Rabu, 01 April 2015

Syeh Albany wafat 1999 lalu (Ulama zaman akhir)

'PAHAMI KARYA ULAMA KITA DENGAN SUNGGUH SUNGGUH. 

Oleh Von Edison Alouisci

To The Point

Para Ulama bersanad adalah Waritsatul Anbiya, maka pahamilah agama melalui karya-karyanya dengan benar.Jangan ngeminter Ijtihad sendiri memahami hadits dan quran berdasarkan skyle pribadi.

membuat pengertian sendiri sama dengan ngeminter ijtihad padahal Kita ini lum levelnya ahli injithad bahkan banyak byk diantara kita malahan bodoh.. sekolah saja dapet rangking juga kagak,kuliah dapet cum laude juga kagak.pengetahuan malahan masih jauh.

Bermadzab itu karna kita ini bukan ahli ijtihaj.Tetangga sebelah kita tidak bermadzab karna sudah ahlinya menafsirkan sendiri quran dan hadits.

Hadits Fenomenal semisal hadits Bidah.tetangga kita tak perlu merujuk pendapat Ulama salaf krn mereka bukan pengikut salaf.seandainya mereka mereka memang berpaham salaf,maka pembagian bidah menurut ulama salaf tentu mereka ikuti.tapi semua tahu.. tetangga sebelah malahan tidak sepaham dengan pandapat ulama salaf.

jika begini.. dimana letaknya mereka berpaham salaf ?? Tidak ada. ( mereka cuma Merayu orang awam agar ikut paham mereka dgn cap stempel BERMANHAJ SALAF )
Padahal mereka ini sebenarnya berpaham Muhammad bin abdul wahabi dan kroninya yang secuilpun bukan ulama salaf apalagi ulama madzab.

kebanyakan pengikutnya rata rata sudah ahli Ijtihad .Semua.berlomba lomba membuat Tafsiran sendiri.krn tak punya sanad ilmu.dan jangan heran jk satu sama lain sering kita lihat tidak saling cocok yang buntutnya merekapun membuat lagi pecahan kelompok baru.. semisal wahabi halabi,wahabi sururi..wahabi ikhwani..dll..padahal kiblat ajaran mereka sama saja.. yakni pada Yang Mulia ahlul najd Muhammad bin abdul wahab ..satu kampung dengan nabi PALSU musailamah al khazab najd si khawarij.

Kita tak perlu membuat cap stempel  mirip macam tetangga sebalah "bermanhaj salaf". Kita tak perlu buat Motto "Tegar diatas Sunnah" karna sunnah mereka bukan sunnah tafsiran ulama salaf melainkan hasil ijtihad mereka sendiri.

Percayalah.. andaikata mereka tidak mengubah kitab kitab Ulama salaf,imam madzab,maka sebenarya mereka Tidak bisa berbuat apa apa dalam berdalil atau berhujjah.

Hujjah mereka kebanyakn berdasarkan kepalsuan data karna dari kitab palsu atas nama Ulama salaf dan imam madzab dan rata rata memang kitab kitab  produk anyaran.
Apapun alasannya mereka sudah memelintir pendapat Uama salaf dan imam madzab.dan itu sama dengan memfitnah para Waritsatul Anbiya dan membohongi Umat.

bagaimana mau di katakan ahlu sunnah jika adabnya ahlul fitnah ??

Sungguh benar berkataan Rasulullah bahwa dua tanduk syetan dan tempatnya fitnah datang dari najd.
Mungkin mereka menolak najd sebagai tempatnya ahlul fitnah.. namun mereka tidak bisa menghindar jika pemalsuan kita kitab salaf dan imam madzab adalah sumber fitnah paling besar yang mengakibatkan salah pemahaman syariat dan perang antar sesama muslim.

gejolak perang itu adalah hasil fitnah,hasil kitab kitab palsu.. yang  telah diartikan berbeda misalnya Jihad..Tafsir jihad sudah melenceng dari pendapat pandapat salaf,tabiin dan tabiun.. maka ketika kitab  palsu ini dibaca oleh orang awam.. tanpa teliti lagi.. mulailah mereka beryel yel jihad jihad dan pada akhirnya peranglah yang akan terjadi.

Jadi awal fitnah adalah sumber kitabnya sudah bukan original.dan ini justru Fitnah paling besar walaupun hanya satu dua baris kalimat diubah,dihapus,dan ditambahi.Efeknya bakal menipu umat dan memfinah ulama terdahulu.karna itu Fitnah dari Timur paling besar cuma satu.. finah dari najdi,35 Km dari kota riyad tempat sang pendiri wahabi yang memang namanya najd  terlepas dari tinggi atau rendah sebagaimana tetangga sebelah mencoba menghindari hadits Rasulullah.

Semoga kita hati hati jika membaca sumber kitab baru bila perlu tanyakan pada Ulama ulama pondok pesantren terkemuka kebenaran isinya.dan terkait hadits,sebaiknya hindari kitab hadits cap stempel DISAHIHKAN,DIDLAIFKAN,DIHASANKAN OLEH ALBANI ( wafat 1999 lalu)  karna jauh sebelum ada albani  tidak pernah terjadi cap stempel muhadits manapun selain apa yang telah disepakati ulama salaf sejak berabad abad lampau.bahkan seorang dedengkot  rujukan akidah wahab,ibnu taymiyah-pun tidak berani membuat cap stempel di sahih oleh IBNU TAYMIYAH !.

Hindari hadits hadits  cap albani karna keabsahan capnya tidak valid bahkan banyak contoh ia kacau menilai hadits.Ini agaknya sudah direncanakan..oleh sekte sempalan ini guna mendukung kitab kitab palsu yang sudah diservice ulang oleh ulama dan ustadz wahabi.
menilai kitab palsu sebenarnya jadi mudah dengan adanya cap albani.. karna begitu isi kitabnya mengemukakan hadits bercap albani maka dipastikan kitab itu sudah TAFSIRAN baru.

jika kebetulan anda menemukan kitab jenis ini ketika membeli kitab sebaiknya TINGGALKAN. atau lebih baik datangi pondok pesantren terpercaya minta tolong copy scaner kitab aslinya buat pegangan sendiri.biarpun copian scaner tapi isinya asli... dan itu lebih baik ketimbang memahami agama dari hasil tipuan karn jika tidak hati hati  anda sendiri sudah salah jalan tanpa sadar dan jadi bahan tertawaan para santri dan ulama kredible karna kebodohan anda sendiri.

Semoga saudara/saudari aswaja terkhusus yang awam untuk cermat cermat dan hati hati jika membeli kitab atau dapat kiriman orang.Pahamilah agama melalui karya-karya para Waritsatul Anbiya dengan sumber yang benar jika tidak ingin salah jalan yang mengakibatkan anak cucu anda sendiri jadi ikutan ikutan salah jalan karna andalah yang mulai membuka jalan salahnya.Intaha.

By. Von Edison Alouisci

kingstones street 2.4.2015

@[123613777691130:1: visit ] My pages: @[123613777691130:274:Von Edison Alouisci] 
CLICK: @[123613777691130:1: LIKE ] OR: @[123613777691130:1: DONT LIKE ]'

PAHAMI KARYA ULAMA KITA DENGAN SUNGGUH SUNGGUH.
Oleh Von Edison Alouisci
To The Point

Para Ulama bersanad adalah Waritsatul Anbiya, maka pahamilah agama melalui karya-karyanya dengan benar.Jangan ngeminter Ijtihad sendiri memahami hadits dan quran berdasarkan skyle pribadi.
membuat pengertian sendiri sama dengan ngeminter ijtihad padahal Kita ini belum levelnya ahli injithad bahkan banyak byk diantara kita malahan bodoh.. sekolah saja dapet rangking juga kagak, kuliah dapet cum laude juga kagak.pengetahuan malahan masih jauh.

Bermadzab, itu karna kita ini bukan ahli ijtihaj.


Tetangga sebelah kita tidak bermadzab karna merasa sudah ahlinya menafsirkan sendiri quran dan hadits. 

sehingga Hadits Fenomenal semisal hadits Bid'ah,.tetangga kita tak perlu merujuk pendapat Ulama salaf krn mereka bukan pengikut salaf,.seandainya mereka mereka memang berpaham salaf, maka pembagian bid'ah menurut ulama salaf tentu mereka ikuti.tapi semua tahu.. tetangga sebelah malahan tidak sepaham dengan pandapat ulama salaf.

Jika begini.. dimana letaknya mereka berpaham salaf ?? Tidak ada. ( mereka cuma Merayu orang awam agar ikut paham mereka dgn cap stempel BERMANHAJ SALAF )


Padahal mereka ini sebenarnya berpaham Muhammad bin abdul wahabi dan kroninya yang secuilpun bukan ulama salaf apalagi ulama madzab.

Kebanyakan pengikutnya rata rata sudah ahli Ijtihad .(Katanya)

Semua.berlomba lomba membuat Tafsiran sendiri.krn tak punya sanad ilmu.dan jangan heran jk satu sama lain sering kita lihat tidak saling cocok yang buntutnya merekapun membuat lagi pecahan kelompok baru.. semisal wahabi halabi, wahabi sururi..wahabi ikhwani..dll..

padahal kiblat ajaran mereka sama saja.. yakni pada Yang Mulia ahlul najd Muhammad bin abdul wahab ..satu kampung dengan nabi PALSU musailamah al khazab najd si khawarij.

Kita tak perlu membuat cap stempel mirip macam tetangga sebalah "bermanhaj salaf". Kita tak perlu buat Motto "Tegar diatas Sunnah" karna sunnah mereka bukan sunnah tafsiran ulama salaf melainkan hasil ijtihad mereka sendiri.

Percayalah.. andaikata mereka tidak mengubah kitab kitab Ulama salaf, imam madzab, maka sebenarya mereka Tidak bisa berbuat apa apa dalam berdalil atau berhujjah.

Hujjah mereka kebanyakn berdasarkan kepalsuan data karna dari kitab palsu atas nama Ulama salaf dan imam madzab dan rata rata memang kitab kitab produk anyaran.

Apapun alasannya mereka sudah memelintir pendapat Uama salaf dan imam madzab.dan itu sama dengan memfitnah para Waritsatul Anbiya dan membohongi Umat.

bagaimana mau di katakan ahlu sunnah jika adabnya ahlul fitnah ??

Sungguh benar berkataan Rasulullah bahwa dua tanduk syetan dan tempatnya fitnah datang dari najd.
Mungkin mereka menolak najd sebagai tempatnya ahlul fitnah.. namun mereka tidak bisa menghindar jika pemalsuan kita kitab salaf dan imam madzab adalah sumber fitnah paling besar yang mengakibatkan salah pemahaman syariat dan perang antar sesama muslim.

gejolak perang itu adalah hasil fitnah,hasil kitab kitab palsu.. yang telah diartikan berbeda misalnya Jihad..Tafsir jihad sudah melenceng dari pendapat pandapat salaf,tabiin dan tabiun.. maka ketika kitab palsu ini dibaca oleh orang awam.. tanpa teliti lagi.. mulailah mereka beryel yel jihad jihad dan pada akhirnya peranglah yang akan terjadi.

Jadi awal fitnah adalah sumber kitabnya sudah bukan original.dan ini justru Fitnah paling besar walaupun hanya satu dua baris kalimat diubah,dihapus,dan ditambahi.Efeknya bakal menipu umat dan memfinah ulama terdahulu.karna itu Fitnah dari Timur paling besar cuma satu.. finah dari najdi,35 Km dari kota riyad tempat sang pendiri wahabi yang memang namanya najd terlepas dari tinggi atau rendah sebagaimana tetangga sebelah mencoba menghindari hadits Rasulullah.

Semoga kita hati hati jika membaca sumber kitab baru bila perlu tanyakan pada Ulama ulama pondok pesantren terkemuka kebenaran isinya.dan terkait hadits,sebaiknya hindari kitab hadits cap stempel

DISAHIHKAN,DIDLAIFKAN,DIHASANKAN OLEH ALBANI ( wafat 1999 lalu) karna jauh sebelum ada albani tidak pernah terjadi cap stempel muhadits manapun selain apa yang telah disepakati ulama salaf sejak berabad abad lampau.bahkan seorang dedengkot rujukan akidah wahab,ibnu taymiyah-pun tidak berani membuat cap stempel di sahih oleh IBNU TAYMIYAH !.

Hindari hadits hadits cap albani karna keabsahan capnya tidak valid bahkan banyak contoh ia kacau menilai hadits.


Ini agaknya sudah direncanakan..oleh sekte sempalan ini guna mendukung kitab kitab palsu yang sudah diservice ulang oleh ulama dan ustadz wahabi.

Menilai kitab palsu sebenarnya jadi mudah dengan adanya cap albani.. 


karna begitu isi kitabnya mengemukakan hadits bercap albani maka dipastikan kitab itu sudah TAFSIRAN baru.

jika kebetulan anda menemukan kitab jenis ini ketika membeli kitab sebaiknya TINGGALKAN.

atau lebih baik datangi pondok pesantren terpercaya minta tolong copy scaner kitab aslinya buat pegangan sendiri. biarpun copian scaner tapi isinya asli... 


dan itu lebih baik ketimbang memahami agama dari hasil tipuan karn jika tidak hati hati anda sendiri sudah salah jalan tanpa sadar dan jadi bahan tertawaan para santri dan ulama kredible karna kebodohan anda sendiri.

Semoga saudara/saudari aswaja terkhusus yang awam untuk cermat cermat dan hati hati jika membeli kitab atau dapat kiriman orang.Pahamilah agama melalui karya-karya para Waritsatul Anbiya dengan sumber yang benar jika tidak ingin salah jalan yang mengakibatkan anak cucu anda sendiri jadi ikutan ikutan salah jalan karna andalah yang mulai membuka jalan salahnya.Intaha.

Media Online Dikuasai Kelompok Tak Paham Agama




http://www.islam-institute.com/wp-content/uploads/2015/04/Gus-Mus-Majelis-Ulama-Indonesia-Media-Online-Dikuasai-Kelompok-Tak-Paham-Agama.jpg

Gus Mus: Media Online Dikuasai Kelompok Tak Paham Agama

Gus Mus: Antara Pengikut Nabi Muhammad Saw dan Pengikut Abu Jahal

Gus Mus: Semarang -  Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Ahmad Mustofa Bisri, mengaku resah atas peredaran informasi tentang persoalan-persoalan agama yang tersiar di media-media online.

Tokoh Nahdlatul Ulama ini menyatakan saat ini teknologi informasi di media online dan media sosial justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tak memahami dan menguasai agama secara mendalam.

"Itu Masya Allah. Jadinya kacau semua," kata Mustofa Bisri dalam pengajian dalam rangka ulang tahun unit kegiatan mahasiswa di Kampus III Fakultas Syari'ah Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Senin malam, 30 Maret 2015.

Gus Mus mencontohkan, begitu orang membuka mesin pencari di Internet seperti Google mengenai tanya jawab tentang hukum tertentu, maka yang pertama sekali muncul keluar justru dari orang-orang yang tidak jelas. Kata dia, banyak sekali situs-situs berisi agama Islam yang tidak memahami agama secara mendalam. "Dia tidak dunung (paham), tapi dia menguasai IT (informasi dan teknologi)," kata Gus Mus.

Di hadapan para dosen dan mahasiswa Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, Gus Mus meminta agar kalangan kampus ikut bergerak untuk menangani masalah tersebut. "Fakultas Syariah harus muncul di Internet. Biar yang lain hanya jadi bandingan saja," kata Gus Mus. Kampus harus memberi pemahaman kepada orang-orang yang tidak paham.

Gus Mus juga merasa heran kenapa gerakan Islam radikal seperti kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) ada pengikutnya di Indonesia. "ISIS payu (terjual) di Indonesia itu keterlaluan," kata Gus Mus.

Gus Mus juga heran munculnya orang-orang di televisi yang dengan gampang dilabeli ustad. Padahal, pemahaman agama mereka masih minim.


Gus Mus: Media Online Dikuasai Kelompok Tak Paham Agama.
Gus Mus: banyak orang yang ingin meniru Nabi Muhammad secara salah kaprah

Gus Mus berujar banyak orang yang ingin meniru Nabi Muhammad secara salah kaprah. Ia mencontohkan adanya kelompok di Islam yang merasa sudah seperti Nabi Muhammad ketika hanya memakai jubah, surban, dan berjenggot. Padahal, wajah dan perilakunya selalu marah ke orang lain. Bahkan, kata Gus Mus, mereka ini menyalahgunakan nama Allah untuk melakukan kerusakan. Meski berjubah ingin meniru Nabi Muhammad, mereka justru mengkafirkan orang yang sudah Islam. Bukan seperti perjuangan para Walisongo yang mengislamkan orang yang belum Islam, Gus Mus menegaskan.

Gus Mus berpendapat meniru Nabi Muhammad tidaklah dengan cara memakai jubah, surban, dan berjenggot. 


Sebab, kata Gus Mus, orang-orang Arab yang memusuhi Nabi Muhammad juga memakai surban dan jubah, seperti Abu Jahal.

"Jika pakai jubah tapi wajahnya selalu marah, maka itu bukan mengikuti Muhammad, tapi mengikuti Abu Jahal," kata Gus Mus.

Gus Mus menyatakan Nabi Muhammad memakai surban dan jubah sebagai pakaian budaya dan adat masyarakat Arab saat itu. Itu sebabnya, Gus Mus mengaku juga selalu memakai pakaian adat lokal, seperti batik, sebagai wujud untuk mengikuti Nabi Muhammad. "Wajah selalu tersenyum dan ramah," kata Gus Mus.

Jimat dan Rajah Berdasar Hadits Shahih

http://www.islam-institute.com/wp-content/uploads/2015/02/Kajian-Ilmiyah-Jimat-dan-Rajah-jimat-utk-kesehatan.jpg

Kajian Tentang Jimat dan Rajah Berdasar Hadits Shahih

KAJIAN MASALAH JIMAT DAN RAJAH, TERNYATA MENURUT NABI MUHAMMAD SAW DALAM HADITS SHAHIH, TIDAK SEMUA JIMAT DAN RAJAH ADALAH  SYIRIK !

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tulisan kami kali ini dilatar-belakangi keprihatinan atas sikap gegabah yang ditunjukkan oleh sebagian kalangan (baca : Ustadz) dalam menyikapi permasalahan Jimat dan atau Rajah. Sering kita jumpai di salah satu stasiun TV swasta nasional, dengan enteng dan mudahnya seorang ustadz memvonis behwa setiap Jimat dan atau Rajah adalah syirik… adakah fakta hukumnya memang demikian?... yang lebih menyedihkan, mereka mengkategorikan Hizib sebagai salah satu cara meminta bantuan kepada Jin… bagi kami; ini adalah sikap dan pernyataan seseorang yang tidak memahami permasalahan….

Penulis bukanlah mujtahid yang mampu menjelaskan permasalahan ini, sehingga dalam tulisan kali ini penulis menyandarkannya pada pendapat para Ulama yang memiliki kompetensi yang diakui oleh banyak kalangan dari generasi ke generasi.

jimat dan rajah

Mengawali kajian kita kali ini, ada baiknya kita mengenal dulu istilah-istilah yang digunakan baik dalam literatur fiqih maupun hadits khususnya dalam perkara ini…

Ruqyah : Mantera, Jampi-jampi, atau Jimat.

Tamimah : Manik-manik yang dikalungkan di leher anak kecil guna menolak penyakit. Selanjutnya para Ulama menggunakan kosa kata “Tamimah” tersebut untuk menyebut kertas yang didalamnya dituliskan Al Qur’an atau Asma Alloh.
Tiwalah : Jimat pengasihan yang biasa digunakan untuk menarik simpatik lawan jenis.
Nusyroh : Jimat untuk mengobati seseorang yang terkena gangguan Jin.
Wifiq (Awfaq) : Rajah yang tersusun dari rumusan angka-angka.

Sebagian kalangan ada yang kurang bijak dan terkesan pukul rata atau dalam pribahasa jawa “Gebyah Uyah Podho Asine” menganggap semua jenis Jimat adalah syirik berdasar Sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ


Dari Abdulloh Ibn Mas’ud –rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata : Aku mendengar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Sesungguhnya mantera, jimat dan tiwalah adalah syirik”. (HR. Abu Dawud, Al Hakim, Ahmad, Ibn Majah)

Secara literal dan general hadits diatas memberi kesimpulan bahwa segala macam mantera, jimat dan tiwalah adalah syirik dan haram. Akan tetapi memvonis syirik atas perkara-perkara tersebut dengan hanya mengacu pada literal dan generalnya hadits di atas tanpa memperhatikan hadits-hadits terkait yang lain adalah tindakan gegabah dan kurang hati-hati. Terlebih menyangkut vonis Syirik… Mengingat terdapat hadits-hadits shahih lain yang mestinya menjadi perhatian dan pertimbangan sebelum menyimpulkan perkara tersebut.

Diantaranya adalah hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya :

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرُّقَى فَجَاءَ آلُ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ كَانَتْ عِنْدَنَا رُقْيَةٌ نَرْقِي بِهَا مِنْ الْعَقْرَبِ وَإِنَّكَ نَهَيْتَ عَنْ الرُّقَى قَالَ فَعَرَضُوهَا عَلَيْهِ فَقَالَ مَا أَرَى بَأْسًا مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَنْفَعْهُ


Dari Jabir –rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata : Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- melarang Ruqyah/mantera/jampi-jampi, kemudian datang keluarga Amr Ibn Hazm kepada Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam-, mereka berkata : “Kami memiliki Ruqyah/Jampi-jampi untuk mengobati sengatan kalajengking, sedangkan engkau telah melarang Ruqyah/jampi-jampi tersebut”. Selanjutnya mereka (keluarga Amr) memperlihatkan jampi-jampi tersebut kepada Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam - Maka beliau bersabda : "Menurutku tidak apa-apa, barang siapa mampu memberi manfaat untuk saudaranya maka hendaklah ia memberi manfaat pada saudaranya.” (HR. Muslim)

Juga hadits lain dalam Shahih Muslim :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ قَالَ كُنَّا نَرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ تَرَى فِي ذَلِكَ فَقَالَ اعْرِضُوا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لَا بَأْسَ بِالرُّقَى مَا لَمْ يَكُنْ فِيهِ شِرْكٌ


Dari Auf Ibn Malik Al Asyja’iy, ia berkata : Kami melakukan Ruqyah pada masa Jahiliyah, lalu kami berkata : Yaa Rosulalloh, bagaimana menurutmu ? maka Beliau bersabda : “Perlihatkan Ruqyahmu padaku. Ruqyah tidak apa-apa selama tidak mengandung syirik.”(HR. Muslim)

Oleh karenanya kita mendapati sikap dan pandangan para Ulama’ yang tidak meng-“Gebyah Uyah Podho Asine”- (memukul rata dan memvonis syirik segalah jenis Ruqyah/Jampi-jampi). Berikut penjelasan para Ulama dalam masalah tersebut, diantaranya adalah :

Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab

Setelah menyampaikan hadits dari Abdullah Ibn Mas’ud yang berbunyi : Aku mendengar Rosululloh –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah Syirik… dst (HR. Abi Dawud, Ibn Majah) Imam An Nawawi mengutip pernyataan Abu ‘Ubaid, ia berkata :

التولة - بكسر التاء - هو الذى يحبب المرأة إلى زوجها وهو من السحر قال وذلك لا يجوز


At Tiwalah – dengan dibaca kasroh pada huruf Ta’- adalah jimat yang dipergunakan untuk menjadikan perempuan mencintai suaminya, dan hal ini adalah termasuk bagian dari sihir. Abu Ubaid berkata : “Yang demikian itu tidak boleh.”

Selanjutnya Imam An Nawawi berkata :

(وأما) الرقاء والتمائم قال فالمراد بالنهي ما كان بغير لسان العربية بما لا يدرى ما هو


Adapun Ruqyah dan Tamimah, maka yang dimaksud dengan larangan dalam hal tsb adalah yang tidak menggunakan bahasa arab/bahasa yang tidak dapat dimengerti maksudnya. Berikutnya Imam An Nawawi berkata :

* قال البيهقى ويقال ان التميمة خرزة كانوا يعلقونها يرون أنها تدفع عنهم الآفات ويقال قلادة يعلق فيها العود وعن عتبة بن عامر قال (سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول من علق تميمة فلا اتم الله له ومن علق ودعة فلا ودع الله له) رواه البيهقى


وقال هو ايضا راجع إلى معنى ما قال ابو عبيدة قال ويحتمل أن يكون ذلك وما اشبه من النهى والكراهة فيمن يعلقها وهو يرى تمام العافية وزوال العلة بها على ما كانت عليه الجاهلية وأما من يعلقها متبركا بذكر الله تعالى فيها وهو يعلم ان لا كاشف له الا الله ولا دافع عنه سواه فلا بأس بها ان شاء الله تعالى


Al Baihaqi berkata : Dan dikatakan bahwa “Tamimah” adalah manik-manik yang dikalungkan, dan mereka beranggapan bahwa kalung tersebut dapat menolak bahaya. (Sedang dlm pendapat lain) dikatakan bahwa : Tamimah adalah kalung yang padanya diikatkan kayu. Dari ‘Utbah Ibn Amir, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Barangsiapa mengalungkan Tamimah maka Allah tidak menyempurnakan baginya, dan barangsiapa mengalungkan “Wad’ah” (manik-manik) maka Allah tiadak menitipkan titipan padanya .” (HR. Al Bayhaqi).

Al Baihaqi berkata : “Pengertian hadits tersebut juga dikembalikan pada pernyataan Abu ‘Ubaidah, ia berkata : “ Hadits tersebut dan hadits-hadits senada yang bermuatan larangan atau kemakruhan diperuntukkan bagi orang yang mengalungkan “Tamimah” sedang ia menganggap bahwa keselamatan dan hilangnya penyakit disebabkan “Tamimah” tsb, sebagaimana yang terjadi pada masa jahiliyah. Adapun seseorang yang mengalungkan “Tamimah” dengan maksud Tabarruk dengan penyebutan Asma Allah Ta’aala yang ada didalamnya, dan ia meyakini bahwa tiada yang dapat membuka jalan baginya juga tiada yang menolak keburukan darinya kecuali Allah, maka hal tersebut tidak mengapa –Insya Allah-“. (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, vol. 9, hlm. 66)

Al Hafizh Al Munawi dalam Faidhul Qodiir

(إن الرقى) أي التي لا يفهم معناها إلا التعوذ بالقرآن ونحوه فإنه محمود ممدوح (والتمائم) جمع تميمة وأصلها خرزات تعلقها العرب على رأس الولد لدفع العين توسعوا فيها فسموا بها كل عوذة (والتولة) بكسر التاء وفتح الواو كعنبة ما يحبب المرأة إلى الرجل من السحر (شرك) أي من الشرك سماها شركا لأن المتعارف منها في عهده ما كان معهودا في الجاهلية وكان مشتملا على ما يتضمن الشرك أو لأن اتخاذها يدل على اعتقاد تأثيرها ويفضي إلى الشرك ذكره القاضي وقال الطيبي رحمه الله المراد بالشرك اعتقاد أن ذلك سبب قوي وله تأثير وذلك ينافي التوكل والانخراط في زمرة الذين لا يسترقون ولا يتطيرون وعلى ربهم يتوكلون لأن العرب كانت تعتقد تأثيرها وتقصد بها دفع المقادير المكتوبة عليهم فطلبوا دفع الأذى من غير الله تعالى وهكذا كان اعتقاد الجاهلية فلا يدخل في ذلك ما كان بأسماء الله وكلامه ولا من علقها تبركا بذكر الله عالما أنه لا كاشف إلا الله فلا بأس به


Bahwasannya “Ruqyah” atau jampi-jampi/Jimat yang didalamnya tidak mengandung pengertian kecuali berlindung dengan al qur’an atau sejenisnya, maka hal tersebut adalah perkara yang terpuji. Adapun Tamimah yang ashalnya adalah manik-manik yang oleh orang Arab dikalungkan dikepala seorang anak untuk menolak penyakit ‘Ain…… dst… sampai pada penjelasan beliau :

Tidak termasuk dalam masalah ini (yang musyrik dan dilarang) Jimat yang didalamnya terdapat Asma Allah dan firman-Nya, dan juga orang yang mengalungkannya dengan tujuan “Tabarruk” dengan disebutnya Asma Allah di dalamnya, dan ia meyakini bahwa tiada yang dapat memberi jalan keluar kecuali Allah, maka yang demikian tidak mengapa “. (Faidhul Qodiir, vol. 2, hlm. 434)

Al Hafizh Al Bayhaqi dalam As Sunan Al Kubro

والقول فيما يكره من النشرة وفيما لا يكره كالقول في الرقية وقد ذكرناه


Pembahasan tentang hukum “Nusyroh” (Jimat untuk menyembuhkan dari gangguan jin) yang makruh dan yang tidak makruh sama dengan ruqyah” (As Sunan Al Kubro, 9/351)

Al Imam As Syafi’iy dan Ruqyah

الربيع قال : سألت الشافعي عن الرقية فقال لا بأس أن يرقي الرجل بكتاب الله وما يعرف من ذكر الله

Ar Robi’ berkata : “Aku bertanya kepada Imam As Syafi’iy tentang Ruqyah, maka beliau menjawab : “Tidak mengapa jika seseorang me-Ruqyah/jampi-jampi dengan kitab Allah dan perkara yang diketahui sebagai dzikir kepada Allah” (As Sunan Al Kubro Lil Bayhaqi, 9/349)

Al Imam Ahmad dan Tamimah

رأيت على ابن أحمد وهو صغير تميمة في رقبته في أديم. وفعله الإمام أحمد بنفسه كما في مسائل عبد الله: 3/1345، ومناقب الإمام أحمد: 242 لابن الجوزي، وبدائع الفوائد: 165.


Aku melihat putra Imam Ahmad sewaktu masih kecil dilehernya dikalungkan Tamimah dari kulit. Dan Imam Ahmad melakukannya sendiri, sebagaimana dalam Masail Abdullah Ibn Ahmad, 3/1354, Manaqib Imam Ahmad, 242. Badai’ul Fawaaid, 165. (Ta’liq Masailul Imam Ahmad Wa Ishaq Ibn Rohuyah, 9/4712)
Kajian Masalah Jimat dan Rajah, Inilah Kesimpulannya

Selain “Tiwalah” (Pengasihan) hukumnya boleh dengan catatan :

- Berisi ayat-ayat Allah atau Asma Allah, dan atau tidak berisi perkara yang tidak dapat dimengerti maksudnya.
- Tetap meyakini bahwa jimat-jimat/Ruqyah/Tamimah/Nusyroh tersebut hanyalah media Tabarruk dengan ayat-ayat Allah atau Asma Allah, sedang pemberi kesembuhan dan atau penolak bahaya hanyalah Allah tiada sekutu bagi-Nya.

Penulis berharap kepada segenap pendakwah Islam, hendaknya memahami permasalahan yang ingin disampaikan… jangan sampai kecerobohan dan kebodohan kita menjadi fitnah bagi Islam dan Ummat Islam itu sendiri… Ingatlah wanti-wanti Nabi Mulia tentang tanda akhir Zaman :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا


Dari Abdillah Ibn Amr Ibn ‘Ash, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah –shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak mengambil ilmu dengan mencabut dari (dada) para hamba-Nya, akan tetapi Allah akan mengambil ilmu dengan cara mewafatkan para Ulama hingga tak tersisa seorang alimpun. (ketika itu) manusia akan mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin (panutan), ketika mereka ditanya maka mereka akan berfatwa tanpa ilmu, maka (akibatnya) mereka tersesat dan menyesatkan”. (HR. Al Bukhori)

Semoga Allah senantiasa mencurahkan rahmat-Nya serta senantiasa memberikan bimbingan kepada kita semua….

Wallohu A’lam,

Al-Quran Diterjemahkan Maka Balagohnya Hilang

http://www.islam-institute.com/wp-content/uploads/2015/04/Gus-Mus-MUI-Itu-Sebenarnya-Makhluk-Apa.jpg

Gus Mus: Kalau Al-Quran Diterjemahkan Maka Balagohnya Hilang

Gus Mus: Sebenarnya MUI Itu Makhluk Apa?

Gus Mus - Semarang - Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Ahmad Mustofa Bisri, mempertanyakan keberadaan MUI (Majelis Ulama Indonesia). Menurut Gus Mus—panggilan akrab Mustofa Bisri, hingga kini status keberadaan MUI tidak jelas. Padahal MUI mengatasnamakan diri sebagai ulama.

"MUI itu sebenarnya makhluk apa? Enggak pernah dijelaskan. Ujuk-ujuk (tiba-tiba) dijadikan lembaga fatwa, aneh sekali," kata Gus Mus dalam pengajian dalam rangka ulang tahun unit kegiatan mahasiswa di kampus III Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang, Senin malam, 30 Maret 2015.

Di hadapan ratusan hadirin, Gus Mus mempertanyakan sebenarnya apa status MUI. Ia pun bertanya kepada para hadirin, "Itu MUI makhluk apa? Instansi pemerintah? Ormas? Orsospol? Lembaga pemerintahankah? Tidak jelas, kan? Tapi ada anggaran APBN. Ini jadi bingungi (membingungkan)."

Menurut Gus Mus, penggunaan nama ulama bisa disalahgunakan. Di MUI, kata dia, asal bisa jadi pengurus MUI maka akan disebut sebagai ulama, meski hanya menjadi sekretaris maupun juru tulis. "Ya, juru tulis itu akan disebut ulama. Mosok pengurus majelis ulama tidak ulama," kata Gus Mus, yang disambut tawa para hadirin.

Gus Mus Tidak Setuju Jika Ayat-ayat Al-Quran Diterjemahkan


Gus Mus juga resah terhadap penyematan panggilan ustad untuk orang yang sebenarnya belum layak. Ia mencontohkan ada seseorang yang hanya paham satu ayat sudah disebut ustad. "Kalau sudah pernah tampil di TV adalah ustad. Asal pinter jubahan meski kelakuane (kelakuannya) preman," kata Gus Mus.

Gus Mus menambahkan, melakukan dakwah tidak bisa hanya dengan memahami satu potong ayat Al-Quran. Maka, Gus Mus menyatakan tidak setuju jika ayat-ayat Al-Quran diterjemahkan. Anehnya, penerjemahan Al-Quran dimulai oleh Kementerian Agama.

"Kalau Al-Quran diterjemahkan maka balagohnya hilang," kata Gus Mus. Menurut Gus Mus, banyak orang yang memaknai Al-Quran hanya melalui terjemahan ayat per ayat sehingga yang disampaikan cenderung salah kaprah.

Bagaimana Hukum Membaca bismillah dalam shalat?

Jawab :
Dalam hal ini Ulama berbeda pendapat sebagian mengatakan bahwa Bismillah adalah bagian dari surat Al fatihah maka menurut mereka awal surat al fatihah adalah bismillah.

Sebagian lagi berpendapat bahwa Bismillah bukan termasuk bagian dari surat Al Fatihah maka menurut mereka permulaan surat Al Fatiah adalah Al hamdulillahi Robbil alamin .

Perbedaan ini ada sangkut pautnya dengan sah tidaknya sholat seorang Imam atau yang lainnya jika meninggalkan Bismillahir rohmanir rohim dalam bacaan fatihah di dalam shalat .

Menurut pendapat yang dikukuhkan didalam mazham Imam Syafei maka sholatnya Imam yang tidak membaca bismillah adalah tidak sah begitu juga makmum yang mengikutinya (Al Ibroh bi ‘idiqodil makmumi laa bi ‘idiqodil imam.).

Dan pendapat yang kedua yang boleh dambil dalam saat-saat tertentu, yaitu jika memang menurut Imam tersebut adalah sah maka makmum juga sah untuk mengikutinya (Al Ibroh bi ‘idiqodil imami laa bi ‘idiqodil makmum).

Bagi yg berpendapat Bismillah bukan bagian dari Surat Al Fatihah maka tidak membaca Bismillah pun tidak membatalkan sholat dan ini adalah pendapat yang dikukuhkan dalam madzhab Imam Malik dan sebagian Riwayat dari Imam Ahmad bin Hambal.

Hanya yang perlu diketahui agar kita semakin bijak didalam bermasyarakat khususnya didalam melihat perbedaan-perbedaan yang muncul saat ini, maka jangan sampai membuat keanehan didalam masyarakat.
Jika seandainya Anda adalah seorang yang mengikuti mazhab Imam Malik yang tidak mewajibkan bismillah .
Disaat Anda menjadi Imamnya orang yang bermazdhab Syafei maka alangkah bijaknya bila Anda masih menjaga Bismillah untuk memberikan ketenangan kepada para makmum.

Sebab yang harus kita pahami bahwa

JIKA Anda TIDAK MEMBACA BISMILLAH ADA ULAMA YG MENGATAKAN SHOLAT Anda TIDAK SAH,
AKAN TETAPI JIKA Anda MEMBACA BISMILLAH TIDAK ADA SATU ULAMA PUN YANG MENGATAKAN SHOLAT Anda TIDAK SAH.

Penjelasan disini Klick >>  Ketika Imam Berbeda Madzhab Dengan Makmum


Bermakmum dengan imam yang tidak mewajibkan Basmalah

PERTANYAAN :
Assalamu alaikum.
Mau tanya Bileh kah kita ma'mum pada imam yg tidak mewajibkan membaca basmalah padasurat fatihah?

JAWABAN :
wa alaykumussalaam...
Sah solatnya.
Dan mungkin dia baca cuman sirr. Atau juga dia yaqin imam tidak baca basmalah maka tetep sah :
Dengan mengambil qaidah (al ibroh bi aqidatil imam)

 المجموع  ج ٤  ص ٢٨٩

ﻭﻟﻮ ﺻﻠﻰ اﻟﺤﻨﻔﻲ على ﻭﺟﻪ ﻻ ﻳﻌﺘﻘﺪﻩ ﻭاﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﻳﻌﺘﻘﺪﻩ ﺑﺄﻥ اﺣﺘﺠﻢ ﺃﻭ اﻓﺘﺼﺪ ﻭﺻﻠﻰ ﺻﺢ اﻻﻗﺘﺪاء ﻋﻨﺪ اﻟﺠﻤﻬﻮﺭ ﻭﺧﺎﻟﻔﻬﻢ اﻟﻘﻔﺎﻝ ﻭﻗﺎﻝ اﻷﻭﺩﻧﻲ ﻭاﻟﺤﻠﻴﻤﻲ اﻻﻣﺎﻣﺎﻥ اﻟﺠﻠﻴﻼﻥ ﻣﻦ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ ﻟﻮ اﻡ ﻭﻟﻲ اﻷﻣﺮ ﺃﻭ ﻧﺎﺋﺒﻪ ﻭﺗﺮﻙ اﻟﺒﺴﻤﻠﺔ ﻭاﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻳﺮﻯ ﻭﺟﻮﺑﻬﺎ ﺻﺤﺖ ﺻﻼﺗﻪ ﺧﻠﻔﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻛﺎﻥ ﺃﻭ ﻧﺎﺳﻴﺎ ﻭﻟﻴﺲ ﻟﻪ اﻟﻤﻔﺎﺭﻗﺔ ﻟﻤﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ اﻟﻔﺘﻨﺔ ﻭﻗﺎﻝ اﻟﺮاﻓﻌﻲ ﻭﻫﺬا ﺣﺴﻦ

تحفة المحتاج ج ٢ ص ٢٨١

ﻭﻟﻮ ﺷﻚ ﺷﺎﻓﻌﻲ ﻓﻲ ﺇﺗﻴﺎﻥ اﻟﻤﺨﺎﻟﻒ ﺑﺎﻟﻮاﺟﺒﺎﺕ ﻋﻨﺪ اﻟﻤﺄﻣﻮﻡ ﻟﻢ ﻳﺆﺛﺮ ﻓﻲ ﺻﺤﺔ اﻻﻗﺘﺪاء ﺑﻪ ﺗﺤﺴﻴﻨﺎ ﻟﻠﻈﻦ ﺑﻪ ﻓﻲ ﺗﻮﻗﻲ اﻟﺨﻼﻑ .

شرح الياقوت النفيس ص ٢١١

و لو تيقن أنه لم يقرأ البسملة حمله القول الذي يقول العبرة بعقيدة الإمام و هو قول قوي عندنا


Wallaahu a'lam.


Terkait :

Kyai kampung VS aktivis cingkrang



Inilah kisah kiai kampung.
Kebetulan kiai kampung ini menjadi imam musholla dan sekaligus pengurus ranting NU di desanya. Suatu ketika didatangi seorang tamu, mengaku aktifis Cingkrang, karena lulusan pesantren modern dan pernah mengenyam pendidikan di Timur Tengah. Tamu itu begitu PD (Percaya Diri), karena merasa mendapat legitimasi akademik, plus telah belajar Islam di tempat asalnya. Sedang yang dihadapi hanya kiai kampung, yang lulusan pesantren salaf.

Tentu saja, tujuan utama tamu itu mendatangi kiai untuk mengajak debat dan berdiskusi seputar persoalan keagamaan kiai. Aktifis Cingkrang ini langsung menyerang sang kiai: “Sudahlah Kiai tinggalkan kitab-kitab kuning (turats) itu, karena itu hanya karangan ulama kok. Kembali saja kepada al-Qur’an dan hadits,” ujar santri itu dengan nada menantang. Belum sempat menjawab, kiai kampung itu dicecar dengan pertanyaan berikutnya. “Mengapa kiai kalau dzikir kok dengan suara keras dan pakai menggoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan segala. Kan itu semua tidak pernah terjadi pada jaman nabi dan berarti itu perbuatan bid’ah,” kilahnya dengan nada yakin dan semangat.

Mendapat ceceran pertanyaan, kiai kampung tak langsung reaksioner. Malah sang kiai mendengarkan dengan penuh perhatian dan tak langsung menanggapi. Malah kiai itu menyuruh anaknya mengambil termos dan gelas.

Kiai tersebut kemudian mempersilahkan minum, tamu tersebut kemudian menuangkan air ke dalam gelas. Lalu kiai bertanya: “Kok tidak langsung diminum dari termos saja. Mengapa dituang ke gelas dulu?,” tanya kiai santai. Kemudian tamu itu menjawab: Ya ini agar lebih mudah minumnya kiai,” jawab aktifis cingkrang ini. Kiai pun memberi penjelasan: “Itulah jawabannya mengapa kami tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits. Kami menggunakan kitab-kitab kuning yang mu’tabar, karena kami mengetahui bahwa kitab-kitab mu’tabarah adalah diambil dari al-Qur’an dan hadits, sehingga kami yang awam ini lebih gampang mengamalkan wahyu, sebagaimana apa yang engkau lakukan menggunakan gelas agar lebih mudah minumnya, bukankah begitu?”. Tamu tersebut terdiam tak berkutik.

Kemudian kiai balik bertanya: “Apakah adik hafal al-Qur’an dan sejauhmana pemahaman adik tentang al-Qur’an? Berapa ribu adik hafal hadits? Kalau dibandingkan dengan ‘Imam Syafi’iy siapa yang lebih alim?” aktifis ini menjawab: Ya tentu ‘Imam Syafi’iy kiai sebab beliau sejak kecil telah hafal al-Qur’an, beliau juga banyak mengerti dan hafal ribuan hadits, bahkan umur 17 beliau telah menjadi guru besar dan mufti,” jawab aktifis. Kiai menimpali: “Itulah sebabnya mengapa saya harus bermadzhab pada ‘Imam Syafi’iy, karena saya percaya pemahaman Imam Syafi’iy tentang al-Qur’an dan hadits jauh lebih mendalam dibanding kita, bukankah begitu?,” tanya kiai. “Ya kiai,” jawab aktifis.

Kiai kemudian bertanya kepada tamunya tersebut: “Terus selama ini orang-orang awam tatacara ibadahnya mengikuti siapa jika menolak madzhab, sedangkan mereka banyak yang tidak bisa membaca al-Qur’an apalagi memahami?,” tanya kiai. aktifis menjawab: “Kan ada lembaga majelis yang memberi fatwa yang mengeluarkan hukum-hukum dan masyarakat awam mengikuti keputusan tersebut,” jelas aktifis.

Kemudian kiai bertanya balik: “Kira-kira menurut adik lebih alim mana anggota majelis fatwa tersebut dengan Imam Syafi’iy ya?.”. Jawab aktifis: “Ya tentu alim Imam Syafi’iy kiai,” jawabnya singkat. Kiai kembali menjawab: “Itulah sebabnya kami bermadzhab ‘Imam Syafi’iy dan tidak langsung mengambil dari al-Qur’an dan hadits,”.” Oh begitu masuk akal juga ya kiai!!,” jawab aktifis.
Tamu yang lulusan Timur Tengah itu setelah tidak berkutik dengan kiai kampung, akhirnya minta ijin untuk pulang dan kiai itu mengantarkan sampai pintu pagar.

Fitnah syi'ah kepada sahabat Umar r.a






Gimana gak diperangi sodara, ajaran aliran ini selalu mencela Sahabat karib Rasulullah! Syiah = Agama Bejat!
Buat pengetahuan kita agar hati-hati saudara.

Syiahindonesia.com - Tidak henti-hentinya para pemeluk agama Syi’ah mencela para shahabat Rasululllah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Ribuan celaan dan hinaan mereka lontarkan kepada para shahabat radhiyallaahu ‘anhum karena memang yang demikian merupakan bagian dari ‘aqidah mereka. Dengan demikian, tak heran apabila dari kalangan ulama hingga pengikutnya, mulut-mulut mereka tidak lepas dari kata-kata kotor terhadap para shahabat radhiyallaahu ‘anhum.

Diantara hinaan dan celaan mereka tersebut adalah sebagaimana oleh dedengkot mereka yakni Hasan bin Sulaiman Al-Hilliy yang berkata dalam kitabnya Al-Muhtadhar hal. 102 mengenai ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu seperti berikut :

وقد أجمعت الشيعة الإمامية على أنه ولد زنا

“Syi’ah Imamiyyah telah sepakat bahwasanya dia (‘Umar) adalah anak zina.”

Dan dalam footnotenya yaitu oleh pentahqiq (‘Ali Asyraf) menambahkan keterangan dari dedengkot Syi’ah busuk lainnya :

 قال الشيخ يوسف البحراني (رحمه الله) في الحدائق الناضرة: ٢٣ / ٢٥: «فانه لا خلاف نصا وفتوى في كونه - يعني عمر - ابن زنا...

“Asy-Syaikh Yusuf Al-Bahraniy berkata dalam Al-Hadaaiq An-Naadhirah (23/25) : “Sesungguhnya tidak ada perbedaan pada nash dan fatwa mengenainya yakni ‘Umar bahwasanya dia adalah anak zina...”

Scan page:


 Ssuber link : http://www.syiahindonesia.com/2015/04/fakta-syiah-sebut-umar-ra-sebagai-anak-zina.html