Minggu, 02 Agustus 2015

Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag II)

Keterangan
Mengkaji Ulang Tuduhan Hadis Palsu Kitab Ihya’ (Bag II)
(Ibnu Jauzi telah menuduh 30-an hadis dalam kitab Ihya’ sebagai hadis palsu. Namun setelah dikaji ulang berdasarkan penilaian ahli hadis lainnya ternyata banyak mengandung kesalahan)
فى الجزء الثانى
Hadis IX
No. 1297 Hal. 4
حَدِيْثُ " اَكْرِمُوْا الْخُبْزَ "
** أخرجه البزار والطبراني وابن قانع من حديث عبد الله بن أم حرام بإسناد ضعيف جدا وذكره ابن الجوزي في الموضوعات .
‘Muliakanlah roti’ (al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Bazzar, Thabrani dan Ibnu Qani’ dari Abdullah bin Ummi Haram, dengan sanad yang sangat lemah. Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Ini adalah hadis yang tidak benar. Dalam sanadnya terdapat Abdul Malik bin Abd al-Rahman, menurut Abu Hafsh al-Fallas, dia sangat pendusta (al-Maudlu’at II/291)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini memiliki jalur riwayat yang lain (tidak melalui Abd Malik bin Abd al-Rahman), seperti yang diriwayatkan oleh Hakim al-Tirmidzi, Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah (V/246), Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Kabir (No: 18284), Baihaqi dalam kitab Syu’ab al-Iman (No: 5869). Seperti teks riwayat hakim al-Turmudzi:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e أَكْرِمُوْا اْلخُبْزَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى أَنْزَلَهُ مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاءِ وَأَخْرَجَهُ مِنْ بَرَكَاتِ الْأَرْضِ
‘Muliakanlah roti, karena Allah menurunkannya dari berkah langit dan bumi’ (al-La’ali al-Mashnu’ah II/181)
Al Hafidz al-Haitsami:
Hadis tersebut dari riwayat al-Bazzar dan Thabrani. Ia menilai Abd Malik bin Abd al-Rahman sebagai perawi dlaif, bukan pendusta. (Makma’ al-Zawaid II/251)
Hadis X
No. 1333 Hal. 12
حَدِيْثُ " مَنْ صَادَفَ مِنْ أَخِيْهِ شَهْوَةً غَفَرَ اللهُ لَهُ وَمَنْ سَرَّ أَخَاهُ الْمُؤْمِنَ فَقَدْ سَرَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ "
ا** أخرجه البزار والطبراني من حديث أبي الدرداء " مَنْ وَافَقَ مِنْ أَخِيْهِ شَهْوَةً غُفِرَ لَهُ " قال ابن الجوزي حديث موضوع وروى ابن حبان والعقيلي في الضعفاء من حديث أبي بكر الصديق " مَنْ سَرَّ مُؤْمِنًا فَإِنَّمَا سَرَّ اللهَ . . . الحديث " قال العقيلي باطل لا أصل له .
‘Barangsiapa yang mengabulkan keinginan saudaranya, maka Allah akan mengampuninya. Dan barangsiapa yang menyenangkan saudaranya yang mukmin, maka ia telah menyenangkan Allah ‘azza wa jalla’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan Thabrani dari Abu Darda’ dengan redaksi ‘wafaqa’. Ibnu al-Jauzi berkata bahwa hadis ini palsu. Juga diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Uqaili dalam kitab al-Dlua’fa’ dari Abu Bakar al-Shiddiq. Al-Uqaili berkata bahwa hadis ini adalah bathil dan tidak ada dasarnya)
Ibnu al-Jauzi:
Ini adalah hadis palsu. Dalam riwayat tersebut terdapat Umar bin Hafsh, menurut Ahmad bin Hanbal: Kami membakar hadisnya. Yahya bin Ma’in berkata: Dia tidak ada apa-apanya. Nasa’i berkata: Dia hadisnya matruk. (al-Maudlu’at II/171)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini juga diriwayatkan oleh az-Bazzar dan Thabrani. Thabrani berkata: Hafsh bukan orang yang kuat (dlaif). (al-La’ali al-Mashnu’ah II/72)
Ali al-Kannani:
Tuduhan atas hadis tersebut dikaji ulang, sebab hadis ini diperkuat oleh hadis lain yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No: 3231;
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ مَرْفُوْعًا قاَلَ e مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ شَهْوَتَهُ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ
‘Barangsiapa yang memberi makan kepada saudaranya yang muslim sesuai dengan keinginannya, maka Allah mengharamkan neraka kepadanya.’ Tetapi dengan sanad ini al-Baihaqi menilai munkar. (Tanzih al-Syariah II/135)
Al-Haitsami:
Hadis di atas diriwayatkan oleh al-Thabrani dan al-Bazzar, salah seorang perawinya adalah Ziyad bin Namir, ia dinilai terpercaya oleh Ibnu Hibban. Ibnu Hibban juga menilainya: Terkadang ia salah. Ziyad juga dinilai dlaif oleh ulama lain. Di dalam sanad tersebut ada seorang perawi yang tidak saya ketahui. (Majma’ al-Zawaid V/29)
Hadis XI
No. 1334 Hal. 12
حَدِيْثُ جَابِرٍ " مَنْ لَذَّذَ أَخَاهُ بِمَا يَشْتَهِي كَتَبَ اللهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَى عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ وَأَطْعَمَهُ اللهُ مِنْ ثَلَاثِ جَنَّاتٍ جَنَّةِ اْلفِرْدَوْسِ وَجَنَّةِ عَدْنٍ وَجَنَّةِ الْخُلْدِ "
** ذكره ابن الجوزي في الموضوعات من رواية محمد بن نعيم عن ابن الزبير عن جابر وقال أحمد ابن حنبل هذا باطل كذب .
‘Barangsiapa yang memberi kesenangan kepada saudaranya sesuai dengan keinginannya, maka Allah mencatat baginya satu juta kebaikan, menghapus satu juta kesalahannya, mengangkat satu juta derajatnya, dan Allah memberinya makanan dari tiga surga, surga firdaus, ‘adn dan khuldi’ (Al-Iraqi: Hadis ini dicantumkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at dari riwayat Muhammad bin Nuaim dari Ibnu Zubair dari Jabir. Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini batil dan dusta)
Ibnu al-Jauzi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadis batil dan Muhammad bin Nuaim sangat pendusta. Abu Hatim al-Razi berkata: Dia tidak dikenal (al-Maudlu’at II/172)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Ini hadis batil dan Muhammad bin Nuaim sangat pendusta (al-La’ali al-Mashnu’ah II/73)
Al-Syaukani:
Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini batil. Dalam sanadnya ada perawi yang sangat pendusta, yaitu Muhammad bin Nuaim. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dari Jabir dengan redaksi:
مَنْ أَطْعَمَ أَخَاهُ خُبْزًا حَتَّى يُشْبِعَهُ وَسَقَاهُ مِنَ الْمَاءِ حَتَّى يَرْوِيَهُ بَاعَدَهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ سَبْعَ خَنَادِق كُلُّ خَنْدَقٍ مَسِيْرَةُ خَمْسِمِائَةٍ
‘Barangsiapa memberi makan roti kepada saudaranya hingga kenyang, atau memberi minum hingga hilang dahaganya, maka Allah akan menjauhkannya dari neraka dengan tujuh jurang, yang masing-masing jurang jarak tempuhnya 500 tahun’
Ibnu Hibban berkata: hadis ini palsu. Menurut Ibnu Hajar hadis ini diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak (No hadis: 7172), al-Hakim berkata: Hadis ini sanadnya sahih dan al-Dzahabi tidak memberi komentar atas tashih ini (bahkan ia juga menilai sahih), padahal dalam sanad ini terdapat perawi yang bernama Raja’ bin Abi Atha’ al-Ma’afiri. Al-Hakim dalam kitabnya al-Tarikh dan al-Dzahabi mengatakan bahwa Raja’ bin Abi ‘Atha’ terkadang meriwayatkan hadis palsu. (al-Fawaid al-Majmu’ah I/36)
Al-Haitsami:
Hadis ini (riwayat al-Hakim secara sanad, dan teks hadis yang sedikit berbeda) juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir (No hadis: 1498) dan kitab al-Mu’jam al-Ausath (No hadis: 6706), tetapi Raja’ bin Abi Atha’ adalah perawi dlaif. (Majma’ al-Zawaid III/173)
Hadis XII
No. 1425 Hal. 38
حَدِيْثُ " جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ e فَقَالَ : إِنَّ لِي امْرَأَةً لَا تَرُدُّ يَدَ لَامِسٍ ، قَالَ : طَلِّقْهَا ، فَقَالَ : إِنِّي أُحِبُّهَا . قَالَ : أَمْسِكْهَا "
** رواه أبو داود والنسائي من حديث ابن عباس ، قال النسائي : ليس بثابت ، والمرسل أولى بالصواب . وقال أحمد : حديث منكر ، وذكره ابن الجوزي في الموضوعات .
‘Seseorang datang kepada Rasulullah Saw. Ia bertanya: Saya mempunyai istri yang tidak menolak dari sentuhan tangan lelaki lain. Nabi bersabda: “Ceraikan dia!” Orang tersebut berkata: “Tapi saya masih mencintainya.” Nabi bersabda: “Jangan kau ceraikan dia” (al-Iraqi: HR Abu Dawud dan Nasa’i dari Ibnu Abbas. Nasa’i berkata: Hadis ini tidak kuat. Hadis ini lebih tepatnya sebagai hadis mursal. Ahmad berkata: Hadis ini munkar. Dan Ibnu al-Jauzi mencantumkannya dalam kitab al-Maudlu’at)
Ibnu al-Jauzi:
Ahmad bin Hanbal berkata: Hadis ini tidak dari Rasulullah Saw, tidak ada dasarnya (al-Maudlu’at II/272)
Jalaluddin al-Suyuthi:
al-Hafidz Ibnu Hajar pernah ditanya mengenai hadis ini, beliau menjawab: Hadis ini adalah Hasan-Sahih, dan tidak benar orang yang menilainya sebagai hadis palsu (al-La’ali al-Mashnu’ah II/1145)
Al-Hafidz Ibnu Hajar:
Perawi hadis ini adalah orang-orang terpercaya (Raudlat al-Muhadditsin III/80)
Al-Hafidz al-Haitsami:
Hadis ini juga diriwayatkan oleh Thabrani dalam Mu’jam al-Ausath (No: 4863 dan 6597), perawinya adalah perawi-perawi hadis sahih (Majma’ al-Zawaid II/228)
Hadis XIII
No. 1465 Hal. 43
حَدِيْثُ " أَوَّلُ حُبٍّ وَقَعَ فِي الْإِسْلَامِ حُبُّ النَّبِيّ e عَائِشَةَ "
** رواه الشيخان من حديث عمر بن العاص أنه قال : أي الناس أحب إليك يا رسول الله ؟ قال : " عائشة . . . الحديث " وأما كونه أول فرواه ابن الجوزي في الموضوعات من حديث أنس ، ولعله أراد بالمدينة كما في الحديث الآخر أن ابن الزبير أول مولود في الإسلام يريد بالمدينة ، وإلا فمحبة النبي e لخديجة أمر معروف تشهد له الأحاديث الصحيحة .
‘Rasa cinta yang pertama kali terjadi dalam Islam adalah cinta Nabi Muhammad Saw kepada Aisyah’ (Al-Iraqi: HR Bukhari-Muslim dari hadis Amr bin ‘Ash, ia bertanya: Siapa yang paling engkau cintai, wahai Rasulullah? Nabi menjawab: Aisyah. Sedangkan tentang ‘Rasa cinta yang pertama kali’ disebutkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam kitab al-Maudlu’at dari hadis Anas)
Ibnu al-Jauzi:
al-Muqiri adalah perawi tunggal hadis ini dan tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Musa bin Muhammad bin Atha’, dan keduanya sangat pendusta. Ahmad dan Yahya berkata: al-Muqiri tidak ada apa-apanya. Ibnu Hibba berkata: Musa bin Muhammad memalsukan beberapa hadis atas nama perawi-perawi terpercaya (al-Maudlu’at II/267)
Jalaluddin al-Suyuthi:
Hadis ini diriwayatkan juga oleh al-Khatib dari al-Hafidz Abu Nuaim (al-Hilyah II/44) dari jalur Zuhri dari Anas. (al-La’ali al-Mashnu’ah II/141)
Ali al-Kannani:
Tuduhan palsu ini dikaji ulang. Selain al-Muqiri, Muhammad bin Zubair juga turut meriwayatkan dari Zuhri. (Tanzih al-Syariah II/206)
Hadis XV
No. 1526 Hal. 55
حَدِيْثُ أَنَسٍ " مَنْ حَمَلَ طَرْفَةً مِنَ السُّوْقِ إِلَى عِيَالِهِ فَكَأَنَّمَا حَمَلَ إِلَيْهِمْ صَدَقَةً "
** أخرجه الخرائطي بسند ضعيف جدا ، وأخرجه ابن عدي في الكامل . وقال ابن الجوزي : حديث موضوع
‘Barangsiapa yang membawa sesuatu dari pasar untuk keluarganya, maka seolah dia telah membawa sedekah untuk mereka’ (Al-Iraqi: Diriwayatkan oleh al-Kharaithi dengan sanad yang sangat lemah, dan oleh Ibnu ‘Adi dalam kitab al-Kamil. Ibnu al-Jauzi mengatakan: Ini hadis palsu)
Ibnu al-Jauzi:
Hadis ini palsu. Terdapat banyak perawi dlaif, seperti Yazid Raqqasyi yang sering salah dalam meriwayatkan hadis. Juga terdapat Dlirar bin Amr, bapaknya dlirar, dan Hammad bin Amr, menurut Yahya bin Ma’in: Mereka tidak ada apa-apanya. (al-Maudlu’at II/276)
Jalaluddin al-Suyuthi:
al-Iraqi dalam kitab Takhrij-nya menilai hadis ini sangat lemah (al-La’ali al-Mashnu’ah II/150)
Ali al-Kannani:
Penilaian palsu terhadap hadis ini dikaji ulang. Karena hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Dailami dan Abu Nuaim dalam kitab Fadlilah al-Muhtasibin dari Ibnu Abbas. Tapi dalam sanad ini terdapat Ali bin Hatim al-Makfuf dari Syarik, dalam kitab al-Mizan (al-Dzahabi) dia adalah majhul atau tidak dikenal dan terkadang ucapannya mengandung kemungkaran (Tanzih al-Syariah II/209)
Hadis XVI
No. 1636 Hal. 88
حَدِيْثُ " مَنْ أَكْرَمَ فَاسِقًا فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلاَمِ " (مرتين)
** غريب بهذا اللفظ ، والمعروف " مَنْ وَقَّرَ صَاحِبَ بِدْعَةٍ . . . الحديث " رواه ابن عدي من حديث عائشة ، والطبراني في الأوسط ، وأبو نعيم في الحلية من حديث عبد الله بن يسر بأسانيد ضعيفة قال ابن الجوزي : كلها موضوعة .
‘Barangsiapa yang memuliakan oran fasiq, maka ia telah turut andil dalam menghancurkan Islam’ (Al-Iraqi: Dengan redaksi tersebut hadis ini dinilai gharib (langka). Yang populer dengan teks: Barangsiapa yang mengagungkan pelaku bid’ah… Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi dari riwayat Aisyah, oleh Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Ausath (No: 6963), dan oleh Abu Nuaim dalam kitab al-Hilyah (V/218 – VI/97 – VIII/103) dari riwayat Abdullah bin Yusr, semua sanadnya dlaif. Ibnu al-Jauzi mengatakan: Semua hadis tersebut adalah palsu)
Ibnu al-Jauzi:
Semua riwayat tentang hadis ini adalah batil dan palsu. Riwayat pertama dari Ibnu Umar, disini terdapat Abd al-Aziz bin Abi Dawud, menurut Ibnu Hibban: Dia menceritakan hadis dengan perkiraan dan penghitungan, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Riwayat kedua dari Ibnu Abbas, terdapat perawi bernama Bahlul, menurut Ibnu Hibban: Dia mencuri hadis, sehingga tidak bisa dijadikan dalil. Riwayat ketiga dari Aisyah, diantara perawinya adalah al-Khasyani, menurut Ibnu ‘Adi: Ini hadis batil dan palsu. Al-Khusyani meriwayatkan hadis yang tak ada dasarnya atas nama para perawi terpercaya. Yahya bin Ma’in berkata: Ia tidak ada apa-apanya (al-Maudlu’at I/270)
Jalaluddin al-Suyuthi:
(Hasan bin Yahya) Al-Khasyani dikutip hadisnya oleh Ibnu Majah (sebanyak 2 kali), menurut Dahim: Dia tidak apa-apa (ta’dil), menurut Abu Hatim: Dia sangat jujur, tetapi akurasi hafalannya kurang. Ibnu Adi berkata: Hadisnya bisa diterima. Dan dia diperkuat oleh hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitab Tarikh (XIV/4). (al-La’ali al-Mashnu’ah I/231)
Al-Haitsami:
Dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah Saw bersabda:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ e مَنْ مَشَى إِلَى صَاحِبِ بِدْعَةٍ لِيُوَقِّرَهُ فَقَدْ أَعَانَ عَلَى هَدْمِ الْإِسْلَامِ. رواه الطبراني في الكبير
‘Barangsiapa yang berjalan menuju pelaku bid’ah untuk memuliakannya, maka ia telah turut andil dalam menghancurkan Islam.’ HR Thabrani dalam kitab Mu’jam al-Kabir (No: 16614), diantara perawinya adalah Baqiyyah, dia dlaif. (Majma’ al-Zawaid I/114)

Pertemuan dengan muhammad bin abdul wahab (wahabi)

Kita bongkar kesesatan wahabi yg di setir oleh yahudi (ROTHSCHILD) kepercayaan dajjal al masih
memoirs of Mr hemper:
Foto Doni Apriyadi.

PERTEMUANNYA DENGAN MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB

Selepas pulang ke london selama enam bulan, kerajaan BRITSH memberi tugas baru kpda hempher. kali ini, ia tugas di iraq dengan dua MISI penting ia itu mencari kelemahan orang islam supaya dapat di gunakan untuk menewaskan mereka. keduanya, menyamai perbelahan di kalangan umat islam.
sebelum berlepas ke iraq, hempher berkawin dngan maria shvay yg berumur 23 tahun, tua setahun darinya. hempher mula berlepaske bashrah, iraq selepas 6 bulan, tempat yg di penuhi muslim madzhab sunni dan syi'ah, cuma sebilngan kecil sja beragama kristian.

Di bashrah, hempher menetap di sebuah masjid. di sana, ia berkenalan dngan seorng imam yg bernama syaikh umar taaee yg agak bijak dan tdk mudah terpedaya dngan samaran orng luar. hempher mmberi tahu, imam imam tersebut senantiasa mencurigai semnjak kali pertama berjumpa dan dia sendiri cuba memastikan rahasianya tdk terbongkar. syaikh umar mensyaki seorang perisik dari turki.
Selepas keluar dari masjid, hempher menyewa hotel milik seorng lelaki bernama mursyid. bermula dari sana, hempher mulai berkenalan dngan perbagai orng dan berkerja sebagai tukang kayu kpda seorng lelaki syi'ah bernama abdur ridaa. hempher menggunkan perkenalan tersebut bagi memahami budaya masyarakat syi'ah.
ketikadi bashrah, hempher memberi tahu beliau mula berknalan dngan seorng pelajar remaja bernama

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB yg mahir berbahasa turki, arab, dan parsi.hempher sangat heran bagai mana ibnu wahab yg bermadzhab sunni amat baik dngan yg bemadzhab syi'ah, kemingkinan menurutnya karena ibnu wahab mahir berbahasa parsi.

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB (IBNU WAHAB) menjelaskan bahwa umat islam tidak patut mengikuti madzhab2 karena al qur'an tdk pernah menyebutnya. berdasarkan gaya tingkah laku ibnu wahab,

Hempher menyimpulkan dia seorng yg suka BERCAKAP MENGIKUTI NAFSU, pemarah dan agak angkuh.pelajar arab yg baru di kenal ini sangat sesuai untuk dimanipulasi. hampher menyebut:

THE ARROGANT YOUNGSTER, MUHAMMAD OF NAJD, WOUL FOLLOW HIS NAFS (HIS SENSUOUS DESIRES) IN UNDERSTANDING THE QUR'AN AND THE SUNNA. HE WOUL COMPLETELY IGNORE THE VIEWS OF VIEWS OF SCHOLARS, NOT ONLY THOSE OF THE SCHOLARS OF HIS TIME AND THE LEADEES OF THE FOUR MADH-HABS, BUT ALSO THOSE OF THE NOTABLE SAHAABEES SUCH AS ABOO BAKR AND UMAR.

Di kutip dari dokumen yg bernama MEMOIRS OF MR. HEMPHER, THE BRITISH SPY TO THE MIDDLE EAST yg di terbitkan dalam surat kabar spiegel di jerman...

wallahu alam
---------------------------------------------------------------------
Untuk yang anti Ta'wil

Ibnu Abbas mengajarkan Ta'wil dan Fikih

Kitab al hilyah 1/320
Bagaimna dngan ilmu syayyidina ibnu abbas ra akan takwil?

KAUM MUSLIMIN BERKKUMPUL DI RUMAH SYAYYIDINA IBNU ABBAS RA DAN BELIAU MENGAJARKN SELURUH PERMASALAHN ILMU

Abu nu'aim meriwayatkn hadis dalm kitab al hilyah 1/320 dari abu shaleh ia berkata: aku melihat ibnu abbas ra sedang duduk, dan sungguh, andaikan ada orng quraisy yg di agungkn maka dialah orng yg pantas di agungkan.sungguh aku melihat orng2 berkumpul hingga memenuhui jalan2 shngga tdk ada lagi jalan untuk orng yg dtng dan pergi. kemudian akupun masuk menemuinya dan memberikntahukan bahwa bnyak orng ada berada di pintu rumahnya.

ia berkata (ibnu abbas ra) : letakkanlah air wudhu untukku,

kemudian iapun berwudhu dan duduk berkata: keluarlah dan katakan kepda mereka: barang siapa yg hendak bertanya tentang al qur'an, hurufnya dan sesuatu yg ada hubungannya dngan al qur'an masuklah.

aku (abu shaleh) pun keluar mengizinkan mereka masuk hingga memenuhi rumah dan kamarnya. mereka tdk berkata apapun kpda ibnu abbas ra kecuali beliau sendri yg memberiyahukan kpda mereka serta menmbahkn apa2 yg mereka tanyakan atau memperbnyaknya.
 
Kemudian ia berkta: perhatikanlah, saudara2! kalian janganlah duduk terlalu lama karena yg lain sedang menunggu.
merkapun keluar.

ia (ibnu abbas ra) berkata: keluarlah dan katakn BARANG SIAPA YG HENDAK BERTANYA TENTANG TAFSIR AL QUR'AN DAN TA'WILNYA, MASUKLAH. dst.
Syaidina ibnu abbas ra trus mngjarkn ilmu fiqih, faraidh, syair bahasa arab dan maslah2 yg sulit di fahami.

Imam al hakim 3/538 mengeluarkn hadis sperti ini...
Foto Doni Apriyadi. 

  ----------------------------------------------------------------------------------------------

Hilyat al-Auliya' wa Thabaqat al-Ashfiya - Abu Nu'aim al-Asfahani

حلية الأولياء وطبقات الأصفياء
أبو نعيم الأصفهاني


المصنف هو أحمد بن عبد الله الأصفهاني في "أبو نعيم" ولد في رجب سنة 336هـ ببلدته أصبهان، وهي بلد العلم التي خرجت أجيالاً من كبار مشاهير العلماء والحفاظ فقد أجمع العلماء على فضله وإمامته وتقدمه في علم الحديث، كما تدل آثاره على سعة اطلاعه وحفظه وتبحره في هذا العلم وهو ثقة فاضل. ومن الفنون المهمة التي كان يجيدها فن القراءات، وقد ألف الأصفهاني كتاب "تاريخ أصبهان" و"حلية الأولياء" فعدّوه من المؤرخين. وجملة القول أنه كان ملماً بكل فنون المعرفة في عصره، فهو محدث، مؤرخ، مفسر، فقيه، قارئ؛ وإن كان تخصصه الذي عرف به وقصد من أجله هو فن الحديث. وقد أثرى المكتبة الإسلامية بذخائر مؤلفاته التي اشتهرت وانتشرت.

والكتاب الذي بين أيدينا هو من مؤلفاته الهامة، وكما يظهر من عنوانه "حلية الأولياء وطبقات الأصفياء" أن موضوعه في الزهاد والعبّاد والصالحين. وهو يتضمن أسماء جماعة من أعلام المتحققين من المتصوفة وبعض أحاديثهم وكلامهم وأئمتهم وترتيب طبقاتهم من النساك ومحجتهم من قرن الصحابة والتابعين ومن بعدهم ممن عرف الأدلة والحقائق، وباشر الأحوال، وساكن الرياض والحدائق، وفارق العوارض والعلائق. والمصنف لم يلتزم بمنهج محدد في تأليفه للكتاب، ولكن هناك ملامح رئيسية تتضح من خلال الاطلاع على الكتاب، فبدأ كتابه بالعشرة المبشرين بالجنة، ثم أورد زهاد الصحابة، ثم أهل الصفة، ثم التابعين وتابعيهم، ثم من يليهم إلى عصره. ومن ذلك يتضح أن المؤلف راعى الترتيب في الفضل إلى جانب الزمن، وبحكم أنه حافظ ومحدث فإن مؤلفاته تأتي كلها عبارة عن مرويات بالسند المتصل سواء كانت أخباراً أو أحاديث وخلافه.

ولعل هذا الكتاب هو أوسع كتاب في ذكر أسماء النساك والعباد في المكتبة العربية، وقد ذكر المؤلف أكبر عدد منهم من عصر الصحابة حتى عصر تأليفه، وهو إلى جانب ذلك هو من أغنى الكتب بالحكم المختارة النافعة، والكلمات المؤثرة الرائعة وأقوال العلماء والوعاظ، وأرباب القلوب، بالإضافة إلى مجموعة كبيرة من المقتطفات من الشعر الإلهي. والكتاب من هذه الناحية هو مصدر مهم لدارسي هذا الشعر من وجهة النظر الأدبية ففيه مجموعة قيمة من الخاصيات الإلهية، وطائفة من الأدعية الجميلة التي صيغت بلغة راقية وأسلوب محكم، وفيه حكايات مشوقة تأخذ بالألباب، وقد تكون هذه الخصيصة من أهم العوامل التي أكسبت الكتاب شهرة فائقة، وجعلت الناس يتعلقون به





Read Now 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8*, 9, 10


DOWNLOAD :
PDF (Cover-1-2-3-4-5-6-7-8-9-10) #
PDF (Cover-1-2-3-4-5-6-7-8-910) #
PDF (1-10)
(DOC)

Semoga bermanfaat. 

Ciri khas orang wahabi salafi

CIRI KHAS PAHAM WAHABI SALAFI YANG WAJIB ANDA PAHAMI UNTUK MEMBEDAKAN DENGAN ASWAJA (AHLUSSUNNAH WAL JAMA`AH, ASWADUL ADZOM)
SERTA 55 MACAM CIRI KHAS AQIDAH SESAT MEREKA
Oleh : KH Thobary Syadzily
Ini adalah sebagian ciri khas wahabi yang tekah kami cek dan ricek dari berbagai sumber kitab kitab Ulama.dan tentu tidak mudah menelaahnya satu persatu sehingga mendapatkan data demikian.anda katakanlah ambil masaknya saja sebagai pedoman dan ada baiknya anda mengkaji Ulang dari kitab kitab Ulama wahabi jika memang mau kebenaran.
Mari kita simak kajian kami ciri khas wahabi sbb :
AQIDAH
1. Membagi Tauhid menjadi 3 bagian yaitu:
(a). Tauhid Rububiyyah: Dengan tauhid ini, mereka mengatakan bahwa kaum musyrik Mekah dan orang-orang kafir juga mempunyai tauhid.
(b). Tauhid Uluhiyyah: Dengan tauhid ini, mereka menafikan tauhid umat Islam yang bertawassul, beristigathah dan bertabarruk sedangkan ketiga-tiga perkara tersebut diterima oleh jumhur ulama‟ Islam khasnya ulama‟ empat Imam madzhab.
(c.) Tauhid Asma’ dan Sifat: Tauhid versi mereka ini bisa menjerumuskan umat islam ke lembah tashbih dan tajsim kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala seperti:
Menterjemahkan istiwa’ sebagai bersemayam/bersila
Merterjemahkan yad sebagai tangan
Menterjemahkan wajh sebagai muka
Menisbahkan jihah (arah) kepada Allah (arah atas – jihah ulya)
Menterjemah janb sebagai lambung/rusuk
Menterjemah nuzul sebagai turun dengan dzat
Menterjemah saq sebagai betis
Menterjemah ashabi’ sebagai jari-jari, dll
Menyatakan bahawa Allah SWT mempunyai “surah” atau rupa
Menambah bi dzatihi haqiqatan [dengan dzat secara hakikat] di akhir setiap ayat-ayat mutashabihat
2. Memahami ayat-ayat mutashabihat secara zhahir tanpa penjelasan terperinci dari ulama-ulama yang mu’tabar
3. Menolak asy-Sya’irah dan al-Maturidiyah yang merupakan ulama’ Islam dalam perkara Aqidah yang diikuti mayoritas umat islam
4. Sering mengkrititik asy-Sya’irah bahkan sehingga mengkafirkan asy-Sya’irah.(SUNNI)
5. Menyamakan asy-Sya’irah dengan Mu’tazilah dan Jahmiyyah atau Mu’aththilah dalam perkara mutashabihat.
6. Menolak dan menganggap tauhid sifat 20 sebagai satu konsep yang bersumberkan falsafah Yunani dan Greek.
7. Berlindung dibalik nama Salaf. Dgn mengtkan pengikut salafus sholeh.padahal akidah salaf ALLAH ADA TIDAK BERARAH DAN TIDAK BERTEMPAT.sementara mereka kebalikannya !!
8. Golongan mereka ini dikenal sebagai al-Hasyawiyyah, al-Musyabbihah, al-
Mujassimah atau al-Jahwiyyah dikalangan ulama’ Ahli Sunnah wal Jama’ah.
9. Sering menuduh bahwa Abu Hasan Al-Asy’ari telah kembali ke mazhab Salaf setelah bertaubat dari mazhab asy-Sya’irah. Menuduh ulama’ asy-Sya’irah tidak betul-betul memahami faham Abu Hasan Al-Asy’ari.
10. Menolak ta’wil dalam bab Mutashabihat.
11. Sering menuduh bahwa mayoritas umat Islam telah jatuh kepada perbuatan syirik.
12. Menuduh bahwa amalan memuliakan Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam [membaca maulid dll] membawa kepada perbuatan syirik.
13. Tidak mengambil pelajaran sejarah para anbiya’, ulama’ dan sholihin dengan
dalih menghindari syirik.
14. Pemahaman yang salah tentang makna syirik, sehingga mudah menghukumi orang sebagai pelaku syirik.
15. Menolak tawassul, tabarruk dan istighathah dengan para anbiya’ serta sholihin.
16. Mengganggap tawassul, tabarruk dan istighathah sebagai cabang-cabang syirik.
17. Memandang remeh karamah para wali [auliya’].
18. Menyatakan bahwa ibu bapa dan datuk Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak selamat dari adzab api neraka.
19. Mengharamkan mengucap “radhiallahu ‘anha” untuk ibu Rosulullah Shollallohu ‘alaihi wa sallam, Sayyidatuna Aminah.
SIKAP
1. Sering membid’ahkan amalan umat Islam bahkan sampai ke tahap mengkafirkan
mereka.
2. Mengganggap diri sebagai mujtahid atau berlagak sepertinya (walaupun tidak layak).
3. Sering mengambil hukum secara langsung dari al-Qur’an dan hadits (walaupun tidak layak).
4. Sering memtertawakan dan meremehkan ulama’ pondok dan golongan agama yang lain.
5. Ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang ditujukan kepada orang kafir sering ditafsir ke atas orang Islam.
6. Memaksa orang lain berpegang dengan pendapat mereka walaupun pendapat itu syaz (janggal).
HADITS
1. Menolak beramal dengan hadis dho’if.
2. Penilaian hadits yang tidak sama dengan penilaian ulama’ hadits yang lain.
3. Mengagungkan Nasiruddin al-Albani di dalam bidang ini [walaupun beliau tidak
mempunyai sanad bagi menyatakan siapakah guru-guru beliau dalam bidang hadits.
[Bahkan mayoritas muslim mengetahui bahwa beliau tidak mempunyai guru dalam bidang hadits dan diketahui bahawa beliau belajar hadits secara sendiri dan ilmu jarh dan ta’dil beliau adalah mengikut Imam al-Dhahabi].
4. Sering menganggap hadits dho’if sebagai hadits mawdhu’ [mereka mengumpulkan hadits dho’if dan palsu di dalam satu kitab atau bab seolah-olah kedua-dua kategori hadits tersebut adalah sama]
5. Pembahasan hanya kepada sanad dan matan hadits, dan bukan pada makna hadits. Oleh karena itu, pebedaan pemahaman ulama’ [syawahid] dikesampingkan.
QUR’AN
1. Menganggap tajwid sebagai ilmu yang menyusahkan dan tidak perlu (Sebagian Wahabi indonesia yang jahil)
FIQH
1. Menolak mengikuti madzhab imam-imam yang empat; pada hakikatnya
mereka bermadzhab “TANPA MADZHAB”.bgmana mau dikatakan bermadzab jika byk hal mereka mencela imam mazab bahkan jahil kitab imam madzab.
2. Mencampuradukkan amalan empat mazhab dan pendapat-pendapat lain sehingga membawa kepada talfiq [mengambil yang disukai] haram
3. Memandang amalan bertaqlid sebagai bid’ah; mereka mengklaim dirinya berittiba’
4. Sering mengungkit dan mempermasalahkan soal-soal khilafiyyah
5. Sering menggunakan dakwaan ijma’ ulama dalam masalah khilafiyyah
6. Menganggap apa yang mereka amalkan adalah sunnah dan pendapat pihak lain adalah Bid’ah
7. Sering menuduh orang yang bermadzhab sebagai ta’assub [fanatik] mazhab
8. Salah faham makna bid‟ah yang menyebabkan mereka mudah membid‟ahkan orang lain
9. Mempromosikan madzhab fiqh baru yang dinamakan sebagai Fiqh al-Taysir, Fiqh al-Dalil, Fiqh Musoffa, dll [yang jelas keluar daripada fiqh empat mazhab]
10. Sering mewar-warkan agar hukum ahkam fiqh dipermudahkan dengan menggunakan hadis “Yassiru wa la tu’assiru, farrihu wa la tunaffiru”
11. Sering mengatakan bahwa fiqh empat madzhab telah ketinggalan zaman
NAJIS
1. Sebagian mereka sering mempermasalahkan dalil akan kedudukan babi sebagai najis mughallazhah
2. Menyatakan bahwa bulu babi itu tidak najis karena tidak ada darah yang mengalir.
WUDHU’
1. Tidak menerima konsep air musta’mal
2. Bersentuhan lelaki dan perempuan tidak membatalkan wudhu’
3. Membasuh kedua belah telinga dengan air basuhan rambut dan tidak dengan air yang baru.
ADZAN
1. Adzan Juma’at sekali; adzan kedua ditolak
SHALAT
1. Mempromosikan “Sifat Shalat Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam‟, dengan alasan kononnya shalat berdasarkan fiqh madzhab adalah bukan sifat shalat Nabi yang benar
2. Menganggap melafazhkan kalimat “usholli” sebagai bid’ah.
3. Berdiri dengan kedua kaki mengangkang.
4. Tidak membaca “Basmalah‟ secara jahar.
5. Menggangkat tangan sewaktu takbir sejajar bahu atau di depan dada.
6. Meletakkan tangan di atas dada sewaktu qiyam.
7. Menganggap perbedaan antara lelaki dan perempuan dalam shalat sebagai perkara bid‟ah (sebagian Wahabiyyah Indonesia yang jahil).
8. Menganggap qunut Subuh sebagai bid’ah.
9. Menggangap penambahan “wa bihamdihi” pada tasbih ruku’ dan sujud adalah bid’ah.
10. Menganggap mengusap muka selepas shalat sebagai bid’ah.
11. Shalat tarawih hanya 8 rakaat; mereka juga mengatakan shalat tarawih itu
sebenarnya adalah shalat malam (shalatul-lail) seperti pada malam-malam lainnya
12. Dzikir jahr di antara rakaat-rakaat shalat tarawih dianggap bid’ah.
13. Tidak ada qadha’ bagi shalat yang sengaja ditinggalkan.
14. Menganggap amalan bersalaman selepas shalat adalah bid’ah.
15. Menggangap lafazh sayyidina (taswid) dalam shalat sebagai bid’ah.
16. Menggerak-gerakkan jari sewaktu tasyahud awal dan akhir.
17. Boleh jama’ dan qashar walaupun kurang dari dua marhalah.
18. Memakai sarung atau celana setengah betis untuk menghindari isbal.
19. Menolak shalat sunnat qabliyyah sebelum Juma’at
20. Menjama’ shalat sepanjang semester pengajian, karena mereka berada di landasan Fisabilillah
DO’A, DZIKIR DAN BACAAN AL-QUR’AN
1. Menggangap do’a berjama’ah selepas shalat sebagai bid’ah.
2. Menganggap dzikir dan wirid berjama’ah sebagai bid’ah.
3. Mengatakan bahwa membaca “Sodaqallahul ‘azhim” selepas bacaan al-Qur’an adalah Bid’ah.
4. Menyatakan bahwa do’a, dzikir dan shalawat yang tidak ada dalam al-Qur’an dan Hadits sebagai bid’ah. Sebagai contoh mereka menolak Dala’il al-Khairat, Shalawat al-Syifa‟, al-Munjiyah, al-Fatih, Nur al-Anwar, al-Taj, dll.
5. Menganggap amalan bacaan Yasin pada malam Jum’at sebagai bid’ah yang haram.
6. Mengatakan bahwa sedekah atau pahala tidak sampai kepada orang yang telah wafat.
7. Mengganggap penggunaan tasbih adalah bid’ah.
8. Mengganggap zikir dengan bilangan tertentu seperti 1000 (seribu), 10,000 (sepuluh ribu), dll sebagai bid’ah.
9. Menolak amalan ruqiyyah syar’iyah dalam pengobatan Islam seperti wafa‟, azimat, dll.
10. Menolak dzikir isim mufrad: Allah Allah.
11. Melihat bacaan Yasin pada malam nisfu Sya’ban sebagai bid’ah yang haram.
12. Sering menafikan dan memperselisihkan keistimewaan bulan Rajab dan Sya’ban.
13. Sering mengkritik keutamaan malam Nisfu Sya’ban.
14. Mengangkat tangan sewaktu berdoa’ adalah bid’ah.
15. Mempermasalahkan kedudukan shalat sunat tasbih.
PENGURUSAN JENAZAH DAN KUBUR
1. Menganggap amalan menziarahi maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, para anbiya’, awliya’, ulama’ dan sholihin sebagai bid’ah dan shalat tidak boleh dijama’ atau qasar dalam ziarah seperti ini.
2. Mengharamkan wanita menziarahi kubur.
3. Menganggap talqin sebagai bid’ah.
4. Mengganggap amalan tahlil dan bacaan Yasin bagi kenduri arwah sebagai bid’ah yang haram.
5. Tidak membaca do’a selepas shalat jenazah.
6. Sebagian ulama’ mereka menyeru agar Maqam Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dikeluarkan dari masjid nabawi atas alasan menjauhkan umat Islam dari syirik
7. Menganggap kubur yang bersebelahan dengan masjid adalah bid’ah yang haram
8. Do’a dan bacaan al-Quran di perkuburan dianggap sebagai bid’ah.
MUNAKAHAT [PERNIKAHAN]
1. Talak tiga (3) dalam satu majlis adalah talak satu (1)
MAJLIS SAMBUTAN BERAMAI-RAMAI
1. Menolak peringatan Maulid Nabi; bahkan menyamakan sambutan Mawlid Nabi dengan perayaan kristen bagi Nabi Isa as.
2. Menolak amalan marhaban para habaib
3. Menolak amalan barzanji.
4. Berdiri ketika bacaan maulid adalah bid’ah
5. Menolak peringatan Isra’ Mi’raj, dll.
HAJI DAN UMRAH
1. Mencoba untuk memindahkan “Maqam Ibrahim as.” namun usaha tersebut telah digagalkan oleh al-Marhum Sheikh Mutawalli Sha’rawi saat beliau menemuhi Raja Faisal ketika itu.
2. Menghilangkan tanda telaga zam-zam
3. Mengubah tempat sa’i di antara Sofa dan Marwah yang mendapat tentangan ulama’ Islam dari seluruh dunia
PEMBELAJARAN DAN PENGAJARAN
1. Maraknya para professional yang bertitle LC menjadi “ustadz-ustadz‟ mereka (di Indonesia.hanya sebagian kecil yang bergelar LC namun mereka benar benar SUNNI)
2. Ulama-ulama yang sering menjadi rujukan mereka adalah:
a. Ibnu Taymiyyah al-Harrani
b. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
c. Muhammad bin Abdul Wahhab
d. Sheihk Abdul Aziz bin Baz
e. Nasiruddin al-Albani
f. Sheikh Sholeh al-Utsaimin
g. Sheikh Sholeh al-Fawzan
h. Adz-Dzahabi dll.
3. Sering mendakwahkan untuk kembali kepada al-Qura’an dan Hadits (tanpa menyebut para ulama’, sedangkan al-Qura’n dan Hadits sampai kepada umat Islam melalui para ulama’ dan para ulama’ juga lah yang memelihara dan menjabarkan kandungan al-Qur’an dan Hadits untuk umat ini)
4. Sering mengkritik Imam al-Ghazali dan kitab “Ihya’ Ulumuddin”
PENGKHIANATAN MEREKA KEPADA UMAT ISLAM
1. Bersekutu dengan Inggris dalam menjatuhkan kerajaan Islam Turki Utsmaniyyah
2. Melakukan perubahan kepada kitab-kitab ulama’ yang tidak sehaluan dengan mereka
3. Banyak ulama’ dan umat Islam dibunuh sewaktu kebangkitan mereka di timur tengah
4. Memusnahkan sebagian besar peninggalan sejarah Islam seperti tempat lahir Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meratakan maqam al-Baqi’ dan al-Ma’la [makam para isteri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di Baqi’, Madinah dan Ma’la, Mekah], tempat lahir Sayyiduna Abu Bakar dll, dengan hujjah tempat tersebut bisa membawa kepada syirik.
5. Di Indonesia, sebagian mereka dalu dikenali sebagai Kaum Muda atau Mudah [karena hukum fiqh mereka yang mudah, ia merupakan bentuk ketaatan bercampur dengan kehendak hawa nafsu].
TASAWWUF DAN THARIQAT
1. Sering mengkritik aliran Sufisme dan kitab-kitab sufi yang mu’tabar
2. Sufiyyah dianggap sebagai kesamaan dengan ajaran Budha dan Nasrani
3. Tidak dapat membedakan antara amalan sufi yang benar dan amalan bathiniyyah yang sesat.
Wallahu a’lam bish-Showab wal hadi ila sabilil haq.
55 Ciri-Ciri Salafi Wahabi
Oleh : KH Thobary Syadzily
Inilah kejahatan & kesesatan aliran Salafi Wahabi yakni ajaran yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab at-Tamimi an-Najdi :
1. Allah bersemayam di atas ‘arsy seperti akidahnya kaum Yahudi.
2. Golongan yang beriman kepada setengah ayat Al-Qur’an dan kafir dengan setengah ayat Al-Quran yang lain.
3. Golongan yang menolak Takwil pada setengah ayat, dan membolehkan Takwil pada setengah ayat yang lain berdasarkan mengikuti hawa nafsu mereka.
4. Golongan yang menafikan Kenabian Nabi Adam A.S.
5. Golongan yang menyatakan bahwa Alam ini Qidam/Maha Dahulu (Rujuk pandangan ibn Taimiyyah).
6. Golongan yang mengkafirkan Imam Abu al-Hasan Al-Asy’ari dan para pengikutnya.
7. Golongan yang mengkafirkan Sultan Sholahuddin Al-Ayyubi dan Sultan Muhammad Al-Fateh.
8. Golongan yang mengkafirkan Imam An-Nawazwi dan Seluruh Ulama Islam yang menjadi para pengikutnya (Asy’ariyah dan Maturidiyah).
9. Golongan yang mengdhoifkan hadits-hadits shohih dan mengshohihkan hadis-hadis dhoif (lihat penulisan Albani).
10. Golongan yang tidak mempelajari ilmu dari Guru atau Syeikh, hanya copy paste dan membaca dari buku2 dsb.
11. Golongan yang mengharamkan bermusafir ke Madinah dengan niat ziarah Nabi Muhammad SAW.
12. Golongan yang membunuh Ummat Islam beramai-ramai di Mekah, Madinah, dan beberapa kawasan di tanah Hijaz (lihat tarikh an-Najdi).
13. Golongan yang meminta bantuan Askar dan Senjata pihak Britain (yang bertapak di tempat Kuwait pada ketika ini) ketika kalah dalam perang ketika mereka ingin menjajah Mekkah dan Madinah.
14. Golongan yang menghancurkan turath (sejarah peninggalan) Ummat Islam di Mekkah dan Madinah.(lihat kawasan pekuburan Jannatul Baqi, Bukit Uhud dsb)
15. Golongan yang membenci kaum ahlul bait.
16. Golongan yang bertentangan dengan Ijma para Shohabah, Tabiin, Salaf, Khalaf dan seluruh Ulama ASWAJA.
17. Golongan yang mendakwa akal tidak boleh digunakan dalam dalil syara’, dengan menolak fungsi akal (ayat-ayat Al-Quran menyarankan menggunakan akal)
18. Golongan yang mengejar syuhrah (pangkat, nama, promosi,kemasyhuran) dengan menggunakan pemahaman mereka yang salah terhadap Al-Qura’n dan As-Sunnah.
19. Golongan yang mengdhoifkan hadis solat tarawih 20 rakaat.(Albani)
20. Golongan yang mengharamkan menggunakan Tasbih.(Albani)
21. Golongan yang mengharamkan berpuasa pada hari sabtu walaupun hari Arafah jatuh pada hari tersebut.(Albani)
22. Golongan yang melecehkan Imam Abu Hanifah R.A.(Albani)
23. Golongan yang mendakwa Allah memenuhi alam ini dan menghina Allah dengan meletakkan anggota pada Allah SWT.
24. Golongan yang mendakwa Nabi Muhammad SAW tidak hayyan (hidup) di kuburan beliau .(Albani)
25. Golongan yang melarang membaca Sayyidina dan menganggap perbuatan itu bidah dholalah / sesat.
26. Golongan yang mengingkari membaca Al-Quran dan membaca talqin pada orang yang meninggal.
27. Golongan yang melarang membaca shalawat selepas azan.(Albani)
28. Golongan yang mengatakan Syurga dan Neraka ini fana (tidak akan kekal).(ibn Taimiyyah)
29. Golongan yang mengatakan lafaz talaq tiga tidak jatuh, jika aku talaq kamu dengan talaq tiga . (ibn Taimiyyah).
30. Golongan yang mengisbatkan (menyatakan/menetapkan) tempat bagi Allah. (Ibn Taimiyyah)
31. Golongan yang menggunakan wang ringgit untuk menggerakkan ajaran sesat mereka, membuat tadlis (penipuan dan pengubahan) di dalam kitab-kitab ulama yang tidak sependapat dengan mereka.
32. Golongan yang mengkafirkan orang Islam yang menetap di Palestine sekarang ini. (Albani)
33. Golongan yang membidahkan seluruh ummat Islam.
34. Golongan yang menghukumi syirik terhadap amalan ummat Islam yang tidak sepaham dengan mereka.
35. Golongan yang membawa ajaran tauhid dan tidak pernah belajar ilmu tauhid.(Ibn Taimiyyah)
36. Golongan yang mengatakan bahwa Abu Jahal dan Abu Lahab juga mempunyai tauhid, tidak pernah Nabi Muhammad SAW mengajar begini atau pun para Shohabah R.A. (Muhammad Abdul Wahab)
37. Golongan yang membolehkan memakai lambang salib hanya semata-mata untuk mujamalah/urusan resmi kerajaan, dan hukumnya tidak kufur. (Bin Baz)
38. Golongan yang membiayai keuangan Askar Kaum Kuffar untuk membunuh Ummat Islam dan melindungi negara mereka. (kerajaan Wahhabi Saudi)
39. Golongan yang memberi Syarikat-syarikat Yahudi memasuki Tanah Haram.(Kerajaan Wahhabi Saudi)
40. Golongan yang memecah-belah Ummat Islam dan institusi kekeluargaan.
41. Golongan yang mengharamkan Maulid dan bacaan-bacaan barzanji, marhaban.
41. Golongan yang menghalalkan bom bunuh diri atas nama jihad walaupun orang awam kafir yang tidak bersenjata mati. (selain di Palastine)
43. Golongan yang menghalalkan darah Ahlus Sunnah Wal Jamaah Asy’ariyah dan Maturidiyah. Lihat di Lubnan, Chechnya, Algeria, dan beberapa negara yang lain.
44. Golongan yang menimbulkan fitnah terhadap Ummat Islam dan menjelek-jelekkan nama baik Islam.
45. Golongan yang membuat kekacauan di Fathani, Thailand.
46. Golongan yang sesat menyesatkan rakyat Malaysia.
47. Golongan yang meninggalkan ajaran dan ilmu-ilmu Ulama ASWAJA yang muktabar.
48. Golongan yang meninggalkan methodologi ilmu ASWAJA.
49. Golongan yang Minoritas dalam dunia, malah baru berumur setahun jagung.
50. Golongan yang menuduh orang lain dengan tujuan melarikan diri atau menyembunyikan kesesatan mereka.
51. Golongan yang jahil, tidak habis mempelajari ilmu-ilmu Agama, tetapi ingin membuat fatwa sesuka hati.
52. Golongan yang melarang bertaqlid, tetapi mereka lebih bertaqlid kepada mazhab sesat mereka.
53. Golongan yang secara zahirnya berjubah, berkopiah, singkat jubah, janggut panjang, tetapi berlewat, tidak menghormati ulama, mengutuk para Alim Ulama dan tidak amanah dengan ilmu dan agama Islam.
54. Golongan yang tidak hujjah dalam ajaran mereka.
55. Golongan yang membawa ajaran sesat Ibn Taimiyyah/Muhamad Ibn Abd Wahab, kedua-dua individu ini telah dicemooh, ditentang, dijawab dan dikafirkan oleh Jumhur Ulama ASWAJA atas dasar akidah mereka yang sesat.
56. Jidatnya Hitam

Wallahu A'lam

Kitab Riadus Sholihin

Download Kitab Riyadus Shalihin PDF
رياض الصالحين

Name : Riyadhu al-Shalihin
Author : Abi Zakariya Yahya bin Syarafuddin al-Nawawi

الإسم : رياض الصالحين
المؤلف: أبي زكريا يحي بن شرف الدين النووي


File : PDF
Size : 12.9 MB

DOWNLOAD


Tidak ada komentar:

Semoga bermanfaat

Sabtu, 01 Agustus 2015

Zakir Naik adalah kelompok orang Wahabi


Dikatakan WAHABI bukan berrti Menghina Akan tapi Pemikiran nya tidak sesuai dgn Manhaj salaf dan Manhaj nya Ahlussunnah waljama'ah.

Tonton "Bukti Zakir Naik adalah Wahabi saat menjawab pertanyaan 'Kenapa Ada Banyak Kelompok Islam'"

Dia mengatakan,

" Seharusnya tidak ada kelompok dalam islam seperti ada nya Hanafi, maliki, syafi'i, hanbali. Kembalikan semua nya kepada kirab Alqur'an dan hadits shohih "

Kata " kembali kepada al qur'an dan hadis ", ini ciri-ciri orang yang berpaham wahabi


Pertanya'annya???
 

Apakah imam empat majhab tidak berdalilkan qur'an dan hadits???
‪Mereka itu sama² berdalilkan hadits dan qur'an, akan tapi PEMAHAMAN tengtang qur'an dan hadits nya berbeda², ingat,!!! bukan Dari segi Dalil nya yg Beda, Misal nya imam Ahmad berdalil kitab injil sedangkan imm syafi'e berdalil qur'an bukan itu masalah nya,
 

Mereka imam majhab itu sama² Mengambil dalil dari qur'an atau hadits, Akat tapi Perbeda'an nya hanya dari segi PEMAHAMAN.
Itu menurut Masing² ijtihad Mereka dalam Memahami Hadits dan qur'an.....
 

Dan Ummat islam berpegang kpd imam Majhab bukan berrti tidak Mengikuti Qur'an dan hadits akan tapi
Mereka tidak berani Memahami dalil dari Qur'an kerna ilmu Mereka tidak sampai kpd derajat IJTIHAD takut klo salah memahami Dalil.
 

Nahhh sedangkan orang berpaham Wahabi sangat berani Memahami dalil sendiri seolah-olah mereka meras sebagai ahli hadis dan sederajat dengan para imam madzhab, Padahal orang wahabi sendiri sastra bahasa arab tidak mnguasai, qur'an tidak hapal, hadits hanya puluhan ato ratusan belum sampai kpd derajat Muhaddits yg hapal paling tida 40.000 hadits.
 

Mana yg lebih selamat???
Mengikut PEMAHAMAN Para Ulama ??
Ato Memahami sendiri tanpa ilmu seperti orang wahabi???



Masih mau percaya dengan orang wahabi??

.
di YouTube
https://www.youtube.com/watch…

Wahabi mencatut Imam Syafi'i dalam tuchid tiga macam

Sumber : https://generasisalaf.wordpress.com/2014/04/01/salafy-wahabi-memfitnah-mencatut-nama-imam-syafii-demi-melegalkan-konsep-tritauhid-salafy-wahabi/
menggunting1
Aksi keji kelompok Wahabi Salafi kembali terjadi. Di dalam sebuah buku (yang belum diketahui siapa pengarang dan judulnya), kelompok Wahabi Salafi dengan begitu beraninya melakukan fitnah dan kebohongan besar terhadap salah satu ulama ahlussunnah wal jama’ah, Imam Syafi’i. Seorang ulama kenamaan pendiri Madzhab Syafi’i diftnah mengikuti aqidah mujassimah.

Disebutkan dalam buku fitnah tersebut dengan judul yang begitu jelas tertulis “Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga”. Yang dimaksudkan adalah tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.
Selama ini, tidak ada satu pun ulama yang membagi tauhid menjadi tiga baik ulama salaf maupun khalaf. Apalagi Imam Syafi’i, sejak kapan beliau membagi tauhid menjadi tiga? Darimana sumber yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i membagi-bagi tauhid menjadi tiga? Yang melakukan hal itu hanyalah dari kelompok Wahabi Salafi saja. Astaghfirulloh, kami berlindung kepada Allah dari fitnah Wahabi Salafi.
Berikut kami nukilkan potongan tulisan yang berisi fitnah yang mengatasnamakan Imam Syafi’i dalam buku itu:
Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga
Berdasarkan penelitian yang saksama terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, para ulama menyimpulkan bahwa tauhid dibagi menjadi:
1. Tauhid Rububiyyah,
2. Tauhid Uluhiyyah,
3. Tauhid Asma wa Shifat.
Pembagian tauhid ini bukanlah perkara baru (baca: bid’ah) apalagi menyerupai agama trinitas, tetapi pembagian ini berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan pembagian para ulama ahli bahasa yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fi’il, dan huruf.
Berikut adalah gambar scan buku fitnah tersebut:
Manipulasi Salafy-wahabi Imam Syafi'i tidak pernah mengakui konsep tri tauhid-00
Pencatutan nama Imam Syafi'i demi melegalkan konsep TriTauhid Salafy-Wahabi
Pencatutan nama Imam Syafi’i demi melegalkan konsep TriTauhid Salafy-Wahabi
Astaghfirulloh. Itulah satu dari sekian banyak bukti bagaimana Wahabi Salafi menghalalkan segala cara untuk menyebarkan pahamnya sampai-sampai melakukan fitnah dan kebohongan kepada para ulama salaf ahlussunnah wal jama’ah. Padahal Imam Syafi’i dan ulama-ulama salaf lainnya tidak pernah membagi tauhid menjadi tiga seperti di atas. Karena, ketiga “Aqidah Trinitas” tersebut adalah aqidah kaum Mujassimah yang dianut oleh Wahabi Salafi dan ujung-ujugnya membid’ahkan dan memusyrikkan amaliyah ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak sepaham dengan aqidah mereka.
Tauhid Imam Syafi'i menurut ulama-ulama mu'tabar Syafi'iyyah
Hal itu bisa dilihat dan dibuktikan di dalam kitab tauhid “AL-KAWKABUL AZHAR SYARAH AL-FIQHUL AKBAR “ karya Imam Syafi’i sebagai berikut:
Kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i
قال الشافيع رحمه الله تعالى ( فان قيل : أليس قد قال الله تعالى ( الرحمن على العرش استوى ) يقال ان هذه الأية من المتشابهات و الذي نختار من الجواب عنها و عن أمثالها لمن لا يريد التبحر فى العلم أن يمر بها كما جاءت و لا يبحث عنها و لا يتكلم فيها لأنه لا يأمن من الوقوع فى ورطة التشبيه اذا لم يكن راسخا فى العلم . و يجب أن يعتقد فى صفات الباري تعالى من ذكرناه و أنه لا يحويه مكان و لا يجري عليه زمان منزه عن الحدود و النهايات مستغن عن المكان و الجهات و يتخلص من الهالك و الشبهات . و لهذا المعنى زجر مالك رحمه الله رجلا حين سأله عن هذه الأية فقال : الاستواء مذكور و الكيفية مجهولة و الايمان به واجب و السؤال عنه بدعة ثم قال : و ان عدت الى مثله أمرت بضرب رقبته . أعاذنا الله و اياكم من التشبيه
Berkata Imam Syafi’i, semoga Allah ta’ala merahmatinya: (Maka seandainya dikatakan: Tidakkah Allah ta’ala berfirman:
الرجمن على العرش استوى
Dikatakan bahwa ayat ini bagian dari ayat mustasyabbihat (ayat yang samar untuk mengetahui maksud dan tujuannya dan perlu penjelasan dari pakar tafsir Al-Qur’an). Adapun jawaban yang kami pilih dari ayat mutasyabbihat dan keasamaan-kesamaannya ini berlaku bagi orang yang tidak mau mendalami ilmunya agar melewatinya seperti apa adanya ayat dan tidak perlu membahas dan membicarakan ayat ini. Karena, hal ini tidak akan aman untuk terjatuh ke dalam lumpur “Tasybih”, yakni menyamakan Allah dengan makhluk apabila bukan dari golongan orang-orang yang dalam ilmunya.
Dengan demikian, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf untuk mengi’tiqadkan atau meyakinkan perkara di dalam sifat-sifat Dzat Maha Pencipta (Allah) ta’ala seperti apa yang telah kami terangkan, di mana Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku zaman bagi-Nya. Juga, Dia maha dibersihkan dari segala batasan, dan ujung dan tidak butuh kepada tempat dan arah. Dia selamat dari segala bentuk kerusakan dan keserupaan.
Oleh karena dengan adanya makna ayat ini, maka Imam Malik rahimahullah melarang kepada seseorang untuk menanyakan tentang ayat ini. Beliau berkata: Al-Istiwa’ sesuatu yang sudah disebut. Kaifiat (pertingkah) sesuatu yang samar. Iman dengan ayat ini wajib. Dan, bertanya tentang ayat ini bid’ah.
Kemudian, beliau berkata: Seandainya engkau kembali menanyakan kepada semitsal ayat ini, maka aku memerintahkan supaya engkau menepuk lehermu. Semoga Allah melindungi kita dan kalian untuk tidak menyamakan Allah dengan makhluk !
{Keterangan dari kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, halaman 68, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon. Ditulis ulang oleh KH. Muhammad Thobary Syadzily, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang).
Ketahuilah pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) telah terbukti secara ilmiah kebatilannya dan bukan bersumber dari ajaran Islam. Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkan tauhid dengan model trinitas seperti itu. Begitu juga para Sahabat Nabi tidak ada satu pun yang mengajarkan “tauhid tiga” tersebut.
Umat Islam harus paham bahwa masalah tauhid/aqidah merupakan masalah ushul, yang wajib berdasar dalil Qoth’i (pasti). Perlu dipertanyakan darimana dan apa dalil Qoth’i yang menjadi dasar pembagian tauhid tiga tersebut. Selain itu, efek samping dari ajaran “tauhid tiga” yang batil ini hanya akan menimbulkan fitnah di tengah Umat Islam. Seperti kita ketahui bersama, tauhid tiga ajaran Wahabi Salafi ujung-ujungnya hanya bermaksud untuk menuduh bahkan memvonis kaum beriman sebagai musyrik. Sebagai contoh dalam masalah tauhid asma wasifat dimana kelompok Wahabi Salafi ingin mengeluarkan faham Asy’ariah dari kelompok kaum muslimin yang benar, khususnya berkenaan dengan ayat-ayat sifat atau ayat-ayat mutasabihat yang berkaitan dengan masalah boleh tidaknya ta’wil.
Dan ternyata memang pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, dan hadits, serta tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang, mereka mengaku datang sebagai penegak Tauhid untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Mereka adalah kelompok yang terjerumus dalam aqidah tasybih dan tajsim yang menyamakan Allah SWT dengan makhlukNya. Wallohu a’lam.
*****
FITNAH SALAFY & WAHABI YANG LAIN
Mereka (wahhaby salafy) mengatakan bahwa Imam Syafi’I saja berkeyakinan bahwa Allah itu berada di atas Arsy di dalam langitnya, berikut dalil palsu mereka :Di dalam kitab Mukhtashor Al-‘ulwu halaman : 176, juga terdapat dalam ucapan Ibnu Al-Qoyyim dalam bab Ijtima’ul juyusy, disebutkan berikut ini :

” روى شيخ الإسلام أبو الحسن الهكاري ، والحافظ أبو محمد المقدسي بإسنادهم إلى أبي ثور وأبي شعيب كلاهما عن الإمام محمد بن إدريس الشافعي ناصر الحديث رحمه الله قال: القول في السنة التي أنا عليها ورأيت أصحابنا عليها أهل الحديث الذين رأيتهم وأخذت عنهم مثل سفيان ومالك وغيرهما الاقرار بالشهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وأن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء وأن الله ينزل إلى السماء الدنيا كيف شاء ”
” Syaikhul Islam Abu Hasan Al-Hakary meriwayatkan dan Al-Hafidz Abu Muhammad Al-Muqoddasi dengan isnad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, keduanya dari imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, Nashirul hadits Rh, beliau berkata ” Pendapat di dalam sunnah yang aku pegang dan juga para sahabatku dari Ahli hadits yang telah aku saksikan dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah pengakuan dengan syahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, Muhammad adalah utusan Allah dan sesungguhnya Allah Swt di atas Arsy-Nya di dalam langit-Nya yang mendekat kepada makhluk-Nya kapan saja DIA kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia kapan saja DIA kehendaki “.
JAWABAN :
Benarkah ini ucapan dan pendapat imam Syafi’i ??? di sini kita akan membongkar kebusukan dan penipuan mereka atas nama imam Syafi’i.
Dari sisi sanad :
1. Al-Hafidz Adz-Dzahaby di dalam kitabnya MIZAN AL-I’TIDAL juz : 3 halaman : 112 berkata :
أبي الحسن الهكاري : أحد الكذابين الوضاعين
” Abu Al-Hasan Al-Hakkari adalah salah satu orang yang suka berdusta dan sering memalsukan ucapan ”
2. Abul Al-Qosim bin Asakir juga berkata :
قال أبو القاسم بن عساكر : لم يكن موثوقاً به
” Dia (Abu Al-Hasan) orang yang tidak dapat dipercaya ”
3. Ibnu Najjar berkata :
وقال ابن النجار : متهم بوضع الحديث وتركيب الأسانيد
” Dia dicurigai memalsukan hadits dan menyusun-nysun sanad ”
Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab LISAN AL-MIZAN juz : 4 halaman : 159 berkata :
وكان الغالب على حديثه الغرائب والمنكرات ، وفي حديثه أشياء موضوعة
” Kebanyakan hadits yg diriwayatkannya adalah ghorib dan mungkar dan juga terdapat hadits-hadits palsunya “.
4. Ibrahim bin Muhammad Ibn Sibth bin Al-Ajami di di dalam kitabnya Al-Kasyfu Al-Hatsits juz ; 1 halaman : 184 :
وهو كذاب وضاع
” Dia adalah seorag yang suaka berdusta dan suka memalsukan hadits ”
Dari sisi tarikh / sejarah :
Mereka (wahhaby salafy) mengaku atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu Syu’aib dari imam Syafi’i. Benarkah ??
Ini sebuah kedustaan yang nyata karena di dalam kitab-kitab tarikh / sejarah bahwasanya Abu Syu’aib ini dilahirkan dua tahun setelah wafatnya imam Syafi’i, sebagaimana disebutkan dalam kitab TARIKH AL-BAGHDADI juz : 9 halaman : 436.
Sekarang bagaimanakah aqidah imam syafi’i yang sebenarnya tentang Istiwa Allah Swt ?
Berikut ini ucapan-ucapan imam Syafi’i yang kami nukil dari kitab-kitab yang mu’tabar dan dari riwayat-riwayat yang tsiqoh :

1 Ketika imam Syafi’I ditanya tentang makna ISTIWA dalam al-Quran beliau menjawab :

” ءامنت بلا تشبيه وصدقت بلا تمثيل واتهمت نفسي في الإدراك وأمسكت عن الخوض فيه كل الإمساك”
ذكره الإمام أحمد الرفاعي في ( البرهان المؤيد) (ص 24) والإمام تقي الدين الحصني في (دفع شبه من شبه وتمرد ) (ص 18) وغيرهما كثير.
” Aku mengimani istiwa Allah tanpa memberi perumpamaan dan aku membenarkannya tanpa member permisalan, dan aku mengkhawatirkan nafsuku di dalam memahaminya dan aku mencegah diriku dari memperdalam persoalan ini dengan sebenar-benarnya pencegahan ”
Ini telah disebutkan oleh imam Ahmad Ar-Rifa’i di dalam kitab ” Al-Burhan Al-Muayyad ” (Bukti yang kuat) halaman ; 24.
Juga telah disebutkan oleh imam Taqiyyuddin Al-Hishni di dalam kitab Daf’u syibhi man syabbaha wa tamarroda halaman : 18. Di dalam kitab ini juga pada halaman ke 56 disebutkan bahwa imam Syafi’I berkata :
ءامنت بما جاء عن الله على مراد الله وبما جاء عن رسول الله على مراد رسول الله
” Aku beriman dengan apa yang dating dari Allah Swt atas menurut maksud Allah Swt, dan beriman dengan apa yang dating dari Rasulullah Saw menurut maksud Rasulullah Saw “.
Syaikh Salamah Al-Azaami dan selainnya mengomentari ucapan imam syafi’I tsb :
ومعناه لا على ما قد تذهب إليه الأوهام والظنون من المعاني الحسية والجسمية التي لا تجوز في حق الله تعالى.
” Maknanya adalah bukan seperti yang terlitas oleh pikiran dan persangkaan dari makna fisik dan jisim yang tidak boleh bagi haq Allah Swt ”
Dan masih banyak lagi yang lainnya.

2. Ketika imam Syafi’i ditanya tentang sifat Allah Swt, beliau menjawab :

حرام على العقول أن تمثل الله تعالى وعلى الأوهام أن تحد وعلى الظنون أن تقطع وعلى النفوس أن تفكر وعلى الضمائر أن تعمق وعلى الخواطر أن تحيط إلا ما وصف به نفسه – أي الله – على لسان نبيه صلى الله عليه وسلم
ذكره الشيخ ابن جهبل في رسالته انظر طبقات الشافعية الكبرى ج 9/40 في نفي الجهة عن الله التي رد فيها على ابن تيمية.
” Haram bagi akal untuk menyerupakan Allah Swt, haram bagi pemikiran untuk membatasi Allah Swt, haram bagi persangkaan untuk memutusi Allah Swt, haram bagi jiwa untuk bertafakkur, haram bagi hati untuk memperdalam sifat Allah, haram bagi lintasan hati untuk membatasi Allah, kecuali apa yang telah Allah sifati sendiri atas lisan nabi-Nya Muhammad Saw “.
(Telah disebutkan oleh syaikh Ibnu Jahbal di dalam Risalahnya, lihatlah Thobaqot Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra juz : 9 halaman : 40 tentang menafikan arah dari Allah Swt sebagai bantahan atas Ibnu Taimiyyah)
3. Di dalam kitab Ittihaafus saadatil muttaqin juz : 2 halaman ; 24, imam Syafi’I berkata :
إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكانَ لا يجوز عليه التغييرُ في ذاته ولا التبديل في صفاته”
” Sesungguhnya Allah Ta’ala ada dan tanpa tempat, lalu Allah menciptakan tempat sedangkan Allah masih atas sifat azaliyah-Nya sebagaimana wujud-Nya sebelum menciptakan tempat. Mustahil bagi Allah perubahan di dalam Dzat-Nya dan juga pergantian di dalam sifat-sifat-Nya “.
4. Di dalam kitab Syarh Al-Fiqhu Al-Akbar halaman : 52, imam Syafi’I berkata yang merupakan keseluruhan pendapat beliau tentang Tauhid :
من انتهض لمعرفة مدبره فانتهى إلى موجود ينتهي إليه فكره فهو مشبه وإن اطمأن إلى العدم الصرف فهو معطل وإن اطمأن لموجود واعترف بالعجز عن إدراكه فهو موحد
” Barangsiapa yang bergerak untuk mengetahui Allah Sang Maha Pengatur-Nya hingga pikirannya sampai pada hal yang wujud, maka ia adalah musyabbih (orang yang menyerupakan Allah dgn makhluq). Dan jika ia merasa tenang dengan suatu hal yang tiada, maka ia adalah mu’aththil (meniadakan sifat Allah Swt). Dan jika ia merasa tenang pada kwujudan Allah Swt dan mengakui ketidak mampuan untuk memahaminya, maka ia adalah muwahhid (orang yang mengesakan Allah Swt) ”
Sungguh imam Syafi’I begitu jeli dan luas pemahamannya akan hal ini, beliau sungguh telah mengambil dari ayat-ayat Allah Swt dalam Al-Quran :
– {لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىءٌ } [سورة الشورى]
” Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai Allah ”
– فَلاَ تَضْرِبُواْ لِلّهِ الأَمْثَالَ } [سورة النحل]
” Janganlah kalian membuat perumpamaan-perumpoamaan bagi Allah Swt ”
– :{هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا } [سورة مريم]
” Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ? ”
Semua ini membuktikan bahwa imam Syafi’I Ra mensucikan Allah Swt dan sifat-sifat-Nya dari apa yang terlintas dalam pikiran berupa makna-makna jisim / fisik seperti duduk, dibatasi dengan arah, tempat, gerakan dan diam serta yang semisalnya dan inilah aqidah Ahlus sunnah wal jama’ah.
Source: inilah-salafi.blogspot.com, KH. Thobary Syadzily & kampussalafi.blogspot.com
SALAFY-WAHABI MEMFITNAH & MENCATUT NAMA IMAM SYAFI’I DEMI MELEGALKAN KONSEP TRITAUHID SALAFY WAHABI
Aksi keji kelompok Wahabi Salafi kembali terjadi. Di dalam sebuah buku (yang belum diketahui siapa pengarang dan judulnya), kelompok Wahabi Salafi dengan begitu beraninya melakukan fitnah dan kebohongan besar terhadap salah satu ulama ahlussunnah wal jama’ah, Imam Syafi’i. Seorang ulama kenamaan pendiri Madzhab Syafi’i diftnah mengikuti aqidah mujassimah.
Disebutkan dalam buku fitnah tersebut dengan judul yang begitu jelas tertulis “Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga”.
Yang dimaksudkan adalah tauhid rububiyyah, tauhid uluhiyyah, dan tauhid asma wa shifat.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.

Selama ini, tidak ada satu pun ulama yang membagi tauhid menjadi tiga baik ulama salaf maupun khalaf. Apalagi Imam Syafi’i, sejak kapan beliau membagi tauhid menjadi tiga? Darimana sumber yang menyatakan bahwa Imam Syafi’i membagi-bagi tauhid menjadi tiga? Yang melakukan hal itu hanyalah dari kelompok Wahabi Salafi saja. Astaghfirulloh, kami berlindung kepada Allah dari fitnah Wahabi Salafi.
Berikut kami nukilkan potongan tulisan yang berisi fitnah yang mengatasnamakan Imam Syafi’i dalam buku itu:
Imam Syafi’i menetapkan pembagian tauhid menjadi tiga
Berdasarkan penelitian yang saksama terhadap dalil-dalil al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, para ulama menyimpulkan bahwa tauhid dibagi menjadi:
1. Tauhid Rububiyyah,
2. Tauhid Uluhiyyah,
3. Tauhid Asma wa Shifat.
Pembagian tauhid ini bukanlah perkara baru (baca: bid’ah) apalagi menyerupai agama trinitas, tetapi pembagian ini berdasarkan penelitian terhadap dalil. Hal ini persis dengan pembagian para ulama ahli bahasa yang membagi kalimat menjadi tiga: isim, fi’il, dan huruf.

Berikut adalah gambar scan buku fitnah tersebut:
Manipulasi Salafy-wahabi Imam Syafi'i tidak pernah mengakui konsep tri tauhid-00 Pencatutan nama Imam Syafi'i demi melegalkan konsep TriTauhid Salafy-Wahabi
Pencatutan nama Imam Syafi’i demi melegalkan konsep TriTauhid Salafy-Wahabi Astaghfirulloh. Itulah satu dari sekian banyak bukti bagaimana Wahabi Salafi menghalalkan segala cara untuk menyebarkan pahamnya sampai-sampai melakukan fitnah dan kebohongan kepada para ulama salaf ahlussunnah wal jama’ah. Padahal Imam Syafi’i dan ulama-ulama salaf lainnya tidak pernah membagi tauhid menjadi tiga seperti di atas. Karena, ketiga “Aqidah Trinitas” tersebut adalah aqidah kaum Mujassimah yang dianut oleh Wahabi Salafi dan ujung-ujugnya membid’ahkan dan memusyrikkan amaliyah ulama Ahlussunnah wal Jama’ah yang tidak sepaham dengan aqidah mereka.

Tauhid Imam Syafi'i menurut ulama-ulama mu'tabar Syafi'iyyah, Hal itu bisa dilihat dan dibuktikan di dalam kitab tauhid “AL-KAWKABUL AZHAR SYARAH AL-FIQHUL AKBAR “ karya Imam Syafi’i sebagai berikut:

Kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i

ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺸﺎﻓﻴﻊ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ( ﻓﺎﻥ ﻗﻴﻞ : ﺃﻟﻴﺲ ﻗﺪ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ( ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ ) ﻳﻘﺎﻝ ﺍﻥ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺔ ﻣﻦ ﺍﻟﻤﺘﺸﺎﺑﻬﺎﺕ ﻭﺍﻟﺬﻱ ﻧﺨﺘﺎﺭ ﻣﻦ ﺍﻟﺠﻮﺍﺏ ﻋﻨﻬﺎ ﻭ ﻋﻦ ﺃﻣﺜﺎﻟﻬﺎ ﻟﻤﻦ ﻻ ﻳﺮﻳﺪ ﺍﻟﺘﺒﺤﺮ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﻤﺮ ﺑﻬﺎ ﻛﻤﺎ ﺟﺎﺀﺕ ﻭ ﻻ ﻳﺒﺤﺚ ﻋﻨﻬﺎ ﻭ ﻻ ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻴﻬﺎ ﻷﻧﻪ ﻻ ﻳﺄﻣﻦ ﻣﻦ ﺍﻟﻮﻗﻮﻉ ﻓﻰ ﻭﺭﻃﺔ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ ﺍﺫﺍ ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﺭﺍﺳﺨﺎ ﻓﻰ ﺍﻟﻌﻠﻢ . ﻭ ﻳﺠﺐ ﺃﻥ ﻳﻌﺘﻘﺪ ﻓﻰ ﺻﻔﺎﺕ ﺍﻟﺒﺎﺭﻱ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻣﻦ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ ﻭ ﺃﻧﻪ ﻻ ﻳﺤﻮﻳﻪ ﻣﻜﺎﻥ ﻭ ﻻ ﻳﺠﺮﻱ ﻋﻠﻴﻪ ﺯﻣﺎﻥ ﻣﻨﺰﻩ ﻋﻦ ﺍﻟﺤﺪﻭﺩ ﻭ ﺍﻟﻨﻬﺎﻳﺎﺕ ﻣﺴﺘﻐﻦ ﻋﻦ ﺍﻟﻤﻜﺎﻥ ﻭ ﺍﻟﺠﻬﺎﺕ ﻭ ﻳﺘﺨﻠﺺ ﻣﻦ ﺍﻟﻬﺎﻟﻚ ﻭ ﺍﻟﺸﺒﻬﺎﺕ . ﻭ ﻟﻬﺬﺍ ﺍﻟﻤﻌﻨﻰ ﺯﺟﺮ ﻣﺎﻟﻚ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺭﺟﻼ ﺣﻴﻦ ﺳﺄﻟﻪ ﻋﻦ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﻳﺔ ﻓﻘﺎﻝ : ﺍﻻﺳﺘﻮﺍﺀ ﻣﺬﻛﻮﺭ ﻭ ﺍﻟﻜﻴﻔﻴﺔ ﻣﺠﻬﻮﻟﺔ ﻭ ﺍﻻﻳﻤﺎﻥ ﺑﻪ ﻭﺍﺟﺐ ﻭ ﺍﻟﺴﺆﺍﻝ ﻋﻨﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ : ﻭ ﺍﻥ ﻋﺪﺕ ﺍﻟﻰ ﻣﺜﻠﻪ ﺃﻣﺮﺕ ﺑﻀﺮﺏ ﺭﻗﺒﺘﻪ . ﺃﻋﺎﺫﻧﺎ ﺍﻟﻠﻪ ﻭ ﺍﻳﺎﻛﻢ ﻣﻦ ﺍﻟﺘﺸﺒﻴﻪ

Berkata Imam Syafi’i, semoga Allah ta’ala merahmatinya: (Maka seandainya dikatakan:
Tidakkah Allah ta’ala berfirman:

ﺍﻟﺮحمن ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺍﺳﺘﻮﻯ

Dikatakan bahwa ayat ini bagian dari ayat mustasyabbihat (ayat yang samar untuk mengetahui maksud dan tujuannya dan perlu penjelasan dari pakar tafsir Al-Qur’an). Adapun jawaban yang kami pilih dari ayat mutasyabbihat dan keasamaan-kesamaannya ini berlaku bagi orang yang tidak mau mendalami ilmunya agar melewatinya seperti apa adanya ayat dan tidak perlu membahas dan membicarakan ayat ini.
Karena, hal ini tidak akan aman untuk terjatuh ke dalam lumpur “Tasybih”, yakni menyamakan Allah dengan makhluk apabila bukan dari golongan orang-orang yang dalam ilmunya.
Dengan demikian, wajib bagi setiap muslim yang mukallaf untuk mengi’tiqadkan atau meyakinkan perkara di dalam sifat-sifat Dzat Maha Pencipta (Allah) ta’ala seperti apa yang telah kami terangkan, di mana Allah ta’ala tidak diliputi oleh tempat dan tidak berlaku zaman bagi-Nya. Juga, Dia maha dibersihkan dari segala batasan, dan ujung dan tidak butuh kepada tempat dan arah. Dia selamat dari segala bentuk kerusakan dan keserupaan.

Oleh karena dengan adanya makna ayat ini, maka Imam Malik rahimahullah melarang kepada seseorang untuk menanyakan tentang ayat ini. Beliau berkata: Al-Istiwa’ sesuatu yang sudah disebut. Kaifiat (pertingkah) sesuatu yang samar. Iman dengan ayat ini wajib. Dan, bertanya tentang ayat ini bid’ah.
Kemudian, beliau berkata: Seandainya engkau kembali menanyakan kepada semitsal ayat ini, maka aku memerintahkan supaya engkau menepuk lehermu. Semoga Allah melindungi kita dan kalian untuk tidak menyamakan Allah dengan makhluk !
{Keterangan dari kitab “Al-Kawkab Al-Azhar Syarah Al-Fiqhu Al-Akbar”, karya Imam Abu Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, halaman 68, cetakan “Darul Fikr”, Beirut – Libanon. Ditulis ulang oleh KH. Muhammad Thobary Syadzily, Pengasuh Pondok Pesantren Al Husna Tangerang).

Ketahuilah pembagian tauhid menjadi tiga
(Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) telah terbukti secara ilmiah kebatilannya dan bukan bersumber dari ajaran Islam. Allah dan RasulNya tidak pernah mengajarkan tauhid dengan model trinitas seperti itu. Begitu juga para Sahabat Nabi tidak ada satu pun yang mengajarkan “tauhid tiga” tersebut.
Umat Islam harus paham bahwa masalah tauhid aqidah merupakan masalah ushul, yang wajib berdasar dalil Qoth’i (pasti). Perlu dipertanyakan darimana dan apa dalil Qoth’i yang menjadi dasar pembagian tauhid tiga tersebut. Selain itu, efek samping dari ajaran “tauhid tiga” yang batil ini hanya akan menimbulkan fitnah di tengah Umat Islam. Seperti kita ketahui bersama, tauhid tiga ajaran Wahabi Salafi ujung-ujungnya hanya bermaksud untuk menuduh bahkan memvonis kaum beriman sebagai musyrik. Sebagai contoh dalam masalah tauhid asma wasifat dimana kelompok Wahabi Salafi ingin mengeluarkan faham Asy’ariah dari kelompok kaum muslimin yang benar, khususnya berkenaan dengan ayat-ayat sifat atau ayat-ayat mutasabihat yang berkaitan dengan masalah boleh tidaknya ta’wil.
Dan ternyata memang pembagian tauhid menjadi tiga (Rububiyyah, Uluhiyyah, dan Asma wa Shifat) sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, dan hadits, serta tidak ada seorang pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut.
Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang, mereka mengaku datang sebagai penegak Tauhid untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah. Mereka adalah kelompok yang terjerumus dalam aqidah tasybih dan tajsim yang menyamakan Allah SWT dengan makhlukNya.

Wallohu a’lam.
*****

FITNAH SALAFY & WAHABI YANG LAIN

Mereka (wahhaby salafy) mengatakan bahwa Imam Syafi’I saja berkeyakinan bahwa Allah itu berada di atas Arsy di dalam langitnya, berikut dalil palsu mereka :Di dalam kitab Mukhtashor Al-’ulwu halaman : 176, juga terdapat dalam ucapan Ibnu Al-Qoyyim dalam bab Ijtima’ul juyusy, disebutkan berikut ini :

ﺭﻭﻯ ﺷﻴﺦ ﺍﻹﺳﻼﻡ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﻬﻜﺎﺭﻱ ، ﻭﺍﻟﺤﺎﻓﻆ ﺃﺑﻮ ﻣﺤﻤﺪ ﺍﻟﻤﻘﺪﺳﻲ ﺑﺈﺳﻨﺎﺩﻫﻢ ﺇﻟﻰ ﺃﺑﻲ ﺛﻮﺭ ﻭﺃﺑﻲ ﺷﻌﻴﺐ ﻛﻼﻫﻤﺎ ﻋﻦ ﺍﻹﻣﺎﻡ ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﺇﺩﺭﻳﺲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻧﺎﺻﺮ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺎﻝ : ﺍﻟﻘﻮﻝ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻨﺔ ﺍﻟﺘﻲ ﺃﻧﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻭﺭﺃﻳﺖ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﺍﻟﺬﻳﻦ ﺭﺃﻳﺘﻬﻢ ﻭﺃﺧﺬﺕ ﻋﻨﻬﻢ ﻣﺜﻞ ﺳﻔﻴﺎﻥ ﻭﻣﺎﻟﻚ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﺍﻻﻗﺮﺍﺭ ﺑﺎﻟﺸﻬﺎﺩﺓ ﺃﻥ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺃﻥ ﻣﺤﻤﺪﺍ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ، ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻋﻠﻰ ﻋﺮﺷﻪ ﻓﻲ ﺳﻤﺎﺋﻪ ﻳﻘﺮﺏ ﻣﻦ ﺧﻠﻘﻪ ﻛﻴﻒ ﺷﺎﺀ ﻭﺃﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻳﻨﺰﻝ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﺴﻤﺎﺀ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﻛﻴﻒ ﺷﺎﺀ

” Syaikhul Islam Abu Hasan Al-Hakary meriwayatkan dan Al-Hafidz Abu Muhammad Al-Muqoddasi dengan isnad mereka kepada Abu Tsaur dan Abu Syu’aib, keduanya dari imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I, Nashirul hadits Rh, beliau berkata ” Pendapat di dalam sunnah yang aku pegang dan juga para sahabatku dari Ahli hadits yang telah aku saksikan dan aku ambil dari mereka seperti Sufyan, Malik dan selain keduanya adalah pengakuan dengan syahadah bahwa tiada Tuhan selain Allah Swt, Muhammad adalah utusan Allah dan sesungguhnya Allah Swt di atas Arsy-Nya di dalam langit-Nya yang mendekat kepada makhluk-Nya kapan saja DIA kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia kapan saja DIA kehendaki “.

JAWABAN :
Benarkah ini ucapan dan pendapat imam Syafi’i ??? di sini kita akan membongkar kebusukan dan penipuan mereka atas nama imam Syafi’i.

Dari sisi sanad :
1. Al-Hafidz Adz-Dzahaby di dalam kitabnya MIZAN AL-I’TIDAL juz : 3 halaman : 112 berkata :

ﺃﺑﻲ ﺍﻟﺤﺴﻦ ﺍﻟﻬﻜﺎﺭﻱ : ﺃﺣﺪ ﺍﻟﻜﺬﺍﺑﻴﻦ ﺍﻟﻮﺿﺎﻋﻴﻦ

” Abu Al-Hasan Al-Hakkari adalah salah satu
orang yang suka berdusta dan sering memalsukan
ucapan “

2. Abul Al-Qosim bin Asakir juga berkata :

ﻗﺎﻝ ﺃﺑﻮ ﺍﻟﻘﺎﺳﻢ ﺑﻦ ﻋﺴﺎﻛﺮ : ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻣﻮﺛﻮﻗﺎً ﺑﻪ

” Dia (Abu Al-Hasan) orang yang tidak dapat dipercaya “

3. Ibnu Najjar berkata :

ﻭﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﺍﻟﻨﺠﺎﺭ : ﻣﺘﻬﻢ ﺑﻮﺿﻊ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﺗﺮﻛﻴﺐ ﺍﻷﺳﺎﻧﻴﺪ

” Dia dicurigai memalsukan hadits dan menyusun-nysun sanad “

Al-Hafidz Ibnu Hajar di dalam kitab LISAN AL-MIZAN juz : 4 halaman : 159 berkata :

ﻭﻛﺎﻥ ﺍﻟﻐﺎﻟﺐ ﻋﻠﻰ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﺍﻟﻐﺮﺍﺋﺐ ﻭﺍﻟﻤﻨﻜﺮﺍﺕ ، ﻭﻓﻲ ﺣﺪﻳﺜﻪ ﺃﺷﻴﺎﺀ ﻣﻮﺿﻮﻋﺔ

” Kebanyakan hadits yg diriwayatkannya adalah ghorib dan mungkar dan juga terdapat hadits- hadits palsunya “.

4. Ibrahim bin Muhammad Ibn Sibth bin Al-Ajami
di di dalam kitabnya Al-Kasyfu Al-Hatsits juz ; 1
halaman : 184 :

ﻭﻫﻮ ﻛﺬﺍﺏ ﻭﺿﺎﻉ

” Dia adalah seorag yang suaka berdusta dan suka memalsukan hadits “

Dari sisi tarikh / sejarah :
Mereka (wahhaby salafy) mengaku atsar tersebut diriwayatkan oleh Abu
Foto Nur Farhana Adilah Binti Ahmad Khushiri.
Semoga bermanfaat