Jumat, 11 September 2015

Cabang kelompok wahabi

Wajib tau.. bila kamu tdk tau...
Buku panduan Wahabi salafi yg menggelikan.... hanya anak PAUD lah yg mengaguminya...

Foto Abunofal Sabilul Huda.
PERSIS - MUHAMMADIYAH - AL IRSYAD, ADALAH ANAK2 NYA SALAFY WAHHABI.

MUHAMMADIYAH >> AHMAD DAHLAN ( MUHAMMAD DARWIS ) BELIAU SEGURU DG HASYIM ASY'ARI, GURU NYA : MBAH KHALIL
BANGKALAN.

AHMAD DAHLAN PD AWAL MEMIMPIN MU
HAMMADIYAH MASIH BERMADZ HAB SYAFI'I.
SETELAH DI GANTI DGN PENERUSNYA, MADZ
HAB SYAFI'I DI BUANG JAUH2.

PERSIS >> A. HASSAN (ORANG BLASTERAN)
IBU JAWA BAPA SINGAPORE.
AJARAN NYA MENGANUT FAHAM IMAM DAUD AZ ZHAHIRI ( MADZ HAB YG SUDAH MUSNAH KRN DALIL2 NY RAPUH ) TAPI SANGAT MENGAGUMI MUHAMAD BIN ABDUL WAHHAB DAN MENG ADOPSI AJARAN NYA PULA.

AL IRSYAD >> MUHAMMAD SYURKATI ( INI
MADZ HAB NYA/ KELOMPOK NYA ORANG2 ARAB INDONESIA.

JADI, KLW BAPAK NYA ( SALAFY WAHHABI )
EKSTRIM, ANAK2 NYA GA JAUH BEDA.

DI ANTARA ANAK2 SALAFY WAHHABI YG PALING EKSTRIM ADALAH PERSIS.

Strategi dakwah wahabi selalu mengaku ASWAJA

9
kamuflase
Penggunaan Kata “Imam Syafi’i & Ahlus Sunnah Wal Jama’ah” dalam beberapa majalah, artikel, Instansi, Majelis Pengajian para Salafy dapat saya asumsikan dalam beberapa hal sbb:
1. Menarik Minat para pengikut Aswaja (Pancingan)
Kita telah sama – sama mengetahui betapa bencinya kaum Salafy terhadap kaum Ahlussunnah Waljama’ah (disingkat Aswaja), yang setiap saat dapat kita temukan olok-olokan mereka terhadap Aswaja, dengan kata – kata :”Asuwaja, Abwaja, Asli warisan Jawa, dll.
GOLONGAN ANTI MAZHAB
Mengetahui para Aswaja menjadi antipati terhadap Salafy , para da’i Salafy mulai mengupayakan berbagai cara agar para Aswaja mau mengikuti ajaran Salafy. Mereka mulai menggunakan kata – kata yang umum terdengar di telinga Aswaja, dalam beberapa contoh mereka mulai mencatut salah satu nama Imam Mujtahid yang menjadi rujukan disebagian besar penganut Aswaja kawasan Asia, Mesir, Yaman, Irak, Iran dll yaitu Imam Syafi’i, dalam pustaka penerbitan kitab – kitab Salafy & juga Instansi pendidikan yang di bina Salafy yang sebagian besar didanai oleh pemerintah Saudi, Sebut saja Penerbit Imam Syafi’i http://pustakaimamsyafii.com/, representasi dari hasil terbitan buku – bukunya tidaklah mencerminkan ajaran/mazhab Syafi’i, bahkan cenderung bertentangan.
STRATEGI GERAKAN SALAFY DAHULU & KINI
Belum lagi Lembaga Pendidikan, Majelis pengajian, dll yang mencatut nama Imam Syafi’i tetapi ajarannya sama sekali tidak mencerminkan Mazhab Assyafi’i, bahkan telah maklum kita ketahui bahwa Salafy anti terhadap Mazhab. Sebagai contoh masalah khilafiyah yaitu furu’ (cabang) mereka membid’ahkan Usholli (talafuzh niat) ketika hendak sholat, Qunut pada Shubuh, Tarawih 23 rakaat, dll, dimana hal itu adalah Ijtihad Imam Syafi’i yang di ikuti oleh ulama Syafi’iyyah dari dahulu hingga saat ini tanpa ada pertentangan. Begitu pula konsep pemahaman Bid’ah yang diterangkan Imam Syafi’i akan adanya Bid’ah Hasanah. Hal ini tentu saja bertentangan dengan pendapat & pemahaman para ulama Salafy yang tidak mengakui akan adanya Bid’ah hasanah. Pencatutan nama Imam Syafi’i tak sampai disitu saja, bahkan tak luput karangan kitab – kitab Salafy dengan Judul – judul yang dibuat mirip dengan kitab – kitab ulama Syafi’iyyah.
FATHUL MAJID ASWAJA VS FATHUL MAJID WAHABI
Asma wa Shifat - Imam Baihaqi
Asma wa Shifat – Imam Baihaqi
Asma wa Shifat - Ibnu Taimiyah
Asma wa Shifat – yang di lekatkan kepada Ibnu Taimiyah
Kajian Aqidah Ahlus Sunnah
Pencatutan nama Imam Syafi’i ini menjadi hal yang penting demi melancarkan strategi mereka dalam menyebar luaskan pahaman Salafy kedalam ajaran Imam Syaf’ii, Perubahan makna, maksud & tujuan dari qoul Imam Syafi’i dan para ulama pun telah sama – sama kita ketahui, fakta yang ada yaitu pemotongan & pemenggalan qoul – qoul Imam Syafii & Syafi’iyyah sehingga sesuai dengan ajaran Salafy. Termasuk pula penggunaan kata – kata Ahlus sunnah Waljama’ah, memang menjadi daya tarik para pengikut Aswaja. Tetapi dapat kita terka kembali bahwa seluruh ajarannya justru bertentangan dengan Ahlus sunnah Wal jama’ah.
Pencatutan nama Imam Syafi'i demi melegalkan konsep TriTauhid Salafy-Wahabi
Pencatutan nama Imam Syafi’i demi melegalkan konsep TriTauhid Salafy-Wahabi
Untuk lebih jelasnya silahkan baca di link ini
2. Mulai mengakui Kebid’ahan penggunanaan “Manhaj Salafy”
Sepertinya Kaum Salafy mulai tidak pede dengan “Manhaj Salafy” nya, hal ini dapat kita temukan dalam perdebatan antar sesama Salafy dalam memaknai manhaj Salafy, seperti terkutip berikut ini:
Berkata Imam Ibn Mandzur : “Salafi ialah sesiapa yang telah mendahului engkau yang terdiri dari ibu bapa atau kaum kerabat yang lebih tua pada umur dan kedudukan.” Ia juga bisa berarti nenek moyang atau generasi terdahulu (Salafun ; Aslafun).
Sehingga secara bahasa yg dimaksud dengan Madzhab As-Salaf adalah madzhab generasi terdahulu.Sehingga menurut bahasa Imam An-Nabhani, Imam Hasan Al-Banna, Imam Ad-Dahlawwi, Imam Al-Maududi, Imam Abul Hasan An-Nadwi dll adalah termasuk Salaf Ash-sholeh (yaitu generasi terdahulu yg sholeh), karena sejarah telah membuktikan mereka adalah para Ulama yg ikhlas yg memimpin umat untuk mengembalikan Izzul Islam wa Muslimun !!!??Kemudian ada sebagian Ulama yang menggunakan istilah Salaf Ash-Sholeh untuk menyebut generasi para shahabat-, tabi’in-, dan tabi’ut tabi’in, terutama Ibn Taimiyah dlm karya2-nya seperti Al-Aqidah Al-Washitiyyah, Majmu’ul Fatawa dll. Tapi belum pernah adasatupun riwayat yg shohih, yg sampai kepada kita bahwa ada diantara para Imam Mujtahid seperti:
Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad Ibn Hambal, Malik dll yang menyebut diri mereka dan pengikutnya sebagai kelompok Salafi; ‘hatta’ para Imam ahli hadis seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzi dll yang menyebut dirinya sebagai Salafi !!!!
Padahal merekalah yg sebenarnya paling layak untuk disebut sebagai Salafi (yaitu penerus madzhab shahabat-, tabi’in-, dan tabi’ut tabi’in), karena mereka mengambil ilmu dien ini langsung dari mereka.
Seperti kasus Imam Malik yang Kitabnya yang berjudul Al-Muwatho (sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Imam Malik dalam muqadimah kitabnya) mendapat rekomendasi dari 70 ulama Madinah yang merupakan anak keturunan dan murid sahabat atau tabi’in dan tabiu’t tabi’in di Madinah, bahkan ada riwayat yg menyebutkan bahwa Imam Abu Hanifah pernah bertemu dengan para Sahabat dll.Seandainya penyebutan atau labelisasi seperti ini adalah ‘sangat penting’ (seperti klaim Salafi), maka harusnya merekalah yang paling layak untuk menggunakan sebutan sebagai kelompok Salaf, dan pastilah mereka yang pertama kali akan ‘mempopulerkan’ istilah ini, ‘hatta’ sampai Ibnu Taimiyyah-pun tidak pernah mengunakan istilah salafi untuk menyebut dan mendefinisikan madzhabnya dan para pengikutnya !!!Lalu dari mana munculnya istilah Salafi, untuk menyebut “org yg mengklaim dirinya sebagai satu2-nya penerus madzbab Salaf Ash-Sholeh yaitu Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in”.Yang jelas bukan dari para Ulama Mujtahid seperti Imam Syafi’I, Abu Hanifah, Ahmad Ibn Hambal, Malik dll yang menyebut diri mereka dan pengikutnya sebagai kelompok Salafi; hatta para imam ahli hadis spt Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam At-Tirmidzidll !!??!Tapi adalah Albani-lah yg pertama kali menggunakan istilah ini, sebagaimana terekam dalam sebuah dialognya antara Albani dengan (salah satu pengikutnya yaitu Abdul Halim Abu Syuqqah) (Lihat Majalah As-Sunnah 06\IV\1420; hal 20-25) !!!
Lalu Albani-lah yang memberi definisi Salafi sebagai ‘orang-orang yang mengikuti cara beragamanya para salaf dalam memahami islam’. Dan supaya terlihat ‘keren’ lalu dinukil-lah sejumlah ayat, hadis, atsar dan pendapat sebagian Ulama (nb: yg tentunya ditakwil sesuai dg kepentingan kelompok Neo Salafi ini !!!), untuk menunjukkan bahwa seakan-akan yg menggunakan istilah itu adalah para Imam diatas, padahal klaim itu tidaklah benar (nb : silahkan tunjukkan satu riwayat saja, yg shohih dr para imam mujtahid dan Imam Ahli Hadis yg memperkuat klaim kelompok Salafi ini) !!!?Walhasil, untuk menilai apakah Imam Taqiyyudin atau Hasan Al-Banna dll mengikuti manhaj para salafus shalih atau tidak, tidak ditentukan oleh penilaian Albani, Utsaimin, Ibn Baz dll ( kualitas keilmuannya jauh dibawahpara Imam ini !!??). Tapi hujjah dan argumentasi yg mereka gunakan !!!
Dan itu harus dikaji kasus per kasus, tidak bisa digeneralisasi (nb: tidak seperti cara salafi palsu dan kelompoknya yg sengaja mencari-cari kesalahan para Imam ini lalu digunakan untuk menyatakan bahwa seluruh pendapat mereka adalah salah dan menyimpang !!?).
Sedang klaimnya bahwa Albani, Utsaimin, Ibn Baz min firqoh As-Salafiyah Al-Jadidah (Kelompok Neo Salafi) adalah termasuk ulama salafy, dan merekalah satu2-nya yg layak mengikuti cara beragamanya para salaf dalam memahami islam adalah sebatas klaim kelompok salafi dan orang2 yg sepakat dg pemikirannya !!!?Pilih
Salafy atau Muslim, Mukmin, Muttaqin?
Saya ingin meletakkan hal ini secara objektif, agar kita tidak fanatik dan taqlid kepada siapun juga., kalau kita semuanya mau jujur bahwa perintah menjadi SALAFY itu tidak ada yang jelas, semuanya hanya berupa indikasi dan penafsiran yang sifatnya ijtihadiyah (atau maaf seperti dipaksakan).Contohnya, At-Taubah ayat 100, itu bukan perintah untuk menjadi SALAFY tapi perintah untuk mengikuti Rasulullah dan Sahabat (muhajirin dan anshor).
Kalau hal itu perintah menjadi SALAFY tentunya ayatnya akan dinyatakan secara tegas dan jelas semisal “Isyhaduu biannaa muslimuun” (Saksikanlah kami adalah muslim).
Tapi kita kan tidak pernah menemukan perintah “SAKSIKANLAH BAHWA KAMI SALAFY”.
Atau perintah “ITTAQULLAHA HAQQA TUQAATIHI” (Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa). Adakah perintah yang setegas itu untuk untuk bermanhaj SALAFY, misalnya berbunyi “BERTAKWALAH KEPADA ALLAH dan BERMANHAJ SALAFLAH KALIAN”.
Lalu dilanjutkan WA LAA TAMUUTUNNA ILLAA WA ANTUM MUSLIMUUN (perintah ini kan sangat tegas jelas tidak perlu penafsiran lagi yaitu bahwa Allah menyuruh kita menjadi MUSLIM).
Belum lagi banyak sekali akhir ayat yang secara tegas menyatakan WA NAHNU LAHU MUSLIMUN (Dan kami adalah orang-orang Islam).Adakah dalam Alqur’an yang menyatakan WA NAHNU LAHU SALAFIYUUN….? Atau dalam HADITS.Inilah yang saya maksud sebaiknya kita kembali kepada perintah yang JELAS dan TEGAS.surat Ali Imran ayat 110, ini adalah perintah untuk beramarma’ruf nahi munkar dan beriman kepada Allah SWT. Bukan perintah untuk bermanhaj SALAF.berkaitan dengan hadits-hadits yang mengindikasikan SALAF, contohnya “Sebaik-baik manusia adalah kurunku, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka…”Hadits ini khabar atau perintah. Kalau kabar maka hadits ini adalah pujian kepada generasi terbaik. Hadits ini jelas-jelas berupa kabar. Sebab jika kita kaitkan dengan ayat lainnya maka yang paling mulia adalah yang paling taqwa (INNA AKRAMAKUM ‘INDALLAHI ATQAAKUM).
Mereka tidak dibatasi ZAMAN dan WAKTU. Contohnya IMAM MAHDI meskipun lahir di akhir zaman. Beliau adalah orang yang sangat bertaqwa.
Kalau setiap khabar dijadikan dalil untuk membuat sebuah MANHAJ, Maka kita akan temukan banyak sekali MANHAJ. (Ini tidak masalah, selama hal ini tidak dipaksakan kepada orang lain). Atau dijadikan tanda/simbol bahwa merekalah satu-satunya kelompok yang selamat/yang ditolong (FIRQATUN NAJIYAH/THAIFAH MANSHURAH).Contohnya dalam Alqur’an banyak sekali kita temukan khabar tentang para Nabi dan Rasul. Lalu kemudian kitabuat namanya MANHAJ RUSULI (Pengikut 25 Nabi dan Rasul).Dalam Alqur’an dan hadits banyak kita temukan pujian terhadap SAHABAT, lalu kita buat MANHAJ ASHABI.
Atau banyak juga pujian terhadap JIBRIL lalu kita bentuk MANHAJ JIBRILI dan seterusnya.
Web Salafy almanhaj sekarang menambahkan kata "Ahlus sunnah wal jama'ah" yang dahulu mereka "Salafy" alergi menggunakannya
Web Salafy almanhaj sekarang menambahkan kata “Ahlus sunnah wal jama’ah” yang dahulu mereka “Salafy” alergi menggunakannya
pernyataan Syaikh Albani , kenapa kita butuh simbol ini, alasannya karena banyaknya aliran sesat pada zaman ini? (Silahkan baca buku Biografi Syaikh Albani)
Pertanyaannya adalah: apakah pada zaman FITNATUL KUBRA (Ali RA VS Muawiyah RA) tidak banyak aliran sesat? Lalu masa-masa setelahnya apakah juga tidak banyak aliran sesat? Lalu kenapa para IMAM dan SALAFUS SHALIH pada saat itu tidak memproklamirkan MANHAJ SALAFY. Justru yang disepakati adalah AHLU SUNNAH WAL JAMA’AH (ini menjadi sumber hukum karena IJMA’/kesepakatan). Karena kesepakatan adalah (salah satu) sumber hukum Islam.
Sedangkan MANHAJ SALAF belum pernah menjadi IJMA’.Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, BAGAIMANA JIKA KEMUDIAN ORANG-ORANG MENGAKU ber-MANHAJ SALAF itu kemudian rusak lagi dan berpecah belah, terbukti saat ini SALAFY telah terbelah menjadi berbagai kelompok, LUQMAN BA’ABDUH, SALAFY-nya lawannya ba’abduh, SALAFY SYAIKH SAFAR, SALAFY-nya SYAIKH ALBANI, SALAFY-nya SYAIKH AL QARNI, SALAFY-nya SYAIKh MUQBIL, SALAFY-nya SYAIKH RABI’ dll.
Tidak pede dengan istilah "Salafy" kembali mengakui "Ahlus sunnah Wal jama'ah"
Tidak pede dengan istilah “Salafy” kembali mengakui “Ahlus sunnah Wal jama’ah”
Apakah kemudian kita membuat SIMBOL Baru lagi? Misalnya QADIMI?
Sekali lagi mari kita kembali kepada penisbatan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya yaitu menjadi MUSLIM/MUKMIN/MUTTAQIIN.

يُخَـٰدِعُونَ ٱللَّهَ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَمَا يَخۡدَعُونَ إِلَّآ أَنفُسَهُمۡ وَمَا يَشۡعُرُونَ

“Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.” (Albaqarah : 9)
Tak ada lagi nama Salafy menempel di slogannya meskipun dakwahnya tetap berbau Salafy (bukan Aswaja)
Tak ada lagi nama Salafy menempel di slogannya meskipun dakwahnya tetap berbau Salafy (bukan Aswaja)

Wallahu a’lam

Akibat pemahaman agama orang yang terlalu polos



PEMAHAMAN AGAMA YG TERLALU POLOS..
"RASULULLAH SAJA TIDAK PAKAI HELM!!"

Suatu ketika, seorang polisi menghentikan seorang bapak pengendara sepeda motor yang tidak mengenakan helm dimana bapak itu hanya mengenakan peci berwarna putih sebagai penggantinya. Tanpa pikir panjang, polisi meminta SIM dan STNK si bapak yang langsung ditolak dengan keras si bapak.
Polisi : (Mengeluarkan buku tilang) Maaf, boleh saya melihat SIM dan STNK anda?
Bapak : Sebutkan apa kesalahan saya.
Polisi : Anda tidak mengenakan helm.
Bapak : Saya tidak akan mengenakan helm, itu bukan sesuatu yang wajar di agama saya.
Polisi : (Sedikit bingung) Maksud anda?
Bapak : RASULULLAH SAJA TIDAK PAKAI HELM. JADI JANGAN MINTA SAYA MENGENAKAN SESUATU YANG TIDAK DIKENAKAN OLEH BELIAU.
Polisi : (Menutup bukunya dan tersenyum ramah) Begitu ya pak? Tapi setahu saya juga, RASULULLAH TIDAK MENGENDARAI MOTOR. Dan pertanyaan saya pun sederhana, andai zaman itu sudah ada motor, APAKAH ANDA YAKIN RASULULLAH TIDAK AKAN PERNAH MEMAKAI HELM?
Bapak : (Tersentak dan terdiam seketika)
Polisi : Anda dengan mudahnya mengharamkan yang anda benci, tapi menghalalkan yang anda sukai seolah-olah andalah penentunya. AlhamduliLLAH saya juga punya ilmu agama yang baik, dan saya percaya bahwa RASULULLAH lebih menyukai umatnya yang melindungi kesehatannya dan keluarganya.
Bapak : Apa maksud bapak? Apakah hanya karena helm berarti saya tak melindungi keluarga saya?
Polisi : Benar. Bahwa jika terjadi hal buruk yang mencelakai kepala anda akibat benturan, apakah keluarga anda tidak akan menerima akibatnya? Bagaimana perasaan takut dan tertekan yang akan mereka rasakan? Siapa yang nanti akan menafkahi mereka?
Bapak : ALLAH yang akan menafkahi mereka.
Polisi : Lewat siapa? Bukankah rezeki yang diberikan ALLAH seringkali lewat orang lain? Dan bukankah rezeki yang mereka terima itu lewat anda? Jika anda cacat, maka aliran rezeki akan lewat orang lain, bisa jadi 'ayah tiri anak-anak anda'. Dan apakah anda ikhlas dengan itu?
Bapak : (Sekali lagi terdiam sambil mengeluarkan SIM dan STNK)
Polisi : Ini pesan saya buat anda pak, melindungi diri anda sama halnya dengan melindungi keluarga anda. Mungkin ini hanya sebuah helm, tapi bayangkan perasaan nyaman yang dirasakan istri anda saat melihat kepala suaminya terlindungi. Dan jika anda mencintai keluarga anda, maka anda pasti mengurangi resiko yang membahayakan anda. Hari ini saya tak menilang anda, anggaplah nasehat barusan sebagai surat tilang saya untuk anda.

Rabu, 26 Agustus 2015

Rahasia huruf WAHABI

NAMA ini diciptakan oleh YAHUDI (FREEMASON) untuk mereka yang merupakan pengikut DAJJAL,, FREEMASON sangat terkenal mahir membuat kode-kode berupa simbol ataupun angka untuk sesama mereka.
Dalam keheningan dan ketafakuran  ,, selesai sholat ,, entah mengapa seperti ada pemberitahuan (ILHAM) tentang rahasia nama tersebut (WAHABI) ,, ternyata ada konspirasi besar di balik nama tersebut

WAHABI ======== >>
W === H === B
W => WARRIOR
H => HORUS
B => BEING

" WARRIOR HORUS BEING"
Yang berarti prajurit makhluk horus / mata satu

Silakan lihat gambar yang saya upload mungkin ini sudah cukup menjelaskan kebenarannya ,, ALLAHU AKBAR ... ALLAHU AKBAR .... ALLAHU AKBAR!!!

NB: tolong share dan bagikan ke semua group ini penting !!!!

Semoga bermanfaat

Minggu, 16 Agustus 2015

Kitab Tafsir At-Thobari

Tinggal pilih mau download yang mana silahkan
Kitab berbahasa Arab bisa didownload di sini dalam dua edisi:

https://archive.org/details/TafsirTabariTurki

1. Terbitan Maktabah Ibn Taymiyah-Kairo, cetakan kedua, penelaah dan pemberi catatan: Mahmud Muhammad Syakir dan Ahmad Muhammad Syakir.
http://www.archive.org/details/TafsirTabariShakir (16 jilid + Mukadimah Penelaah dan Pemberi Catatan).

2.Terbitan bersama Markaz al Buhuts Wa ad Dirasat al ‘Arabiyah Wa al Islamiyah dan Dar Hijr-Kairo, cetakan pertama, tahun 1422/2001, penelaah dan pemberi catatan: DR. Abdullah Bin Abdul Muhsin Atturki.
http://www.archive.org/details/TafsirTabariTurki (26 jilid + Mukadimah Penelaah dan Pemberi Catatan).

Terjemahan bahasa Indonesia diterbitkan oleh Pustaka Azzam, 26 jilid, seharga Rp. 4.676.000 (empat juta enam ratus tujuh puluh enam ribu rupiah).

Kitab karya Abu Ja’far Muhammad Ibnu Jarir ath Thabari ini merupakan induk kitab tafsir, bukan karena masa penyusunannya yang lebih awal, melainkan karena keistimewaan pembahasannya yang belum pernah dilakukan oleh para sarjana sebelum dirinya, yang mana dia telah menghimpun penafsiran para sarjana pendahulu (salaf) dan yang datang belakangan sesudah masa mereka (khalaf).

Sewaktu dia menghimpun riwāyat dan kajian-kajian rasional (dirāyat) di dalam tafsirnya, dia menukil penafsiran dari para sahabat Rasul dan murid-murid mereka hingga orang yang paling akhir meriwayatkannya, dan berusaha sekuat daya memeriksa segi-segi penafsiran mereka secara seksama serta memilah dan memilihnya. Di sini tampak kecemerlangan penguasaannya atas segi-segi redaksi (i'rāb) Alqurān pada bagian-bagian yang para sarjana berbeda pendapat dalam segi i'rab dan segi penakwilannya.

Ibnu Jarir hidup tahun 224 hingga 310 Hijriah, atau kira-kira tahun 838-922.


Sumber :
https://archive.org/details/TafsirTabariShakir 

PDF FILES
SHOW A

DOWNLOAD OPTIONS
SHOW ALL

جامع البيان عن تأويل آي القرآن - تفسير الطبري




الكتاب: تفسير الطبري - جامع البيان عن تأويل آي القرآن
المؤلف: الإمام محمد بن جرير بن يزيد بن كثير بن غالب الشهير بالإمام أبو جعفر الطبري - 838-923 - 224 هـ آمل، طبرستان - 26 شوال 310 هـ
إمام من أئمة المسلمين وعالم جليل, مؤرخ ومفسر وفقيه مسلم صاحب أكبر كتابين في التفسير والتاريخ.
يعتبر أكبر علماء الإسلام تأليفًا وتصنيفًا. إمام المؤرخين والمفسرين.
تفسيره من أجلِّ التفاسير وأعظمها شأناً، وقد تميز بالتالي:
• جمع المأثور عن الصحابة وغيرهم في التفسير.
• الاهتمام بالنحو والشواهد الشعرية.
• تعرضه لتوجيه الأقوال.
• الترجيح بين الأقوال والقراءات.
• الاجتهاد في المسائل الفقهية مع دقة في الاستنباط.
• خلوه من البدع, وانتصاره لمذهب أهل السنة.
• ومنهجه في كتابه أنه يصدر تفسيره للآيات بذكر المأثور عن النبي - صلى الله عليه وسلم - والصحابة ومن دونهم بقوله:
القول في تأويل قوله تعالى....- بعد أن يستعرض المعنى الإجمالي للآية، فإن كان فيها أقوال سرده، وأتبع كل قول بحجج قائليه رواية ودراية، مع التوجيه للأقوال، والترجيح بينها بالحجج القوية.
محنته:
تعرض الطبري لمحنة شديدة في أواخر حياته بسبب التعصب المذهبي، فلقد وقعت ضغائن ومشاحنات بين ابن جرير الطبري ورأس الحنابلة في بغداد أبي بكر بن داود أفضت
إلى اضطهاد الحنابلة لابن جرير، وكان المذهب الحنبلي في هذه الفترة هو المسيطر على العراق عامةً وبغدادَ خاصةً، وتعصب العوامّ على ابن جرير ورموه بالتشيّع وغالوا في ذلك.
حتى منعوا الناس من الاجتماع به، وظل ابن جرير محاصرًا في بيته حتى تُوفّي.
ثناء العلماء عليه:
*قال عنه الإمام النووي: أجمعت الأمة على أنه لم يصنف مثل الطبري.
*قال عنه ياقوت الحموي: "أبو جعفر الطبري المحدِّث، الفقيه، المقرئ، المؤرِّخ، المعروف، المشهور.
*قال عنه الخطيب البغدادي: "كان أحد أئمة العلماء، يُحكم بقوله، ويُرجع إلى رأيه لمعرفته وفضله، وكان قد جمع من العلوم ما لم يشاركه فيه أحد من أهل عصره، وكان حافظًا لكتاب الله، عارفًا بالقراءات كلها، بصيرًا بالمعاني، فقيهًا في أحكام القرآن، عالمًا بالسنن وطرقها:
صحيحها وسقيمها، وناسخها ومنسوخها، عارفًا بأقوال الصحابة والتابعين ومن بعدهم قل أن ترى العيون مثله...، عارفًا بأيام الناس وأخبارهم.
*قال عنه أحمد ابن خلكان:العلم المجتهد عالم العصر صاحب التصانيف البديعة كان ثقة صادقا حافظا رأسا في التفسير إماما في الفقه والإجماع والاختلاف علامة في التاريخ وأيام الناس عارفا بالقراءات وباللغة وغير ذلك.
*قال ابن الأثير: أبو جعفر أوثق من نقل التاريخ وفي تفسيره ما يدل على علم غزير وتحقيق وكان مجتهدًا في أحكام الدين لا يقلد أحدًا بل قلده بعض الناس وعملوا بأقواله وآرائه وكان أسمر، أعين، نحيف الجسم، فصيحًا.
*قال عنه الذهبي: "الإمام الجليل، المفسر أبو جعفر، صاحب التصانيف الباهرة... من كبار أئمة الإسلام المعتمدين. كان ثقة حافظًا صادقًا، رأسًا في التفسير، إمامًا في الفقه والإجماع والاختلاف، عَلاَّمةً في التاريخ وأيام الناس، عارفًا بالقراءات واللغة، وغير ذلك. وفي موضع اخر قال: الطبري له كتاب التفسير، لم يصنف أحد مثله".
*قال ابن خزيمة: "ما أعلم على الأرض أعلم من محمد بن جرير".
*قال عنه ابن تغري بردي: "وهو أحد أئمة العلم، يُحكم بقوله، ويُرجع إلى رأيه، وكان متفننًا في علوم كثيرة، وكان واحد عصره".
قال ابن تيمية: وأما التفاسير التي في أيدي الناس فأصحها تفسير محمد بن جرير الطبري, فإنه يذكر مقالات السلف, بالأسانيد الثابتة, وليس فيه بدعة, ولا ينقل عن المتهمين.
قال السيوطي: " الإمام أبو جعفر، رأس المفسرين على الإطلاق، أحد الائمة، جمع من العلوم ما لم يشاركه فيه أحد من أهل عصره، فكان حافظاً لكتاب الله، بصيراً بالمعاني، فقيهاً في أحكام القرآن، عالماً بالسنن وطرقها، صحيحها وسقيمها، ناسخها ومنسوخها، عالماً بأحوال الصحابة والتابعين، بصيراً بأيام الناس وأخبارهم.
وفي كتاب اخر قال: الطبري وكتابه أجلُّ التفاسير وأعظمها... فإنه يتعرض لتوجيه الأقوال وترجيح بعضها على بعض، والإعراب والاستنباط، فهو يفوقها بذلك".

Language Arabic
Download Tafsir Ath Thabari

Cover Thabari
Cover

JILID 1
4 MB
DOWNLOAD
JILID 2
13 MB
DOWNLOAD
JILID 3
12 MB
DOWNLOAD
JILID 4
12 MB
DOWNLOAD
JILID 5
12 MB
DOWNLOAD
JILID 6
13 MB
DOWNLOAD
JILID 7
`14 MB
DOWNLOAD
JILID 8
12 MB
DOWNLOAD
JILID 9
13 MB
DOWNLOAD
JILID 10
12 MB
DOWNLOAD
JILID 11
13 MB
DOWNLOAD
JILID 12
11 MB
DOWNLOAD
JILID 13
12 MB
DOWNLOAD
JILID 14
12 MB
DOWNLOAD
JILID 15
10 MB
DOWNLOAD
JILID 16
12 MB
DOWNLOAD
JILID 17
11 MB
DOWNLOAD
JILID 18
11 MB
DOWNLOAD
JILID 19
11 MB
DOWNLOAD
JILID 20
11 MB
DOWNLOAD
JILID 21
10 MB
DOWNLOAD
JILID 22
12 MB
DOWNLOAD
JILID 23
10 MB
DOWNLOAD
JILID 24
11 MB
DOWNLOAD
JILID 25 – 26
18 MB
DOWNLOAD


Download kitab Tafsir At-Thobari





Judul kitab : Jami'ul Bayan 'An Ta'wili Aayil Qur'an (Tafsir At-Thobari)
Penulis : Abu Ja'far, Muhammad bin Jarir at-Thobari (Imam Thobari)
Muhaqqiq : Dr. Abdulloh bin Abdul Muhsin At-Turki
Penerbit : Dar Hijr, Riyadh - Arab Saudi
Cetakan : Pertama
Tahun terbit : 2006
Link download (PDF) : Cover  Muqoddimah  Juz 1  Juz 2  Juz 3  Juz 4  Juz 5  Juz 6  Juz 7  Juz 8  Juz 9  Juz 10  Juz 11  Juz 12  Juz 13  Juz 14  Juz 15  Juz 16  Juz 17  Juz 18  Juz 19  Juz 20  Juz 21  Juz 22  Juz 23  Juz 24  Daftar isi
  ............................................................
Kalau tidak bisa download di atas, bisa Klis disini untuk mendownload kitab Tafsir At Thobari
https://www.mediafire.com/?t8wjscxfa3qx2


Postingan Terkait


KITAB - KITAB TAFSIR UMUM

Tafsir Imam Syafi'i

Tafsir Ath-Thobari

Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Ad-Durrul Mantsur - Imam Suyuthi

Tafsir Ibnu Abi Hatim

Tafsir Imam Mujahid

Tafsir As-Sirojul Munir - Imam Khotib Asy-Syarbini

Tafsir Qurthubi

Tafsir Ibnul Mundzir

Tafsir Al-Kabir/Mafatihul Ghoib - Imam Fakhrurrozi

Tafsir Ruhul Ma'ani - Imam Al-Alusi

Tafsir Al-Bahrul Muhith - Abu Hayyan Al-Andalusi

Tafsir An-Nasafi

Tafsir Al-Khozin

Tafsir Sufyan Ats-Tsauri

Tafsir Al-Baghowi

Tafsir Al-Mannar - Rosyid Ridho

Tafsir Al-Maroghi

Tafsir At-Tahrir Wat-Tanwir - Ibnu Asyur

Tafsir Fathul Qodir - Asy-Syaukani

Tafsir Al-Kasysyaf - Az-Zamakhsyari

Tafsir Al-Wajiz - Al-Wahidi

Tafsir Al-Wasith - Al-Wahidi

Tafsir Al-Basith - Al-Wahidi


KITAB - KITAB TAFSIR AYAT AHKAM

Ahkamul Qur'an Lil Imam Asy-Syafi'i - Imam Baihaqi

Ahkamul Qur'an - Ilkiya Al-Harrosyi

Al-Iklil Fi Istibatit Tanzil - Imam Suyuthi

Ahkamul Qur'an - Imam Ibnul Arobi

Ahkamul Qur'an - Al-Jashshoh

Ahkamul Qur'an - Ath-Thohawi

Ahkamul Qur'an - Al-Jahdhomi

Ahkamul Qur'an - Ibnul faros Al-Andalusi

Tafsir Nailul Marom Min Tafsir Ayat Ahkam - Shiddiq Hasan Khan

Rowa'iul Bayan Tafsir Ayat Ahkam - Ali Ash-Shobuni

Tafsir Ayat Ahkam - Abdul Qodir Syaibatul Hamd

Jumat, 14 Agustus 2015

Aswaja Tidak Pernah Tinggalkan Qur'an Sunnah, Kok Diajak Kembali?!

Di antara adab terhadap al-Qur'an dan Hadis ialah tidak gegabah melakukan istidlal dan istinbath hukum. Harus hati-hati. Memutilasi ayat al-Qur'an dan hadis untuk kepentingan pribadi yang bersifat praktis--dengan mengabaikan pendapat mufassir--adalah seolah menggunakan keris pusaka untuk mengiris kedondong.

Karena keduanya merupakan "bahan baku", maka dibutuhkan para ahli yang mengolah intisari keduanya agar bisa disajikan kepada orang awam dengan praktis, aplikatif, dan tidak expired. Ulama adalah ahli dalam mengolah kedua "bahan baku" ini.

Karena itu, slogan manis "kembali ke al-Qur'an dan Assunnah" kurang tepat. Mengapa? Karena Ahlussunnah wal Jama'ah tidak pernah meninggalkan keduanya. Jadi, mengapa harus kembali?

Kalaupun slogan ini diperuntukkan untuk kaum awam, malah berbahaya. Sebab, butuh keilmuan "pilih tanding" yang ditunjang kredibilitas untuk menerapkan slogan "kembali ke al-Qur'an dan Assunnah" ini.

Oleh karena itulah, para ulama menyusun tafsir al-Qur'an dan puluhan kitab syarah hadis agar menjadi rambu-rambu dalam memahami al-Qur'an dan hadis. Dengan cara ini, kita sebenarnya kita diajarkan untuk tidak gampang comot dalil dan otak atik gathuk ayat dan sabda Baginda Rasulullah ShallAllah 'alaihi wasallam.

"Andaikata orang BODOH mau DIAM, niscaya nihillah perselisihan...." 
(Sayyidina Ali KarramAllah Wajhah)

*WAllahu A'lam bisshawab*