء الغبي المجهول
59- البغية في ترتيب أحاديث الحلية
60- التصور والتدصيق بأحاديث الشيخ سيدي محمد بن الصديق
61- توجيه الأنظار لتوحيد المسلمين في الصوم والإفطار
62- أخبار الثقلاء والمستثقلين
63- الطرق المفصلة لحديث أنس في إفتتاح قراءة الفاتحة في الصلاة بالبسملة
64- الزاوية ومافيها من البدع والأعمال المنكرة
65- رفع المنار لطرق حديث "من سئل عن علم فكتمه ألم بلجام من نار
66- المسهم في بيان حال حديث طلب العلم فريضة علي كل مسلم
67- تبيين البَلَه ممن انكر وجود حديث : ومن لغا فلا جمعة له
68- حسن الأسوة بما رود في إمامة المرأة بالنسوة
69- الجواب المفيد للسائل المستفيد
70- نقد مقال في مسائل من علم الحديث والفقه وأصوله وتفضيل بعض المذاهب
71- شد الوطأة على من أجاز مصافحة المرأة
72- المداوي لعلل الجامع الصغير وشرحي المناوي :
http://archive.org/details/WAQ89021

73- الهداية في تخريج أحاديث البداية:
http://archive.org/details/hidtab

74- البحر العميق في مرويات احمد بن الصديق:
http://archive.org/details/bahr3amiq

75- فتح الوهاب بتخريج أحاديث الشهاب:
http://archive.org/details/WAHAAB


Language Arabic
Collection opensource_Arabic

Sumber :  https://archive.org/details/Benseddiq

DOWNLOAD OPTIONS
SHOW ALL